Tuesday, November 18, 2014

Review: To Sir Phillip, With Love - Kepada Sir Phillip, dengan Penuh Cinta


To Sir Phillip, With Love - Kepada Sir Phillip, dengan Penuh Cinta

My rating: 5 of 5 stars



Aku suka banget sama buku ini. Astaga, aku bahkan merasa belum bisa beralih ke buku lain sebelum menyelesaikan review buku ini. Habisnya aku jadi kepikiran terus sama Eloise dan Phillip yang luar biasa penuh cinta. Phillip yang dengan kedua anaknya , yang tidak pernah bisa berlaku selayaknya seorang ayah. Ditinggal wanita yang telah dinikahi selama 8 tahun yang wanita ini seperti orang mati selama masa itu. Masa lalu Phllip yang oh-sungguh-menyakitkan dan aku sungguh senang ia akhirnya bisa keluar dari jerat rasa bersalahnya yang bertahun-tahun itu karena bertemu Eloise. Eloise yang merubah segalanya. Menguasai kehidupannya dan anak-anaknya.

Pokoknya. Novel ini sangat-sangat menarik. Dan tidak ada yang biasa disini. Julia Quinn membuat novel ini terasa luar biasa. Aku pikir julia memang memiliki kekhasan dalam membuat tokoh tokoh dimana salah satunya telah menikah dan dengan masa lalu yang kelam. Aku mendapatinya di beberapa buku yang telah kubaca. Dan ini adalah buku kedua selain miranda's diary yang baru kubaca, yang menurutku sangat cerdas dalam memberikan karakter di tokohnya konflik masa lalunya.Tokoh pria telah menikah. Bedanya... bedanya.. yang pasti sangat berbeda. Keberadaan kedua anak Phillip sangat mendukung disini. Aku sendiri tidak menemukan diriki bosan karena alurnya. Tidak sedetikpun. Aku justru merasa tidak bisa berhenti membacanya karena segala hal dari buku ini sangat seru. Yang pasti di novel ini semuanya padat. Nggak ada yang mubazir dan gak ada yang bertele tele. Semua halaman digunakan sesuai porsinya.


Mulai dari cerita bagaimana Phillip yang harus menggambarkan masa lalu yang menjadi persoalan inti kehidupan Phillip, kemudian bagaimana Eloise muncul di rumahnya secara mendadak yang membuat segalanya menjadi kacau. Belum lagi keberadaan anak anak Phillip yang tidak menyukai Eloise dan segala hal yang mereka coba untuk mengusir Eloise. Lalu kedatangan keempat kakak laki laki Eloise yang berakhir pada kesepakatan bahwa keduanya akan menikah.

Dan.. dari semua buku yang pernah kubaca tentang hubungan singkat. Yang mungkin pernah kuprotes di beberapa novel dimana aku sama sekali tidak setuju bahwa cinta bisa muncul dalam hitungan hari. Apapun itu. Yang pasti novel ini adalah pengecualian. Dan setelah kupikir-pikir, apa yang menyebabkannya menjadi pengecualian adalah karena.... karena... karena penulisnya. karena julia berhasil membentuk karakter yang begitu sempurna dimana satu dengan yang lainnya menjadi sangat sangat cocok. Karena bumbu masa lalu. Karena karakter pendukung. Karena chemistry yang diciptakan. Semuanya membuat cerita ini menjadi sangat romantis.

Aku juga harus memuji bagaimana julia tetap menyisipkan humor di buku ini tapi tetap konsisten dengan karakter karakternya. Kemudian ia tidak menyia- nyiakan setiap karakter di bukunya. semuanya luar biasa dan menarik. Bahkan berkat buku ini aku jadi penasaran semua kisah cinta keluarga bridgenton. Hal lain yang harus kupuji adalah bagaimana Julia menciptakan konflik-konflik yang terjalin satu dengan yang lain hingga tiba ke titik utama cerita. Pertengkaran, dialog, debat, bahkan narasi sekalipun tidak ada yang membosankan. Semuanya menyenangkan!

