Review: Winter Tea Time

Winter Tea Time Winter Tea Time by Prisca Primasari
My rating: 5 of 5 stars



View all my reviews




Menyelesaikan novel ini seakan mengingatkanku kembali kenapa Prisca Primasari menjadi top author romance favoritku sejak pertama aku comeback ke dunia membaca fiksi ini. Gaya tulisannya, caranya meramu cerita dan karakter, meski tidak semuanya selalu menjadi favoritku, tapi tiap kali ada yang benar-benar jadi favoritku, kesannya akan menetap di hatiku. Seolah mudah sekali untuk menjelaskan mengapa aku memfavoritkan buku-buku ini. Dan winter tea time, adalah novel Prisca kedua setelah scarlett yang memberikan vibes fantasi, dan ini, AKU SUKA BANGET.

Ada beberapa tema yang diangkat dari novel ini:
- Fantasi Magical Realism
- Childhood to romance
- Family

Tapi lebih dari itu, novel ini memberikan makna tepat setelah aku menutup bukunya. Makna tentang waktu itu sendiri sangat menampar. Bersama Celia, bersama rasa frustasinya, kekecewaannya, kesedihannya, putus asanya, aku ikut belajar betapa seringkali kebahagiaan itu hanyalah tentang mengubah perspektif. Kita sering terlalu terobsesi untuk meletakkan emosi pada hal-hal yang di luar kontrol kita, dan memberi makan emosi itu dengan hal-hal negatif yang menyakiti hati kita, ketika sesungguhnya hal yang membuat kita bahagia di waktu yang sama, sesederhana, dan sedekat itu. Itu yang aku pelajari dari perjalanan Celia di tengah ia terus kembali ke waktu yang sama berkali-kali. Dan bagian-bagian ketika ia semakin menyadari bahwa hal-hal bermakna dan bahagia di hidupnya sesungguuhnya sedekat itu, aku berkali-kali dibuat berlianng air mata.

Novel ini tuh heartwarming banget. Relasi-relasi yang terjalin antara Celia dan orang-orang di sekitarnya terasa sangat amat menghangatkan hati. Ketika ia menyadari bahwa teman-temannya yang ia kira awalnya adalah sumber kebahagiaan ternyata justru memberi kecewa, dan ternyata keberadaan orang-orang yang selalu menjadi support systemnya justru adalah orang-orang yang justru menjadi sumber kebahagiaan sejati, aku seolah diajak untuk berkaca akan kehidupanku sendiri. Aku banyak terharu sih dibagian Celia menyadari hal-hal ini.

Meskipun temanya timeloop, dan jelas kita akan berekspektasi pada scene atau momen-momen yang berulang, tapi Prisca selalu berhasil membuat setiap perulangan adalah momen untuk tumbuh menjadi sosok yang lebih bijak dalam kehidupan. Mungkin di awal Celia melakukan segalanya demi bisa keluar dari timeloop itu sendiri, tapi semakin lama ia menyadari bahwa setiap usaha yang ia lakukan adalah pelajaran untuk kehidupannya sendiri. Dan tidak hanya itu, kita akan mendapati petualangan-petualangan seru dari bagaimana Celia mengambil keputusan baru di setiap perulangan yang ia alami. Novel ini bukan tipe yang memberikan plot twist di akhir, tetapi memberi  makna yang sangat dalam setelah kita akhirnya tahu kenapa Celia bisa terjebak dalam perulangan waktu, serta bagaimana caranya keluar dari perulangan itu.

Dari sisi fantasi mungkin untuk orang-orang yang logis, dan cukup realistis, memahami konsep timeloop itu sendiri akan sangat memusingkan. Apalagi kalau sudah mulai memikirkan apakah orang2 yang terlibat dalam timeloop Celia berada di waktu atau roda waktu yang sama apa berbeda? Tapi aku nggak terlalu memikirkan itu ya karena aku rasa aku akan kehilangan esensi story-nya kalau terlalu terpaku disana. Tapi di novel ini, kita akan bertemu dengan tokoh Hayden dimana dia cukup logis dan pintar, sehingga tetap akan ada penjelasan-penjelasan bagaimana waktu itu bisa melingkar walaupun hanya untuk 1% kemungkinan yang nyaris mustahil. Di sisi lain, aku suka sekali bagian dimana penulis 'memungkinkan' Celia mendapat bantuan sehingga ia bisa merasa tidak benar-benar sendiri dalam perulangan waktunya. Dan menurutku pendekatan itu cerdas.

