Review: The Little Prince

The Little Prince The Little Prince by Antoine de Saint-Exupéry
My rating: 4 of 5 stars


Membaca The Little Prince bagiku bukan pengalaman yang langsung “klik”. Justru sebaliknya—aku cukup sering merasa bingung. Namun di balik kebingungan itu, ada perasaan yang terus bertahan: buku ini terasa filosofis sekaligus imajinatif, dengan cara yang lembut dan tidak memaksa.

Sejak awal, novel ini menunjukkan jarak antara cara pandang orang dewasa dan anak-anak. Orang dewasa cenderung membutuhkan alasan, angka, dan fungsi untuk memahami sesuatu, sementara anak-anak melihat makna tanpa perlu penjelasan rumit. Kesenjangan ini tidak disampaikan dengan nada menghakimi, melainkan melalui pengalaman sederhana—seperti gambar yang selalu gagal dipahami, atau percakapan yang dianggap remeh oleh orang dewasa tetapi bermakna bagi anak-anak.

Seiring cerita berjalan, aku mulai menangkap bahwa perjalanan Little Prince ke berbagai planet bukan sekadar petualangan imajinatif, melainkan rangkaian pertemuan dengan orang-orang dewasa yang hidup dalam pola tertentu: kekuasaan, validasi, kepemilikan, pelarian, hingga kerja tanpa henti. Mereka melakukan hal-hal yang terlihat “dewasa” dan serius, namun justru terasa semakin rumit dan sulit dipahami dari sudut pandang seorang anak. Dalam hal ini, novel ini tidak sedang menertawakan orang dewasa, tetapi memperlihatkan bagaimana kedewasaan sering kali membuat hidup kehilangan kesederhanaannya.

Bagian yang paling aku nikmati adalah interaksi Little Prince dengan bunga. Meskipun secara logika orang dewasa bunga tentu tidak bisa berbicara, percakapan itu terasa hidup dan menyenangkan. Aku merasa seolah bagian anak-anak dalam diriku ikut hadir dan bersenang-senang di sana. Dunia Little Prince terasa hidup bukan karena harus diyakini secara realistis, tetapi karena relasinya terasa nyata.

Sebagai pembaca dewasa, aku akhirnya memaknai keberadaan Little Prince bukan semata-mata sebagai tokoh fantasi, melainkan sebagai representasi inner child—bagian diri yang masih mampu melihat, merasakan, dan memaknai hidup tanpa harus memperumit segalanya. Mungkin bagi anak-anak, buku ini adalah kisah petualangan yang imajinatif. Namun bagi orang dewasa, buku ini terasa seperti pengingat bahwa saat kita sendirian dengan diri sendiri, kita masih bisa mengakses bagian diri yang lebih jujur dan sederhana itu.

Di bagian akhir, perasaan sedih muncul dengan cara yang sunyi. Perpisahan antara narator dan Little Prince terasa seperti perpisahan dengan satu sisi diri yang lain. Bukan perpisahan yang dramatis, melainkan kehilangan yang tenang—dan justru karena itulah terasa menyentuh. Aku tidak membacanya sebagai akhir yang tragis, melainkan sebagai kesadaran bahwa dalam proses menjadi dewasa, ada bagian diri yang perlahan menjauh, meskipun tidak sepenuhnya hilang.

The Little Prince mungkin tidak selalu mudah dipahami secara logis, tetapi justru kekuatannya ada pada perasaan yang ditinggalkannya. Ia tidak menuntut pembacanya untuk mengerti segalanya, hanya mengajak untuk mengingat bahwa hidup pernah—dan mungkin masih bisa—dilihat dengan cara yang lebih sederhana.


View all my reviews

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Magic Of You by Johanna Lindsey (Malory-Anderson Family #4)

Review: Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990

Review: Critical Eleven - Ika Natassa