Thursday, March 21, 2013

Review Novel: The Devil in Black Jeans


The Devil in Black Jeans
The Devil in Black Jeans by aliaZalea

My rating: 3 of 5 stars



Setelah dipikir-pikir lama-lama aku selalu beli bukunya AliaZalea bukan lagi karena yakin aku bakal suka sama ceritanya tapi emang dasarnya udah jatuh cinta sama tulisan Alia, jadi apapun bukunya kalo itu baru keluar aku pasti penasaran dan mengabaikan buku lainnya dan langsung beli deh.
*duh, kenapa gak penting gini ya?*

Kali ini reviewku mungkin nggak akan terlalu memuji-muji tulisan Alia kayak sebelumnya karena aku udah baca hampir semua bukunya dan semakin lama itu membuatku jadi mudah membandingkan tulisan Alia dari yang dulu sampai sekarang. Dan karena itu pula aku jadi semakin melihat perkembangan yang dihasilkan dari tulisan-tulisan Alia. Pada dasarnya aku selalu suka sama segala cerita yang dituangkan dalam buku-bukunya dia, karena seperti yang aku bilang, bahwa ia adalah penulis favoritku. Dan aku akui bahwa novelnya Alia SELALU bagus. Karena buktinya aku selalu beli dan selalu penasaran sama ide dia berikutnya. Aku juga sebenernya cukup suka sama pembawaan karakter-karakter di setiap bukunya. Sayangnya, entah kenapa aku malah ngerasa perkembangan cerita-cerita di buku Alia malah semakin menurun, termasuk di buku ini. Itu bukan berarti aku nggak suka, karena kalo temen-temen baru baca buku Alia mulai darisini juga mungkin langsung kejer-kejer ketagihan, tapi ini pandanganku aja yang ngikutin perkembangan novelnya.

Friday, March 8, 2013

[ Resensi Novel ] Partikel - Dewi Lestari (Dee)

 


Setelah mengurung diri di blogku yang satunya dalam jangka waktu yaaaang terhitung lama, akhirnya aku memutuskan untuk mengisi blog ku  ini dengan sedikit resensiku. Well, belakangan aku sedang hobi membaca buku, terutama novel. Yang pertama dulu aku di pinjemin novel berjudul 'Veronika Memutuskan Mati' karangan Paul... Coehl atau apa lah, lupa. Dan yang kedua novel berjudul 'Mahboba's Promise' yang isinya full bahasa Inggris semua. Pada dasarnya kedua buku itu bagus semua, dan jujur aja aku juga tertarik buat bikin reviewnya. Hanya saja, pada saat ini aku belum tergerak untuk menuliskannya. Dan terakhir ini aku dipinjami buku sama temenku yang judulnya Partikel karangan 'Dee' and after reading it, I felt so interest to give my comment about it. I think Dee will be my next favorite author whwhehhehehe.. So, here my review..


Sinopsis:
Di pinggir Kota Bogor, dekat sebuah kampung bernama Batu Luhur, seorang anak bernama Zarah, dan adiknya, Hara, dibesarkan secara tidak konvensional oleh ayahnya, dosen sekaligus ahli mikologi bernama Firas. Cara Firas mendidik anak-anaknya mengundang pertentangan dari keluarganya sendiri.

Di balik itu semua, masih tersimpan berlapis misteri, di antaranya hubungan  sebuah tempat angker yang ditakuti warga kampung. Tragedi demi tragedi yang menimpa keluarganya akhirnya membawa Zarah ke sebuah pelarian sekaligus pencarian panjang.

Di konservasi orang utan Tanjung Puting, Zarah menemukan keluarga baru dan kedekatannya kembali dengan alam. Namun, bakat fotografinya membawa Zarah lebih jauh dari yang ia duga. Di London, tempat Zarah akhirnya bermarkas, ia menemukan segalanya. Cinta, persahabatan, pengkhianatan. Termasuk petunjuk penting yang membawa titik terang bagi pencariannya.

Sementara itu, di Kota Bandung, Elektra dan Bodhi akhirnya bertemu. Secara bersamaan, keduanya mulai mengingat siapa diri mereka sesungguhnya.

Review:
Buku ini adalah buku ke empat karangan Dee dari kelima bukunya yang berjudul Partikel. Kalau untuk saat ini sih, Partikel masih menjadi buku terakhir karena buku kelima dan keenamnya belum di terbitkan. Walaupun begitu, aku penasarannyaaaa setengah mati. Penasaran sama buku Dee sejak lama, sejak Perahu Kertas muncul tapi jadinya aku malah kecekok sama filmnya gara-gara nggak dapet bukunya. Penyakitku yang kalo habis nonton filmnya males baca bukunya jadi kumat, padahal aku yakin novelnya pasti jauh lebih baik, karena  aku nggak terlalu suka sama filmya.

