Sunday, September 27, 2015

Review: Kiss of the Night

Kiss of the Night

My rating: 4 of 5 stars

Kisah tentang Wulf agak terpisah dari kisah dark hunter lainnya. Mungkin karena diceritakan ia berada di beda wilayah. Lucu aja cerita di buku ini kayak overlapping gitu. Di awal2 buku dikisahkan cerita wulf agak bertabrakan dgn cerita ketika Talon mau ketemu Sunshine. Trus di pertengahan buku kelihatan kalo Acheron saat itu gabisa bantu2 di wilayah Wulf mungkin krn saat itu di New Orleans kejadiannya adalah waktu Styxx itu deh. Nah pertiga buku trnyata cerita mendadak udah sampe Zarek aja kelarnya wkakaka. Cepet bener ya. Trus aku baru sadar juga kalo trnyata Wulf meskipun temenan sama Dark Hunter lain, tp ternyata merela terakhir bertemu 100 tahun yang lalu. Buset. Mereka ngomong kayak gak ketemu brp bulan aja.


Ah ya, kisah masa lalu Wulf ga semenyedihkan dan setragis anak2 DH sebelumnya. Mungkin karena Wulf sendiri juga nggak pernah mati. Naaah justru yang sedih ini adalah cerita tentang Cassandra yang setengah appolite dan sedang menuju ultah ke 27. Trus dia hamil lagi. Dan itu so sweet bamget. Bagaimana Wulf berusaha menjaga calon bayinya dan Cassamdra. Bagaimana ia rela melakukan apapun untuk Cassandra. Padahal awal2nya dia benci banget tuh sama kaum appolite. Udah gitu gimana takutnya dia ngelihat seorang appolite mati, takut cassandra kayak gitu, dan dia nggak bisa ngapa2in buat nyelametin cass. Awalnya dia pasrah, tapi lama lamaa Wulf makin nggak bisa terima kalo Cass ninggalin daimon dan dia janji nggak akan pernah benci sama Cass. Sedih banget kan, pdhl Cass juga gamau bunuh buat bertahan hidup. Pokoknya ketabahan Cass menghadapi kematiannya pilu banget deh.

Syukurlah ada Chris juga, dia lucu banget kalo ngomong dan ngajak debat. Kalo sama Chris kan si Wulf overprotektif banget tuh jadi kayak seorang ayah. Nah yang sedih tu paling cerita ttg wulf yang melihat keluarganya mati satu persatu krn usia sdgkn dia hidup terus.

Another interesting story, ada kisah simi acheron, dan ada reuni DH jugaaa. Aaak liat Kyrian, Julian, Talon, dan Zarek juga hhhaha. Pokoknya novel ini masih seseru yang lainnya.

Review: Night Play

Night Play

My rating: 5 of 5 stars

Sukaaaaa suka suka suka banget sama kisahnya Vane sama Bride. Kalo masa lalu kelam sih emang ada, tapi emang Vane masalalunya nggak setragis anak2 dark hunter. Selain perihal kalo ia mau dibunuh ayah ibunya, sebenarnya Vane sedang berada di ambang batas kekelaman dalam hidup (aih apaan sih)

Baru kali ini Vane ngerasain gimana rasanya kehilangan adik yang paling ia sayangi Anya yang meninggal belum lama. Kemudian disusul Fang yang sekarat di sepanjang buku.

Sumpah ya, aku berharaaap banget bisa liat Fang di sepanjang buku. Suka banget sama celotehannya dia dan betapa cerewetnya dia di awal buku. Sayang sisanya tokoh Fang ini hanya berakhir diam. Hiks. Kangen sama cerewetnya dia.


Vane sebagai sulung diantara 3 bersaudara, merasa terombang ambing dengan hidupnya yang tiba tiba terjun payung. Ia mendadak merasa kesepian dan tidak punya siapa siapa. Ih sedih banget pokoknya waktu Vane berusaha menyelamatkan adiknya, dan ia bahkan menangis memohon agar adiknya mau kembali sadar. Vane yang selama ini terkesan suka kesal dengan cerewetnya Fang sekarang merasakan kerinduan yang mendalam terhadap kondisi adiknya itu. Dan bagiku itu menyentuh banget, kisah kakak beradik ini.

Kemudian Bride muncul.
Yah, nggak kayak Dark Hunter, Vane memang orangnya lembut sih, jadi waktu pertama kali ketemu Bride dan betapa dia pingin cari alasan buat liat Bride, aaaakkkk romantis banget. Lucuuu, menyentuh, dan ditambah Vane tuh terkesan polos banget jadinya bisa langsung ngerasain aja kelembutan Vane.