Dan menurutku jenis cerita seperti ini terasa sangat baru dan seolah aku belum pernah membaca cerita jenis ini sebelumnya. Hal tersebut membuatku bertanya tanya tentang apa dan apa yang akan terjadi berikutnya. Dan bagiku itu sangat menyenangkan. Kali ini klimaksnya bukan tentang jatuh sakit tapi... hanya pertemuan diantara keduanya dengan emosi meluap luap dan dengan kejujuran satu dengan yang lain. Itu cukup. Aku bahkan merasa ikut menangis karena bagian ini. Tidak cetar membahana pengambilan masalahnya, tapi permainan emosinya itu yang cetar membahana. aaaaaah pokoknya suka banggeeeettt.. rasanya masalah dari awal gak terus menyebabkan keduanya saling membenci hingga kabur kaburan. keduanya sama sama jujur tentang apa yang mereka rasakan dan itulah yang membuat semuanya terasa menyenangkan. Tidak ada kepura puraan. Aku puas. Rasanya dari awal buku ini mereka udah nikah hehe. Konfliknya asik. Emosinya juga menyenangkan. Pokoknya puas banget sama buku julia kali ini. Bahkan endingnya. Oh betapa aku ingin terus melihat bagaimana perkembangan keluarga ini bersama Amanda dan Oliver. Kembaran yang sangat aktif dan lucu. Menyebalkan tapi juga menyenangkan. Aku pernah merasakan bagaimana rasanya ketika kau bisa menguasai para anak anak.



Review: The Secret Diaries of Miss Miranda Cheever - Buku Harian Miss Miranda Cheever


The Secret Diaries of Miss Miranda Cheever - Buku Harian Miss Miranda Cheever

My rating: 5 of 5 stars



Nah kalo ini... kalo ini.... hsssh... buku keduanya Julia Quinn yang aku baca. And I love it. I love it so much. Meskipun aku masih berharap adanya konflik lain. Tapi cukup. Cukup untuk bikin aku masuk ke dalam buku ini dan ke setiap karakter yang ada di buku ini. Dan buku ini berhasil membuatku berlinang air mata karena... yah... karena emosi yang meluap luap disini


Lalu.... ah ya. Julia Quinn bener bener pintar membuat sisi cerita di setiap bagian , terutama dialog, menjadi sangat menyenangkan dan tidak membosankan karena humor yang diletakkan disana sini. Aku menikmati hampir semua percakapan karakter di buku ini. Semuanya. Dan aku masiiih saja dibawa tersenyum meski cerita tersebut sudah di klimaks dan sangat sangat heartbroken. Yah antara tersenyum dan menangis. Maksudku, aku sungguh menyukainya.


Aku suka banget karakter Miranda disini. Aku agak sulit membayangkan bahwa dirinya tidak cantik. Tapi memang kenyataannya kali ini Julia memberikan sosok yang tidak sempurna tapi sangat mempesona sifat dan sikapnya. How to describe it? mmm.. yang pasti Miranda ini memiliki harga diri yang sangat tinggi. Dan aku sungguh memujinya untuk hal tersebut. Sulit pasti baginya untuk tidak berusaha membandingkan dirinya dengan wanita wanita lain yang jauh lebih cantik disana. Aku suka hampir semua sikapnya. Dia pintar dan sekaligus sinis. Semua perkataannya bisa saja menyakiti orang lain dan dia mengatakan itu semua dengan wajah datar. Pembawaannya yang tenang itu sungguh memesona. Ia bahkan tidak anggun. Ketika Miranda marah aku yakin semua orang akan ketakutan. Meskipun begitu Miranda jarang menunjukkan taringnya kepada orang orang sekitar. Dan jarang yang bisa menenangkan amarahnya.

Tanggapan sinis mengenai dirinya, terutama bagian fisik, membuat Miranda terbiasa dan lebih kuat dari yang seharusnya. Ia sudah sering tidak diperhatikan dan ia terbiasa karena hal tersebut. Dan sebagai seorang wanita ia pasti masih sering sakit hati untuk kata kata yang keterlaluan tapi Miranda, lagi lagi, selalu mengatasinya dengan tenang.

