Monday, February 27, 2012

Review Novel Metropop: Divoritare (by Ika Natassa)

jadi tadi itu aku baruu aja berangkat sekolah, baru aja markir sepeda ada yang frontal ngomong gini:
her: "lin, aku dah baca novelnya.."
me: "udah??"
her: "jelek ceritanya, monoton"

waduh! you know..? aku sebenernya sebel bikin orang kecewa sama rekomendasiku. Waktu dia ngomong gitu, jadi mak 'jleb' gitu deeh. Tanya kenapa? yaaa.. soalnya aku justru suka banget sama novel itu, eh dia malah ngemeng begonoooh..  Tapi aku gak bisa nyalahin juga sih. Toh, tiap orang kan seleranya beda-beda, walaupun aku sebenernya cukup yakin seleraku sama dia itu sama. Tapi emang gak heran, orang waktu dia nunjukin salah satu novel aku juga nggak seantusias dia bacanya. Yep, nggak semua yang kita suka harus sama seperti yang dia suka..

Tau novel apa yang dibilang se-frontal itu. Emh.. sebenernya sih aku lebih berharap dia komennya nggak langsung frontal gitu, tapi tersirat dikit lah. Jadi aku nggak langsung ngerasa bersalah dong minjemin novelnya ke dia. Biasanya juga kalo aku nggak suka sama novel yang dia suka, biasanya aku ngomong "yaah lumayan","bagus sih, tapi masih bagusan yang..blabla",atau nekat pingin bikin dia seneng jadi ngomong "bagus kokk bagus bagus"

udah deh ya.. gausah kebanyakan basa-basi. hari ini aku mau review my new favorite novel karangan IKA NATASSA

"DIVORIARE"



Commitment is a funny thing, you know? It's almost like getting a tattoo. You think and you think and you think and you think before you get one. And once you get one, it sticks to you hard and deep. 

"Jadi lebih penting punya Furla baru daripada ngilangin nama mantan laki lo dari dada lo?" 
Pernah melihat Red Dragon? Aku masih ingat satu adegan saat Hannibal Lecter yang diperankan Anthony Hopkins melihat bekas luka peluru di dada detektif Will Graham (Edward Norton), dan berkata, "Our scar has a way to remind us that the past is real." 

Tapi kemudian mungkin kita tiba di satu titik ketika yang ada hanya kebencian luar biasa ketika melihat tato itu, and all you wanna do is get rid of it. So then you did. 

Alexandra, 27 tahun, workaholic banker penikmat hidup yang seharusnya punya masa depan cerah. Harusnya. Sampai ia bercerai dan merasa dirinya damaged good. Percaya bahwa kita hanya bisa disakiti oleh orang yang kita cintai, jadi membenci selalu jadi pilihan yang benar. 

Little did she know that fate has a way of changing just when she doesn't want it to.
This is My Comment:
satu lagi novel yang bener-bener bisa menarik perhatianku dan lagi-lagi genre novel ini adalah metropop. Kalo sebelumnya aku selalu bahas tentang penulis favoritku yaitu AliaZalea, dan Ilana Tan, maka sekarang aku tambah lagi yaitu Ika Natassa..

Yang bikin aku suka sama novel ini adalah, satu, karena bahasanya bener-bener asik dan mudah dipahami. Meskipun terdapat banyak sekali kalimat bahasa inggris disana sini, tapi well.. aku bener-bener menikmati dan bisa mengikuti alurnya sampai akhir. Kisah tentang seorang wanita berumur 27 tahun, dan seorang pria berumur 37 tahun tentu saja buat aku yang disini notabennya berumur -17 tahun, jadi mikir mereka itu tante tente dan om-om.. atau well, umur pria di novel itu malah lebih tua dari umur ibukku sendiri.. hehe *she is married in 18th*, dan itu sempet jadi kendala waktu aku lagi hunting metropop dan langsung sliwer aja setelah baca sinopsis nih buku, trus langsung aku tinggal gara2 umur tokohnya itu *tanpa tau kalo ternyata buku ini cukup jadi favorit ya dan kebingungan waktu ternyata nyari lagi bukunya udah hilang dari peradaban di rental tersebut*. Kedua, karena novel ini udah ada endingnya. Kenapa? karena hampir semua novel Ika bau-baunya nge-gantung endingnya dan bikin karena kurang "ngeh". Aku sih tau aja kalo itu emang cara si penulis bikin ending tapi kalo aku sih dasarnya emang nggak suka sama ending-ending yang ngegantung..