Pokoknya Vane disini baiiik banget dan pengetahuannya tentang manusia bener bener minim sehingga perlakuannya ke Bride lebih terkesan spontan dan Vane jadi sama sekali nggak keliatan sekejam yang biasa ia perliatkan dilingkungan asalnya. Lucu aja gimana Vane mau belajar semuanya biar bisa liat Bride senyum. Bride sendiri selama ini merasa minder dan bertemu dengan Vane bikin dia ngerasa sebatas mimpi. Yah, intinya Vane dari awal yang udah jatuh cinta kemudian tahu kalau Bride pasangannya merasa bahwa ia rela melakukan apapun demi Bride dan itu menyentuh banget.

Aku terkesan dengan cara Kenyon membuatku terus berdebar debar di sepanjang buku.

Kemudian muncul Fury, orang yang kelihatan jahat tapi ternyata ia selucu Fang. Sedih banget waktu cerita tentang kehidupan Fury dan bagaimana ia ingin bergabung dengan Vane bersaudara tapi takut hingga akhirbya dia jadi penyendiri. Nyatanya dia adalah adiknya Vane dan hubungan baru Vane dengan adik baru Vane ini seolah menjadi pelipur lara dikala Vane baru saja kehilangan anggota keluarganya yang paling ia sayangi. Dan loyalitas Fury juga bikin senyum2. Dia ternyata baik banget, nggak terasa jahat sama sekali padahal di awal aku kira dia jahat lho.

Lalu ada Kyrian dan Julian berpasangan yang muncul beberapa kali dan bikin senyum2. Sekarang Kyrian jauh lebih ceria dan lembut dan dia juga lucu banget apalagi kalo berdebat dengan Tabitha. Yah pokoknya menurutku novel ini benar benar menghibur. Lebih ringan daripada seri dark hunter , but still it catch my heart. :)

Review: Critical Eleven - Ika Natassa

Critical Eleven

My rating: 4 of 5 stars

Nah kalo yang ini selesai dalam waktu 10 jam langsung habis baca AR. Gara garanya karena udah nggak sabar dan kadung penasaran. Dan yang ini no skip ya.

Cukup seneng sih karena kali kini aku betah banget bacanya, ga bisa berhenti, dan penasaran terus setiap halamannya. Kata-katanya kak ika juga semenyenangkan biasanya, dan karakter-karakternya Alhamdulillah nggak ada yang menyebalkan. Dan aku juga ngga berekspektasi apa apa kecuali bahwa novel ini happy ending. Yah taulah happy ending versi ika nih kayak gimana. Suka ngerasa kurang dan pingin lagi.



Novel ini di awali dengan pertemuan mereka di pesawat yang cukup manis untuk pembuka. Walaupun setelah-setelahnya terkesan biasa aja sih, maksudnya pendekatan antara Ale ke Anya kayak pendekatan pada umumnya sih, lancar-lancar aja, selo2 aja, dan ngga ada pertengkaran yang berarti. Tapi kemudian konflik sesungguhnya dimunculkan ketika kedua tokoh ini sudah menikah. That's good. Menurutku ya itu lebih realistis aja sih dgn apa yang terjadi si kehidupan nyata. Toh emang nyatanya hal seperti itulah yang justru kerap kali terjadi, bahwa masalah sesungguhnya muncul ketika sudah hidup bersama. Memang, mengambil kisah sehari-hari sebagai cerita utama yang diusung dalam novel ini bikin kita lebih dekat dengan kejadian di sekitar, tapi menurutku juga jadi lebih membatasi imajinasiku. Hahaha. Kadang pelarian novel2 yang kubaca itu dengan harapan aku bisa melarikan diri dari dunia nyata. Tapi ngga masalah, toh apa yang tertuang di novel ini juga tetep bikin aku ngejogrok nggak kemana mana buat ngabisin nih novel dan meskipun ada yang terlalu dekat dengan kehidupan nyata setidaknya aku bisa berfantasi tentang kehidupan metropolitannya atau tentang tempat dan setting yang digunakan.

Ketika selesai kisah pertemuan ale dan anya barulah kita dihadapkan dengan masalah dan konflik yang besar itu. Yang menjadi konflik hingga akhir cerita. Di sepanjang novel ini mungkin kemudian kita akan disuguhkan banyak sekali momen momen romantis dan lucu, yang itu adalah merupakan masa lalu dalam kisah ini. Karena masa kininya masih terus berkutat dengan konflik utama yang dirasa tidak segera mendapat penyelesaian. Sejujurnya aku mendapati novel ini sama dengan Divortiare. Sama-sama meletakkan satu konflik besar di sebuah kehidupan pernikahan yang kemudian dicari jalan keluarnya. Bedanya kalo divortiare itu mereka memilih bercerai sehingga taulah jadi harus ada twivortiare biar novelnya bener bener ending. Sedangkan CE ini kedua tokohnya nggak sampai bercerai,sebatas pisah ranjang aja dan itupun endingnya dikit banget huhu. Musuhan mereka terjadi sekali dan baikan mereka juga terjadi sekali, di ending. Yah pokoknya kalo CE bisa jadi karena harus diselesaikan dalam satu buku juga.