Dan aku sangat, sangat mengerti kenapa Miranda jatuh cinta pada Turner. Pria tersebut telah melambungkan harapannya untuk menjadi cantik. Turner melihat apa yang memesona dari gadis tersebut yang bahkan Miranda sendiri tidak menyadarinya. Keyakinan yang diberikan Turner itu membuatnya percaya dan apalagi 'Turner' yang mengatakannya. Dan Miranda percaya. Turner orang yang jujur.

Konflik utama adalah ketika Turner menjadi seseorang yang tidak dikenal gadis itu. Semua yang dilakulan pria tersebut seharusnya bisa membuatnya membenci Turner dan ia memang membencinya. Tapi namanya cinta, terus dan terus, Miranda mendapati dirinya memaafkan pria tersebut.

Kali ini aku menikmati semua kisah tarik ulur di novel ini. Karena aku juga sangat menikmati karakter Miranda disini. Dia tidak pernah mematahkan prinsipnya dan menurutku untuk seseorang yang jatuh cinta pada seorang pria selama sepuluh tahun ia cukup kuat untuk mengendalikan emosi emosinya dan aku cukup mengerti kenapa pada akhirnya ia perlu meledakkan semuanya. Aku merasakan betapa menyesakkan perasaan itu untuknya.

Novel ini sesuai dengan seleraku. Karena heroinennya yang jatuh cinta setengah mati tapi terus berusaha mengendalikan diri di depan orang yang disukainya. Dan seperti aku menonton drama korea, beberapa halaman berikutnya membuatku semakin menyukai ceritanya. Ketika semuanya berbalik. Ketika Miranda akhirnya menyerah dan kali itu membuat Turner kelimpungan. Aaaaa pokoknya suka banget. Apalagi waktu Turner menyadari bahwa ia sangat mencintai Miranda. Well dari semua analisis sejak halaman pertama sebenarnya kita tahu pria ini mencintai Miranda. Hanya beberapa hal membuat itu semua tak terlihat.


Aku puasss bacanya. Aku bahkan menyelsaikannya dalam waktu dua hari karena hanya gak bisa berhenti baca. Aku bahkan yakin tidak akan kecewa di tengahnya sehingga aku jarang melakukan aksi skip seperti yang aku lakukan biasanya.

Julia Quinn sungguh berhasil membuatku jatuh cinta pada tulisannya selain Lisa Kleypas untuk buku history romance. Membaca dua bukunya aku hampir bisa menyimpulkan bahwa Julia selalu membuat salah seorang tokoh tidak bisa menyadari betapa ia mencintai orang 'tersebut' dan ia selalu memberikan latar belakang tragis untuk membuatnya lebih kuat. Dan ia selalu memberi ending bahwa tokoh tersebut akhirnya menyadari perasaannya. Aku sungguh tersentuh bagaimana Turner mengungkapkan rasa cintanya pada Miranda. Mungkin karena aku juga wanita dan mungkin juga karena cara Turner ingin membuat Miranda menyadari betapa ia mencintainya juga sangat menyedihkan.

Kalo novel nggak kayak drama ya yang kadang endingnya serasa kurang 10 menit. Entah kenapa kalo baca novel aku hampir selalu puas dengan endingnya. Yah namanya juga ga ada batasan waktu. hehehhe



Review: When He Was Wicked - Cinta Terpendam Sang Earl


When He Was Wicked - Cinta Terpendam Sang Earl

My rating: 3 of 5 stars



Siaaaal. udah nulis panjang-panjang dan hilang semua dalam sekejap -____-
Karena tadi unek-unekku udah hampir keluar semua, jadi sekarang aku mau nulis pendek aja ya.

Aku baca novel ini habis baca Fifty Shades. Agak anjlok aja sih soalnya aku baca novel tentang kehidupan metropolitan dan langsung disuguhkan novel dengan tahun 1800-an. Jauh banget kan. Makaannya adaptasinya agak susah karena masih suka ada bayang-bayang novel Fifty Shades yang bikin aku terbius itu. Tapi setelah beberapa halaman, akhirnya aku berhasil mengikuti cerita ini tanpa bayang bayang novel sebelumnya.