Makannya, waktu aku tau kalo si tokoh itu nerusin ceritanya yang sempet gantung itu dalam sebuah twitter dan katanya udah dibuat novel, baru deh aku berminat baca buku pertamanya cuma karena penasaran sama basic cerita di twitter tersebut..

Dan ketiga, ada tokoh2 yang disebutin di twitter dan aku nggak tahu, jadi ya balik ke nomer dua, banyak yang bikin aku penasaran tentang tokoh2 yang sering di sebutin di twitternya @alexandrarheaw sehingga harus baca buku pertama..

Oke, balik ke review..
Pokoknya, baca novel ini nggak kerasa dan malah nggak kepikiran kalo tokohnya itu udah hampir kepala 3 dan 4 karena percakapannya bener-bener meremaja dan enak banget diikuti. Penggambaran tokoh di kepala kita seakan jadi lebih sempurna daripada sosok2 berumur sama yang sering kita temui di kehidupan nyata. Well, aku menikmati imajinasi itu dan mengusir seluruh sosok laki laki dan perempuan berumur yang sama seperti tokoh di novel, karena dengan begitu aku bisa ngegambarin sosok2 baru dalam kepalaku.. Itu juga jadi kelebihan Ika Natassa sehingga buku ini bisa tetap dinikmati oleh kalangan remaja.. hehe.. walaupun mungkin harusnya untuk usia dewasa..

Untuk kelemahannya sih, mungkin bener kata temenku. Dinamika menuju konflik dan menuju klimaksnya nggak terlalu berasa dan hampir terkesan monoton. Yah, mungkin karena tema yang diambil adalah perceraian dan tentang si tokoh yang nggak bisa ngelupain mantan suaminya, sehingga pertemuan dengan si pacar baru selalu terlalaikan dengan masa lalu dan selalu itu terus yang dibahas. Selalu melakukan flashback juga sehingga konflik-konflik dan cerita menuju klimaksnya kurang berasa. Itu cuma komentarku sebagai reader sih ya.. Dan endingnya yang kurang nenangin karena walaupun dah ketauan ama siapa tapi kurang lengkap, untung sih ada lanjutannya jadi aku lebih lega.

Hanya saja, untuk penggambaran sosok si Alex dengan perasaannya yang mendalam terhadap mantan suami berhasil bikin emosi kita ikut terombang-ambing kok. Dan aku suka banget part-part dimana Alex bertemu dengan Beno-si mantan dan mereka bertengkar meskipun untuk hal kecil tapi cukup bikin aku deg-degan, terharu, dan well.. Ika Natassa memang cerdas dalam memainkan satu suasana atau katakanlah untuk satu adegan. Apasih yaa.. mungkin kalo menuju konflik dan menuju klimaksnya emang kurang berasa, tapi suasananya bener-bener kerasa nyata seolah olah kita ini adalah sosok Alex. Sehingga ketika dia merasa sedih, merasa gundah, merasa terharu, merasa berbunga-bunga, aku bisa ikut tenggelam dan ketika alex ingin menangis karena ulah Beno atau khawatirnya dia terhadap Beno atau khawatirnya Beno terhadap Alex kadang bikin aku ngerasa kalo romantisnya mereka itu unik, dan aku suka sama karakter tokoh-tokoh yang Ika Natassa ciptakan..

Overall, menurutku sih bagus kok ceritanya, menarik dan emang manusia itu kan nggak ada yang sempurna. Jadi meskipun terdapat kelemahan, tuh permainan emosi yang Ika Natassa bisa nutupin itu, dan aku hampir nggak kepikiran tentang monotonnya karena menurutku walaupun klimaks hampir nggak kerasa, tapi setiap konflik bisa dibumbui dengan cerdas...

Well, aku juga tetep gak akan berhenti buat nabung untuk bisa beli novel Ika yang kedua. So, doain aja ya ayahku mau transferin uangnya, hehe.. habis kisah mereka itu jujur aja bikin Kepo. Entah temenku itu memahaminya gimana biarkanlah saja, toh ini seleraku, iya kan?


Salam, ADLN_haezh