Meskipun kisah cinta mereka nggak bikin aku merasa berdebar-debar dengan kisah romantisnya, tapi kepedihannya bikin aku nangis beberapa kali tanpa bisa ditahan tahan. Tangga dramatiknya tetep naik terus, syukurlah dan aku beneran nangissss mulu di bagian-bagian akhir. Dan kalo ada yang aku perhatikan dari tulisan kak Ika disini, itu adalah bahwa dia suka sekali menganalogikan sesuatu. Setiap bab diawali dengan sebuah analogi panjang lebar sebelum masuk ke adegan yang sesungguhnya atau makna yang sebenarnya ingin ditunjukkan dalam bab tersebut. Sejujurnya analogi2 itu cukup bagus karena sekaligus memberikan makna2 baru tentang hidup meskipun kadang kelamaan main analoginya.

Ah, dan aku agak gemes liat kisahnya Harris dan Keara. Lah, mereka jadian? gak dibikinin kisahnya nih kenapa keara bisa sampe jatuh beneran di pelukan Harris? errrr~

Finally, novel ini masih menyenangkan untuk dibaca dan jelas masih recommended. Karena setidaknya aku sungguh menikmati kedua karakter dalam novel ini. Ale dan Anya. I love them soo much :*

edit
well akhirnya aku memutuskan novel ini worth untuk 4 bintang. Kenapaaa? karena ternyata aku masih mikirin tentang novel ini meskipun aku sudah selesai membacanya. Mungkin karena aku begitu terkesan dengan Ale dan Anya kali ya. Bagaimana perjuangan Ale untuk selalu berada disisi Anya padahal Anya sudah sebegitu dinginnya.


Friday, August 14, 2015

Review: Archangel's Blade

Archangel's Blade

My rating: 5 of 5 stars

Sebenernya pingin baca seri guild hunter ini dari awal, dari nomor 1, tp apa daya di rental adanya nomor 4 dan aku udh penasaran jadi baca ajalah.

Errrr ini novel yang amat-sangat memilukan demi apaaaaa. Aku nggak bisa berhenti dibuat nangis sama masa lalunya Dmitri yang parah itu huhu. Ini aja aku nulis reviewnya kayak mau nangis lagi, sumpah sedih banget. Rasanya kayak baca novel sad ending.

Yap. Ini novel jenis sad-happy ending karena kita akan disuguhkan oleh dua buah cerita, dimana yang satu berakhir tragis, dan yang kedua berakhir happy ending. Dan yang tragis itu bikin mrinding waktu bacanya. Dmitri yang seorang vampir sudah hidup 1000 tahun tanpa pernah sekalipun melupakan keluarga kecil yang ia bentuk meskipun sekarang ia sudah menjadi makhluk berdarah dingin dan tidak punya hati. Masa lalu yang kejam yang melibatkan keluarganya ini membuatnya menyimpan luka itu dan membuatnya memiliki hati yang tidak bisa ditembus oleh siapapun, hingga Honor muncul dengan mata hijaunya. Dengan kelembutan yang membuat ingatan masa lalunya kembali menghantunya, kenangan2 indahnya dengan istri dan anak2nya, begitu pula kenangan paling kejam dalam hidupnya.


Pokoknya ini novel sedih banget deh, sadis abis. Untung yaa untuuuung aja novel ini punya dua poin menarik yang bikin aku nggak jemu atau kesal sama novel ini. Pertama, kehadiran masa lalu Dmitri dimunculkan sedikit-sedikit, tidak dijadikan cerita yang diletakkan di awal. Sehingga kitalah yang akan memasang puzzle puzzle masa lalu. Dan masa lalu itu juga dihadirkan dengan cara yang menarik sehingga kita menjadikannya sebagai satu cerita utuh yang takbisa dipisahkan. Bahkan masa lalu itu menghadirkan emosi2 yang bikin kita suka sama ingrede, sampe bingung kita mau milih Ingrede dan Honor.

Yang kedua, kejutan bahwa ternyata Honor adalah.... Well, kejutan mengenai siapa honor membuat masa lalu itu bukan sebagai sebuah pengganggu. Sejujurnya ya, ada beberapa cerita yang nggak sesuai ekspektasi, yang bikin aku berharap lebih dari novel. Endingnya yang dibuat sebagai twist dan emosi terlalu sedikit menurutku, padahal sebenarnya bisa dibikin lebih menggebu gebu lagi. Dmitri juga terlalu cepat menerima Honor di akhirnya, dan Honor juga terlalu cepat menerima dirinya sendiri. Walaupun puzzlenya udah diceritakan sejak awal sih, tapi puzzle itu sayangnya nggak dieksekusi lebih jauh jadinya akhirnya jadi agak cepat.