Novel ini bikin aku keingetan novelnya Clara Canceriana yang judulnya If You were Mine. Novelnya juga sama-sama tentang saudara yang mencintai kekasih saudaranya.

Bedanya, kalo IYWM itu ceritanya si adik cintanya sama 'kekasih' kakaknya. Sedangkan di WHWW ini, ceritanya si sepupu cintanya sama 'istrinya' sepupu yang udah deket sama dianya lebih deket daripada kakaknya sendiri. Dan konflik utamanya sama. Si kekasih ceweknya itu 'meninggal. Konfliknya darisitu, tapi di dua novel ini sama-sama beda mengawali konflik tersebut.


Yah.. nggak usah banyak membandingkan deh daripada nggak kelar ini tulisanku. Yang pasti, di novel ini konfliknya lebih tragis dan lebih ribet penyelesaiannya. Si heroine nya bener-bener gak bisa dan nggak menerima, dengan alasan apapun, untuk mencintai orang lain, tetapi si heronya disini juga memiliki perasaan yang sama. Mereka berdua sama-sama tertekan oleh satu hal kalau keduanya sampai jatuh cinta. Penghianatan terhadap John, suami dari Fransesca.

Jujur aja ya, aku suka sama semua yang terkemas dalam novel ini.Termasuk tulisan Julia yang cukup bisa membiusku karena humor yang dibubuhkan disetiap dialog yang ia tuliskan, setiap dialog antara Michael dan Fransesca. Jujur aja aku suka itu semua.

Tapi yang agak aku keselin dari buku ini adalah, kenapa Michael jadi tokoh yang begitu menderita. Memendam perasaan bertahun-tahun, dan si Fransesca masih nggak bisa nerima dia (atau nggak mau ngaku tapi nerima sih, dia kan gak benci michael) meskipun wanita tahu bahwa sebenarnya ia tengah jatuh cinta pada Michael. Aku sempet berharap, dari sinopsisnya yang bilang, di pertemuan pertama mereka, si Fransesca melihat Michael sebagai seorang 'pria'. Tapi ternyata dia tokoh yang sulit disadarkan. Mmm.. maksudku, dia terlalu enggan untuk mau mengakui hal tersebut, dan ketidaksadaran dia itu semakin membuatku kesal karena aku sendiri nggak tahan lihat Michael yang udah kepalang bingung dan sakit hati terus. So, meskipun pada akhirnya dia ngelihat Michael sebagai pria, ketakutan atas penghianatan yang ia lakukan terhadap John dan bayang-bayang rasa bersalah itu yang membuat novel ini nggak selesai-selesai. Konflik sampai akhirpun ituuu mulu. Dan lama-lama aku jadi agak, sedikit jengkel.

Dan yang ini sih selera aja ya. Aku sebagai cewek, mungkin lebih mudah untuk merasakan rasa sakit hati tokoh cewek daripada cowoknya. Jadi, karena di novel ini si michael adalah karakter yang paling tragis, tetep aja aku suka nggak kena gitu sentuhan dari sifat Fransesca. Kadang aku malah jengkel. Jatuhnya mereka berdua jadi agak, sedikit, nggak mulus gitu hubungannya. Maksudnya dari perasaan seorang sahabat - ke seorang kekasih antara fransesca ke michael.

Nah ini yang bikin aku bandingin sama novelnya If You were Mine, karena di novelnya clara canceriana tokoh ceweknya lebih kuat, dan rasa sakit hati yang dirasakan tokoh ceweknya ini juga... mungkin karena dia cewek, jadi kena mak jleb gitu di akunya. Ini sih cuma selera ya.