Novel ini digerakkan oleh tokoh Ccelia sebagai tokoh utama yang mengalami perulangan waktu di ulang tahunnya ke 21 tahun entah berapa kali. Celia adalah gadis yang cukup imajinatif dan itu cukup membuatnya dipandang 'aneh' oleh teman-temannya. Di mata orang lain mungkin ia terkesan 'freak' tetapi sangat unik dan spesial di mata orang-orang yang benar-benar menyayangi dan mampu menghargainya. Dan itu bisa kita lihat dari bagaimana Hayden, sahabatnya, tidak pernah lelah untuk terus berada di samping Celia.

Karakter Hayden ini sendiri sangat mudah disukai. Greenflag tapi dia ini tipe yang tidak banyak bicara, kaku, tapi disisi lain juga jahil (atau mungkin ia hanya jahil kepada Celia). Kesannya kayak cuek tapi Hayden ternyata bisa LEMBUT BANGET hahaha. Mana dia itu ternyata tipe yang diam-diam melakukan, memutuskan sesuatu sambil memikirkan Celia. Tipe-tipe yang bakal memendam perasaan juga andai Celia tidak mengalami timeloop. Kayaknya di another universe bisa jadi Hayden ini jadi sadboy deh apalagi  kalau dia sampai hanya terjebak di friendzone sama Celia (huhu gakbakal tega sih aku). Soalnya dia tuh tipe yang akan memilih untuk memendam perasaannya daripada Celia marah dan pergi dari hidupnya. 

Romance disini tuh slowburn banget, tapi sangat padat karena halaman bukunya sendiri hanya 250an tapi aku suka banget. Segalanya berproses termasuk dalam hubungan Celia dan Hayden. Banyak what if yang muncul dan mungkin hubungan mereka akan berhenti pada mode 'friendzone' entah berapa tahun lamanya apabila timeloop ini tidak terjadi pada diri Celia. Dengan karakter Celia yang di awal sangat amat tidak peka dan fokusnya seringkali kurang pada tempatnya, kejadian yang menimpanya justru adalah hadiah terindah di ulang tahunnya sendiri. Karena dari situ ia bisa menyadari apa yang selama ini sudah ada tapi selalu terlewat karena ia sibuk melihat hal-hal lain. Termasuk keberadaan sahabat kecilnya yang ternyata sudah lama memandangnya bukan sekedar sebagai teman kecil. Romance disini tuh manisss banget dan buat aku tipe-tipe yang kayak disini emang cocok banget buat aku. Karena mereka berdua, dengan kedalaman karakter yang mereka miliki, serta perjuangan yang mereka jalani bersama di cerita ini, bagaimana keduanya saling terhubung, itu selaluuuu terharu.

Part family di cerita ini sebenarnya porsinya nggak begitu banyak, tapi cukup untuk memberikan makna dari keseluruhan kejadian yang dialami Celia sendiri. Dan meskipun bagian keluarga hanya hadir sedikit saja, itu pun berhasil membuatku meneteskan air mata juga. 

Overall novel ini memberikan kesan dan dampak emosi yang sangat kuat untukku pribadi dengan cara yang menyenangkan. Menurutku cukup page turner karena susaaah sekali aku menghentikan diriku untuk istirahat selama membaca cerita disini.  Kebutuhan emosionalku akan novel dengan campuran childhood romance, fantasi dan dengan halaman yang hanya 250an terpenuhi semua disini. Setiap bagian diceritakan dengan sangat efektif dan romance di novel ini dihadirkan dengan sangat on point. Slowburn yang terasa banget intensitasnya di titik-titik penting dari hubungan Celia dan Heyden. Novel ini menjadikan Celia dan Heyden ke jajaran karakter-karakter Prisca favoritku kedua setelah Frea dan Liquor, dan entahlah, tapi aku sepertinya akan merindukan kehadiran dua tokoh ini lagi. Aku bersyukur banget bisa ikut memaknai 'waktu' bersama Celia dalam perjalanannya mengulang waktu di cerita ini. Dan novel ini sendiri auto masuk ke deretan novel favoritku di tahun 2026. Aku happy sekali membaca novel ini!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Magic Of You by Johanna Lindsey (Malory-Anderson Family #4)

Review: Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990

Review: Critical Eleven - Ika Natassa