Anyway, apapun keluhanku, aku tetep nggak bisa nurunin bintang-bintangku dari angka 5, karena toh aku tetep dibuat berderai air mata. Nalini emang bisa aja bikin aku nggak bisa nggak nangis. Cerita-cerita yang dihadirkan olehnya terlalu memilukan dan rasanya sulit kalo ini udah habis gitu aja. Huaaaa rasanya pingin banget baca kisah Honor Dmitri lagi setelah mereka lama berpisah, sungguh, aku kayaknya perlu ditegasin lagi kalo mereka udah kepisah lama.

Oh dan satu lagi. Ada momen yang paliiing aku suka dan paling mengaduk emosi. Yaitu dibagian ketika Dmitri liat ada padang bunga liar di pintu kamar Honor dan marah banget sampe2 bikin Honor kehilangan kendalinya. Saat tahu bahwa Dmitri sadar dia sudah menyakiti Honor dan bagaimana dia minta maaf sama Honor, aaaak sedih sekaligus tersentuh banget sama momen itu. Ngingetin aku sama Fifty Shades of Grey banget. Cuma berharap momen itu ada lagi sih. Kuat banget deh disitu emosinya men. Rasanya aku bakalan baca reread novel ini deh suatu hari nanti, atau beli bukunya cuma biar bikin aku nangis lagi.

Review: Slave to Sensation - Terjerat Hasrat

Slave to Sensation - Terjerat Hasrat

My rating: 5 of 5 stars

Mungkin aku nggak akan pernah berhenti berterimakasih sama goodreads yang udah ngenalin aku sama novel-novel luar dan terjemahan yang bagus, karena entah bagaimana setelah selama ini aku akhirnya bener bener mendapat persinggahan untuk melampiaskan hobi hobiku membaca. Dan.... Aku bisa dapet novel bagus yang dulunya aku pikir aku udah kehabisan stok, nyatanya berkat goodreads aku menyadari bahwa kuantitas buku menarik yang bisa dinikmati bisa dibilang nggak akan pernah habis.

Hohoho. Terlalu lama ya intermesonya. Well, dalam halnya aku ketemu sama novel ini, itu kayak takdir aja. Padahal ini saat saat aku lagi sibuk nonton drama dan aku pikir nggak dulu dapet novel bagus, sampai suatu hari aku buka goodreads dan di updetan ada temenku yang baru selesai baca salah satu novel seri ini. Temenku ini sering sama denganku kalo ngasih rating buku dan waktu aku liat reviewnya terhadao buku ini beserta bintang limanya, aku nggak butuh waktu lama buat nyari versi indonesianya dan mengatur jadwal untuk melakukan penyewaan buku ke rental.


Syukurlah novel ini ada dan gak perlu lama2 buat akhirnya aku memutuskan untuk membaca ini. Review2 di goodreads terutama orang orang yang sering punya kesamaan dalam menilai buku bikin aku terprovokasi secepat kilat hhahhahaa

Nah sekarang aku akan bahas tentang novel ini sendiri.

Setelah black brotherhood, ini adalah novel paranormal lain yang aku baca untuk tahun ini. Dan... This is my review:

Yang aku pikirkan sepanjang aku membaca novel ini adalah: ini visualisasinya kayak gimana kalo di filmin? Sumpah bahkan dengan segala kata baru dan logika baru yang nyaris aku nggak ngerti, aku terus terusan nggak dapet visual yang tepat untuk membayangkan adegan adegan dan cara kerja psy disini. Dan aku sama sekali gak bisa bayangin sebesar apa kalo kita masuk ke dalam psynet, dan rasanya kayak apa. Well, itu bagian tersulitnya dari buku ini untuk di cerna, bahkan sampai akhir. Untung aja aku baca terjemahannya, karena sepertinya aku nggak bakalan ngerti kalo aku baca versi inggrisnya.

Tapi tenang aja, bagian bagian lain buku ini sangaaat menarik sampai sampai yang sulit sulit dicerna itu akhirnya nggak jadi masalah. Dan siapa tokoh utama kita disini saudara saudaraaa....

Lucas n Sascha

Huuuffff. Karena latar belakang cerita tentang lingkungan psy yang digambarkan oleh Nalini, aku mendapati bahwa perbedaan yang dimiliki sascha sebagai psy menurutku sangat mempesona. Sascha adalah heroin kuat dan pemberani yang sangat pantas untuk dicintai dan dilindungi. Ketika semua orang sudah pasti menganggap psy adalah orang orang yang nggak jauh beda dari robot dan dihadapkan dengan cinta, sejujurnya aku penasaran bagaimana cerita akan berjalan. Sascha bisa dibilang punya dua kepribadian. Kepribadian dingin bertopeng tanpa belas kasih dan sempurna dan kepribadian lembut dan penuh kasih sayang. Sungguh bagaimana seseorang bisa membuat keduanya berada dalam dirinya dan tetap membentuk karakter ini dengan sempurna?