Aku suka endingnya, cukup manis. Dan surat dari ibunya John ke Michael dan Fransesca di akhir juga cukup menyentuh dengan kata-katanya yang berkata "terimakasih sudah mengijinkan anakku mencintainya lebih dulu"

Aku suka. Aku yakin aku akan menyukai tulisan Julia Quinn yang lain. Ini novelnya Julia yang pertama aku baca, dan aku cukup menikmatinya. Untuk ide cerita sih bukan urusanku, tapi gaya bahasa yang Julia Quinn tulis disini sudah cukup untuk membuatku akan mengikuti novelnya yang lain.





Review: Love in the Afternoon


Love in the Afternoon
Love in the Afternoon by Lisa Kleypas

My rating: 5 of 5 stars



bisa dibilang bahwa aku selalu jatuh cinta oleh karakter karakter unik yang aku temui ketika membaca novel dengan genre ini.

Dan harus aku akui bahwa karakter semacam ini akan menimbulkan banyaknya konflik yang unik pula. Aku jatuh cinta pada karakter beatrix sejak di seri pertamanya. Gadis yang menyukai binatang. Sama seperti serial wallflower, Daisy yang suka membaca menjadi karakter paling unik di antara yang lainnya, dan aku jatuh cinta oleh karakter ini.

Hal lain yang membuatku memberikan bintang penuh untuk kisah beatrix adalah bahwa aku harus sering menahan rasa sedih yang Beatrix dapatkan ketika hanya dapat melihat pujaannya yang di dalam mencintainya tapi dari luar sangat jauh baginya. Aku menaruh simpati yang begitu besar untuk rasa sakit yang beatrix alami dan rasanya ingin memberikan ia selamat ketika akhirnya christoper menaruh perhatian penuh padanya.


Mereka berkorespondi dan jatuh cinta. Tetapi karena selama ini beatrix menjadi orang lain, jadilah bukan ia yang dicari oleh christoper ketika ia kembali dari perang. Rasa rindu dan cinta yang tidak bisa diungkapkan beatrix ketika pada akhirnya mereka bertemu kembali itulah yang membuat hatiku ikut merasakan rasa sakit yang sama.

Secara keseluruhan cerita aku bisa dibilang suka oleh semua bagian di novel ini. Karena keunikan tokoh terhadap binatang otomatis memunculkan konflik yang bervariasi berkaitan dengan masalah utama. Walaupun agak disayangkan karena penyakit mencuri beatrix tidak dibahas lagi lebih jauh.

Aku suka dengan sikap sabar beatrix yang tidak mudah tersinggung dan tidak mudah menyerah. Rasa cintanya terhadap christopher yang begitu besat, perasaan bertepuk sebelah tangan yang menyakitkan menjadi bumbu yang menarik yang selalu mengalirkan cerita ke konflik yang selalu lebih menarik.

Sungguh, kecuali adegan xxx di buku ini, semuanya terasa pas porsinya. Setiap konflik dikemas secara rapih dan menarik. Aku juga jatuh cinta pada christopher yang dengan caranya sendiri jatuh cinta - menduga orang yang salah, tetapi perasaannya tetap hanya tersemat pada beatrix seorang. Selain itu aku suka dengan perubahan karakter christopher yang awalnya tidak tertarik dengan beatrix akhirnya malah memuja wanita ini. Membuat beatrix selalu meyakinkan dirinya sendiri bahwa perhatian christopher padanya bukanlah sekedar mimpi. Dan ketika christopher akhirnya berkata mencintai beatrix bukannya pru, harus kuakui aku bisa merasakan seberapa besar keinginan beatrix untuk pingsan saat itu juga.

Tidak sering aku menemui kisah yang tokoh utamanya tergila gila duluan sedangkan heronya malah awalnya gak tertarik, tapi aku selalu tertarik oleh kisah semacam itu. Mereka berhasil menghasilkan konflik yang cukup mengesankan.

Dan aku bersyukur bahwa aku menemukan buku ini di diskonan gramedia, dan dua dari tiga buku yang kubeli, kudapati keduanya bukanlah salah pilih dan aku merasa beruntung memilikinya dan it's good walaupun hrganya murah sih hahaha.



View all my reviews