Partikel ini aku dapet dari temenku, dan setelah sekian lamanya akhirnya aku kembali dipinjami buku berat setelah yang terakhir adalah Tetraloginya Laskar Pelangi. Untungnya sejak aku baca novelnya Laskar Pelangi yang 'karena terpaksa' tapi keterusan jadi aku nggak menutup diri untuk membaca novel-novel yang tidak terlalu membahas soal cinta. Sebernya aku pingin baca novel roman lagi sih, cuma kemaren berhasil kecekok sama novel Psikologi, jadi aku nggak terlalu bersikeras sama novel roman untuk saat ini. Lagian belakangan emang nggak ada stok yang bagus.

Oke, balik lagi ke Partikel.Well, novel ini berhasil bikin aku jatuh cinta sama Dee, penulisnya. Ini buku keempat dia dan aku bersyukur aku langsung di pinjami  buku keempat ini, karena daripada buku yang lainnya, ternyata Partikel adalah yang paling matang. Hal yang paling aku suka adalah beberapa informasi dan pengetahuan yang awalnya bikin mikir antara sungguhan atau tidak, yang bikin aku niat browsing, dan waktu aku tahu ternyata informasi yang ditulis hampir sebagian besar sungguhan, aku jadi tambah suka.
Novel ini fiksi, tapi sama kayak Laskar Pelangi, kelihatannya semua penulis novel berat di Indonesia kalo bikin fiksi yang ada pengetahuannya itu beneran 'ada' dan nggak asal imajinasi. And I love it so much. Itu bikin aku yang nggak suka belajar jadi secara nggak langsung belajar. It's brilliant idea.

Terus, kata-kata yang dipakai memang cukup berat. Kalau aku anak SMP, aku pasti males banget ngikutin obrolan yang bikin mikir gitu, tapi aku bacanya enjoy banget. Kata-kata Dee itu enaaak banget di bacanya, dan setiap kata-kata selalu ada misteri jadi nggak pernah gitu bikin berhenti baca. Selain itu, karakter yang di bangun oleh Dee, aku juga suka banget. Karakter cewek yang hampir mendewakan sang ayah, cewek jenius dimana pelajaran sekolahpun nggak cocok untuknya, tapi nggak percaya tuhan, dan dia percaya bahwa semua tumbuhan adalah hidup dalam arti sebenarnya.

Karakter Zarah diceritakan dari ia masih kecil sekali sampai dewasa. Kalau Dee langsung menceritakan Zarah di usia dewasa dengan karakter seperti itu, bisa saja aku sebal dengan Zarah, dan iri karena kecerdaasan otaknya. Tapi Dee menceritakan si Zarah ini sejak lahir. Dee menceritakan bagaimana Zarah berkembang dan bagaimana ia punya mental dan otak seperti itu. Pada dasarnya Zarah hanya anak biasa yang kemudian menjadi luar biasa karena didikan sang ayah. Zarah punya rasa takut yang akhirnya lenyap karena sang Ayah. Perah Ayah bagi Zarah adalah buminya yang dimana dia sulit berpijak tanpanya. Tapi pada akhirnya, diceritakan bahwa sang Ayah tiba-tiba menghilang tanpa kabar, meninggalkan jurnal-jurnal penuh misteri, dan dimulailah pencarian Zarah yang akhirnya membawanya hampir keliling dunia.

Cerita dari buku ini memang lebih dominan ke arah pencarian sang Ayah, tapi cerita persahabatan dan cinta yang pupus juga dihadirkan Dee sebagai bumbu yang membuat novel ini menjadi semakin menyenangkan. Zarah terus berkembang dengan emosi-emosi yang datang dan pergi, kebencian yang datang dan memudar, kehangatan yang menyelimutinya dan menanggalkannya. Well, buku ini memang bikin mikir, tapi menariknya luar biasa. Meski pada akhirnya sang Ayah masih tidak ada kejelasan, dan di akhir justru baru di ceritakan bahwa Zarah baru memulai pencariannya, tapi aku yakin buku selanjutnya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan kita yang masih berkecamuk. So, kelihatanya aku bakalan ngincer buku setelah ini dan di pastikan untuk membeli. This is really brilliant book. You should read them.