Tapi Sascha melakukannya. Demi menutupi dirinya yang bisa merasakan emosi, ketakutan membuatnya menutup emosi itu rapat rapat dalam dirinya. Dicerita lain mungkin motif untuk jadi dingin padahal seharusnya ia adalah orang baik biasanya dengan menebarkan masa lalu dan trauma pada tokoh tersebut, sehingga merasakan emosi menjadi pilihan yang memang sengaja ingin dibuang. Tetapi motif untuk tokoh Sascha ini jelas berbeda. Sascha ingin meledakkan emosinya, ingin mendamba, ingin merasa, tetapi ketakutannya akan hukuman apa yang akan ia peroleh ketika ia ketahuan bisa merasa membuatnya membangun perisai sekuat baja yang akan membuat semua orang tetap melihatnya sebagai makhluk dingin yang sempurna.

Nah, menurutku itu jauh lebih sulit, dan memilukan. Dan berat.

Ia mengingkan banyak sekali hal hal yang bisa dijangkau oleh emosinya, karena itu ia meluapkannya diam diam dengan harapan tidak ada seorang pun yang tahu bahwa ia bisa merasa.

Dan aku bisa merasakan kesepian itu ketika dia sendirian dan terpaksa harus berakting atau ia akan mati.

Lucas muncul sebagai penyelamat. Dia bener bener hero deh disini. Awalnya dia pingin memanfaatkan Sascha karena ia melihat semua psy itu sama dingin dan tidak berperasaan. Yah jelas karena itu memang benar. Tapi ketika dia melihat ada hal hal yang berbeda dalam diri Sascha, dia mulai melupakan tujuan awalnya untuk balas dendam.

Kemudian cerita menjadi semakiiin menarik. Ini adalah tarik ulur bagaimana Lucas berusaha menarik keluar Sascha dari cangkang dinginnya, dan bagaimana Sascha berpegangan pada cangkangnya karena ketakutannya yang besar jika emosinya sampai membeludak keluar. Padahal disisi lain ia juga ingin berpegangan pada tangan Lucas. tapi kemudian ia memiliki dilema akan bagaimana nasibnya kalau ia membiarkan perasaan itu muncul.

Aku capek banget baca ini. Capek karena nggak tega sama Sascha. Pingin Sascha selamat dengan menyembunyikan emosinya, tapi juga pingin ada seseorang yang menolongnya. Dan sejujurnya aku terus dibuat penasaran bagaimana cerita akan berkembang dengan premis tersebut. Aku pemasaran dengan bagaimana cara Nalini mencapai tingkat pemahaman dan mencari jalan keluar untuk keduanya. Daaan... Aku puas dengan hasilnya.

Akhirnya Sascha mencapai puncaknya dan emosinya seperti sebuah bom. Disaat ia menyerah itulah dan meakipun takut siapa yang akan ada disisinya, ternyata Lucas sudah siap melindunginya, bahkan disaat Sascha tidak sadar bahwa Lucas pelan pelan berada dibelakang dan merangkulnya agar bisa berdiri mengadapi apa yang mungkin akan terjadi padanya. Dan ketika ia menyerah itulah, ia mendapatkan pegangan baru.

Chemistry antara Sascha dan Lucas sangat kuat bahkan disaat Sascha masih memakai topengnya. Tetapi pikiran kedua tokoh ini terus terusan menbuatku jatuh cinta.

Yah, begitulah dan cerita masih terus berlanjut dengan tetap memilukan tapi tidak berhasil membuatku ingin berhenti. Setiap halaman membuatku merasa ketagihan.

Yang aku pusing dari buku ini paling ya itu doang sih, kisah dan cerita tentang psy itu sampai sekarang masih sulit dicerna. Meskipun begitu, dengan pemahaman seadaanya aku tetap dibikin terus merasa tegang ketika cerita mulai mencapai klimaks. Duh sascha sascha, dia emang bener bener pemberani. Saking pingin mati terhormat dengan membantu ras lain, dia bahkan merelakan dirinya sendiri untuk mati. Sayang banget deh sama heroin satu ini, bersyukur dia dipasangin sama karakter lucas.

Review: Caressed By Ice - Godaan Changeling Serigala

Caressed By Ice - Godaan Changeling Serigala

My rating: 5 of 5 stars

Baca novel seri Psy Changgeling ini bener bener nggak butuh waktu banyak buat menyelesaikannya. Karena rasanya aku belum juga bosen sama kisahnya.

Nalini mengambil karakter yang berbeda di novel ketiga, dan bisa jadi itu agar kita tidak bosan dengan jenis karakter yang sama. Dan aku sungguh, cukup suka dengan karakter disini, Judd dan Brenna.

Baca novel ini jadi keinget sama Seduce me In Sunricenya Lisa Kleypas, sama sama bercerita bagaimana si heroin berusaha untuk mencairkan es sosok heronya, dan bagaimana si hero ini meskipun dingin tapi tidak pernah bisa melepaskan heroinnya.


