Monday, May 26, 2014

Review: To Pleasure a Prince

|

To Pleasure a Prince

My rating: 4 of 5 stars



Bagus, bagus, bagusssss
Meskipun nggak sehoki waktu nggak sengaja dapet bukunya Julia Quinn yang ternyata ratingnya cukup bagus, aku harus mengakui sabrina jeffries juga tidak kalah baiknya dalam mengolah alur seperti penulis historical lain favoritku. Dan sejujurnya, aku nggak kecewa. Aku dapet kok hampir semua aspek favoritku sama seperti waktu aku baca novelnya julia quinn. Aku suka, suka, sukaaaa banget sama karakter heroinennya si Regina ini. Itu cewek bener-bener ya. Aku bisa bayangin sepopuler dan secantik apa wanita tersebut dan sekuat, emm.. sekeras kepala apa dia (tapi dalam artian baik ya), setangguh apa dia dalam menghadapi karakter Draker yang emang minta ampun parahnya. Selama baca novel ini, aku nggak pernah sekalipun nyalahin regina. Aku pikir aku bakalan nggak simpatik sama tokoh ini, nyatanya aku malah simpatik sama tokoh Regina yang ternyata memiliki sebuah rahasia kelam. Secantik apapun dia, aku ngerasain rasanya dihina di depan publik oleh orang semacam Draker, dan wanita ini masih sanggup berdiri.

Belum lagi seberapa tidak percayanya Draker meskipun Regina bisa dipastikan sangat tulus terhadap Draker bahkan dilihat dari luar sekalipun.Emm.. intinya, aku dapet semua emosi yang aku butuhkan dalam semua novel. Termasuk klimaksnya yang paling aku tunggu-tunggu, lagi-lagi berbeda dari novel lain yang pernah kubaca tapi tetap menghibur dan baru.
Aaah rasanya mungkin aku akan meminjam novelnya Sabrina Jeffries lagii.



Friday, May 16, 2014

Review: Sempurna

|

Sempurna

My rating: 3 of 5 stars



Aku mau jujur aja deh. Novel ini beneran mulai bagus dari pertengahan ke belakang.
Well, bukannya yang depan-depan itu nggak bagus. Bagus. Karena aku sendiri juga tahu itu masih pengembangan karakter si Awang dan Kejora dan perasaan mereka, trauma masing-masing.
Tapi tetep ajaaaa... bagiku perkenalannya masih terkesan lambat. Aku menanti-nanti bagian dimana kira-kira aku terbawa emosi untuk terus dan terus melanjutkan. Yaah,,, untung aja karena aku ada janji sama temenku buat nyelesein novel ini akhirnya aku berhasil melanjutkannya dengan sabar dan syukurlah pertengahan dah masuk konflik pentingnya.


Aku sukaaaa pertentangan batin antara Awang dan Kejora. Nggak ada jaim-jaiman disini. Bahkan Kejora juga nggak munafik kalo tuh cewek jatuh cinta sama Awang dan berusaha setia. Si Awang ini juga.., yah lumayan bikin ketagihan juga lihat perilakunya. Lha wong dia kan awalnya dinginnya nggak banget ya. Dia tuh cueknya ampun ampun deh sampe nuruin Kejora di pinggir jalan dan cewek itu kesasar. Lucu lucu miris gimana gitu dan suka banget waktu dia akhirnya jemput si kejora akhirnya. Yang kusuka lainnya adalah perubahan karakternya yang awalnya menganggap Kejora sebagai pengganggu makannya dia trus sikapnya jahat banget gitu, eh waktu dia sadar dia suka sama Kejora, Awang jadi gantian yang gangguin. Ih lucu banget deh. Aku emang dari dulu suka sama pergantian karakter si heroin dan heronya. Awalnya ceweknya yang hiperaktif trus pas dia udah mundur dia ganti dikejar-kejar. AKu suka suka suka banget bagian itu. Endingnya... yah walaupun gantung tapi menurutku itu dah lumayanlah. Malahan aku berharap ada buku keduanya gitu tapi yang di dalamnya gambarin mereka lagi tahap pacaran atau nikah sekalian kek. Penasaran aku sama sifat mereka berdua kalo udah jadi satu gitu. MAsih suka marahan atau enggak ahhahahahah