Disini juga sama, Brenna nggak pernah berhenti buat menaklukkan Judd, dan dengan penolakan Judd yang sadis dan dingin laki laki ini juga nggak bisa jauh jauh dari Brenna. Karena Judd ini memang pembawaannya dingin tapi rasanya aku mengerti bahwa dia sama sekali bukan orang jahat. Dia psy secara keseluruhan, tapi dia bukan orang jahat. Dia punya empsi yang kuat dan mematikan sehingga Keheningan adalah satu satunya jalan.

Entah berapa kali aku tersentuh dengan interaksi antara Brenna dan Judd yang sama sama ingin melindungi, ingin mengikat satu sama lain, tapi tidak kunjung berhasil. Apalagi si Judd ini kan dingin dan tenang banget ya, diem banget lagi, tapi kalo di depan Brenna ada ada ajaaa dari sikap dinginnya yang bikin lutut lemas. Dan aku suka banget sama karakter Judd, menurutku dia konsisten dengan karakter Psynya. Walaupun diakhir ia agak melembut, itu semata mata karena itu adalah pilihannya untuk menghadapi proses.

Terutama bagian ketika Judd masuk ke benaknya dan berusaha melepaskan pengendalian2nya yang mematikan, kemudian pingsan selama 3 jam yang bikin Brenna takut setengah mati, tapi tiba2 ngobrol sama Brenna lewat telepati dan dengan kata2 yang sangat lembut.

Kayaknya bisa bayangin deh gimana orang orang luar selain Brenna akan terus melihat Judd sebagai sosok yang dingin dan sulit di dekati sampai2 nggak yakin ada cara buat melelehkan dinding esnya. Dan ketika berada bersama Brenna, akhirnya kita tahu metode apa yang bisa melelehkan dinding es itu dan hanya Brenna yang punya. Sehingga, kedua karakter ini buat aku berhasil memunculkan chemistry yang begitu kuat. Meskipun yaah, konfliknya nggak sesadis seduce me in sunrice, tapi tetep saja sangat menarik, karena aku udah duluan jatuh cinta sama tokoh2nya. Dan Judd, seriously he make me dying :* sukaaa banget

Friday, April 3, 2015

Review: Lover Unbound - Kekasih yang Tak Terikat


Lover Unbound - Kekasih yang Tak Terikat
Lover Unbound - Kekasih yang Tak Terikat by J.R. Ward

My rating: 5 of 5 stars



Sampai saat ini, entah kenapa selalu yang heroinnya manusia selalu aku beri bintang 5 deh. Mungkin karena aku berfikir Beth, Mary, dan Jane yang mereka hidup di dunia manusia terlihat modern dan keren, jadi alurnya juga nggak membosankan. Percakapan dengan para hero nya juga nggak klemar klemer, gak menye-menye, yah... jadi suka aja.

Tapi bukan cuma perkara heroinnya manusia aja yang bikin aku jadi suka banget sama novel ini. Sejujurnya, kisah V sendirilah yang membuatku penasaran dan tidak bisa berhenti untuk membaca. Waaaaa.... ternyata V itu biseks ya, dan bagaimana deskripsi perasaan dia terhadap Butch eeeerrrr rasanya nggak pingin bacaaa.. Sedih banget emang, tapi ya tetep aku nggak setuju kalo trus mereka jadian, tapi juga gak tega sama perasaan V yang complicated, yang nyalahin dirinya sendiri terus, tapi dia tetep pingiiin banget berada di samping Butch. Itulah pemicu kenapa aku merasa harus tahu bagaimana perasaan V yang berubah dari Butch ke Jane.


Rasanya puas banget baca novelnya V. Di awal awal masih digambarin gitu kan ya gimana dia sangat terganggu dengan keberadaan Butch dan Marissa dan kegiatan mereka yang bikin V jealous setengah mati. Trus waktu V menggambarkan ketika dia bikin belatinya Butch dan dia bikin khusus banget beda daripaada yang lain saking ia menganggap Butch itu istimewa. Sampai untuk mengalihkan perasaannya dia harus melakukan BDSM juga. Begitulah, sampai akhirnya ia bertemu dengan Jane yang menyelamatkan hidupnya ketika ia ditembak dan nyaris mati.

Awalnya dia ketemu Jane dan merasa harus membawa Jane ke rumahnya semata karena penerawangannya dan bahkan dia nggak terlau menghiraukan teriakan posesif dari dalam dirinya karena keyakinannya masih suka sama Butch. Baru deh setelah dia kenal sedikiiit aja sama Jane waktu sadar, kemudian dia memeluk Butch di atas kasurnya untuk menyembuhkan Butch yang menghisap lesser dan Jane disana melihat dengan kesimpulannya sendiri, V kelihatannya mulai pindah ketertarikannya. Dia merasa bahwa memeluk Butch seperti itu adalah hal yang sangat ia inginkan, tapi kemudian dia merasa Butch nggak lebih dari sahabat. Lagipula, entah kenapa ia sangat tertarik pada Jane sampe sampe nggak terlau peduli sama perasaannya sama Butch.

Ya ampuuun suka banget deh sama V. Dia selalu ingin Jane menanggapnya sederjat dengan Jane dan bukannya aneh, dia nggak suka kalo Jane ngelihatin dia sekedar sebagai pasien tapi pingin sebagai lelaki, dan bahkan ketika Jane menerima kalau V emang suka sama Butch dia nggak pingin Jane berfikir seperti itu. Trus interaksi V dan Jane yang emang sih sering berdebat, tapi obrolan mereka itu asikkk banget. Trus momen yang terjadi di antara keduanya juga cerdas, dan karena Jane itu tipe heroin kesukaanku, maka kelembutan V bikin aku melting.

Yaaah, masa lalu V untunglah bisa ia lewati sejalan dengan Jane disampingnya. Tapi emang tuh sedih banget waktu akhirnya V ngelepasin Jane. Dulu dia ngerasa nggak bisa hidup tanpa Butch, tapi siapa sangka bahwa perasaannya pada Jane bener-bener kuat sampe aku sendiri bisa melihat betapa ia sama sekali tidak bisa hidup tanpa Jane. Jadi... seolah-olah, meskipun ia pernah memiliki perasaan yang cukup dalam pada Butch, tapi aku sangat tersentuh dengan perasaannya pada Jane. Waktu Jane lupa ingatan, Jane sering nangis sendirian tanpa tahu alasannya, tapi V juga ngggak bisa nggak lihat Jane. Tapi ya waktu akhirnya V bisa kembali pada Jane, bisa dibayangin dong bagaimana bahagianya dia.

Sayangnya,V ini sosok yang hidupnya miris banget sampe aku nggak tega. Bahkan hingga akhirpun dia masih dikasih cobaan yang begitu berat, sampe aku juga ngerasa Jane nggak bisa pergi meninggalkan V. Rasanya pingin banget liat Jane meluk V lagi. Dan syukurlah, meskipun sedikit maksa emang, tapi aku ngerasa bahwa V tetep lebih pantas merasakan kebahagiaan dengan Jane berada di sampingnya. Entah berapa kali aku menangis melihat mereka berdua. V sungguh tergila-gila pada Jane, gilaaa...



View all my reviews

Tuesday, March 24, 2015

Review: Lover Eternal


Lover Eternal
Lover Eternal by J.R. Ward

My rating: 5 of 5 stars

Duuuuh suka bangettt sama novel ini. Nggak bisa deh nurunin bintang dari bintang 5. Novel ini terhitung lengkap, komplit menurutku. Hubungan sebab akibat di dalam novel ini dijelaskan secara rinci dan nggak bisa berhenti senyum lihat adegan Rhage sama Mary.

Rhage yang terkenal gonta-ganti wanita, yang katanya seminggu bisa pake 8 wanita berbeda, terikat pada wanita yang sama sekali tidak cantik dan sedang menderita sakit yang parah. Kalo bayangin gimana seorang Rhage yang jadi incaran hampir semua wanita tertarik pada Mary yang dengan penggambarannya sepertinya sama sekali bukan menjadi perhatian laki-laki manapun, aaaaaa nggak berhenti senyum deh pokoknya.

Wednesday, March 18, 2015

A Loving Scoundrel (Malory-Anderson Family #7)



Because I read this series when Jeremy was 15 years old, so when I saw him at the age of 25 years, it feels like I've been following the story of Malory for 10 years.

There are many reunions Malory - Anderson which again makes me want to read their novels. The figures who have married also feels more real as a happily married couple, but every couple always has a story full of conflict. Seeing the couple's partner along made me forget that in every story they have the hassle of the same complex as the novel I'm reading right now. It feels a bit strange but fun to see Jeremy finally decided to get married. Funny anyway, he is the most character who can not commit and finally declare himself surrendered to that image in the aisle.

For the story, to be honest there are some emotions that did not feel up to the top and stopped. There are scenes that are too fast when the story could have been served with passionate emotion. But overall, the story is still worth to be followed.


Wanna this book? Grab fast click this link


♥♥♥♥♥ Alina Za

Thursday, March 12, 2015

Review: Dirty Little Secret by Aliazalea


Dirty Little Secret

My rating: 4 of 5 stars



Finally habis juga semua bukunya Alia Zalea. jujur aja sebenernya ini novel udah aku incer lama banget tapi motif untuk beli gak sepadan sampa hal lainnya jadinya sih uangnya selalu dialokasikan untuk hal lain. Tapi kemarin tiba tiba tiba nemu di rental ya langsung aku sabet si ya..

Sumpah demi apa ternyata udah lama banget aku baca novelnya aliazalea. Overall masih suka sih dan aku suka salut sama novelis indonesia, setidaknya mereka selalu berhasil menciptakan alur yang unik kalo pinter milih novelnya. Tapi selama ini penuli favoritku memang selalu menghadirkam cerita yang tidak too much cheesy.

Monday, February 23, 2015

The Present by Johanna Lindsey (Malory-Anderson Family #6)

 Click here to see Indonesian Review for this novel

Synopsis:
As the entire Malory family gathers at Haverston to celebrate the season, a mysterious present arrives anonymously. The gift is an old journal -- a tender and tempestuous account of the love affair between the second Marquis, Christopher Malory, and a dark gypsy beauty named Anastasia, who seeks a love match with a non-gypsy in order to save herself from a prearranged marriage to a brute. Though the dashing English lord Anastasia sets her sight upon burns for the exquisite, exotic miss, Christopher could never consent to wed such a lowborn lady. But miracles have been known to happen in this season of peace and giving and love, as two extraordinary people seperated by cicumstance of birth begin a passionate dance of will and wiles. And in the miraculous blossoming of a glorious romance at a long ago Christmastime, there are wise and well-learned lessons that will enrich the hearts of the Malory descendants -- and, indeed, of everyone who has ever dreamed.

My Review:
I particularly liked the ending of this novel. Geez, if anyone asks what is my judgment to give 5 stars for book I read? The answer is the end of story of the book itself. End of story in the novel has always successfully provided a strong influence for my judgment. And I think a good novel is what got me itching to discuss it shortly after I finished reading it, which is when I've reached the end of the story.

Friday, February 20, 2015

Say You Love Me by Johanna Lindsey (Malory-Anderson Family #5)


Synopsis from the Book:
Left penniless and in dire straits, Kelsey Langton realizes that only by allowing herself to be sold at auction canshe rescue her sister's future. So the proud, desperate lady enters the infamous House ofEros, resigned to becoming some well-heeled gentleman's plaything -- and Lord Derek Malory is the highest bidder for Kelsey's charms.

A handsome and irredeemable scoundrel, Derek soon draws the sensuous, unsuspecting maiden into a world of unparalleled pleasures and dangerous rivalries. But Kelsey knows she must always guard the secretof her highborn past -- even as her grace, spirit, and beauty entice her new "master" to renounce his scandalous ways and take a gamble on true love.

My Review:
Like the other friends, hero character in this novel is quite different from usual. Derek is not a bad boy, he is romantic and really nice. In this novel, misunderstanding not be a cause of conflict because it is presented in another way. Although there will be a misunderstanding, but it is presented with an attitude of understanding between the characters.

Tender Rebel by Johanna Lindsey (Malory-Anderson Family #2)

I have not been this Malory series for such a long time, and now, when I read another, feels like I should open the other again.

After I read this from the first book, I found that Johanna Lindsey has some uniqueness in her stories. That is the way she never forgot to make us open another book from the same series. She always makes us glance at the book before or afterwards. JL has always made me curious about the stories of other characters, though in this case I've read the other three books in this Malory series. When I read the first book, I felt compelled to read the story of James and Anthony. When I read The Present, I feel obliged to know the story between Warren and Amy roomates is unique. When I read the fourth book, I was intrigued by Jeremy's story that I had never read.
Well, when I read this second book, Tender Rebel, suddenly I wanna read the first or the afterwards book I have ever read before.

Indeed, when reading the Present, I do not really follow Anthony and Roslynn part though interested, but I was not serious enough, including the story of James and Gregorina. And now I want to read The Present again. And when I read the Tender Rebel, again I want to read Love Only Once that tells the emergence of James and Jeremy for the first time. This book also made me want to re-read Gentle Rogue where I forget the plot and could not write the review. Blaah.

Thursday, February 19, 2015

The Magic Of You by Johanna Lindsey (Malory-Anderson Family #4)

I just finished 3 JL’s novels when I read this. And I gave two of them with 5 stars. Somehow I really love the way JL process her stories become very interesting and not boring at all. It’s adorable, funny, lively, exciting, romantic, strained, and certainly complete!

I couldn’t stop myself to stop reading before I finished it. I just could take a break about 10 minutes before I should continue reading. Sometimes I know this kind of genre is unpredictable if I take a look the ending in this book. In this case, I finally just gave up to find the spoiler and read patiently from the start, which is I couldn't wait to finish.

Normally I do not like stories where there is a conversation that does not involve the main character, especially if the viewpoint is put to the supporting cast. Well, this novel is an exception because I cannot stop falling in love for each supporting character when the viewpoint switching to them. When I read the story of James and Georgina in the beginning which occupies parts quite a lot, I still love it to death instead it made me even more impatient to read their stories. I wanted to scream see James and Georgina who are very adorable. Plus the presence of Jeremy who made me breathless with overflowing charm despite his appearance did not last long, but still so dominant.

Tuesday, February 17, 2015

Love Only Once by Johanna Lindsey (Mallory-Anderson #1)

Click here to see: Indonesian Review for this Novel





I like Johanna Lindsey..

Somehow this book is a good start for me to read Johanna Lindsey's book.. The story in this book is rather complicated and difficult to follow. I mean, if I was asked to tell the story in detail from the beginning, I was definitely confused to answer. But if you look my progress, you’ll know what I mean.

From the beginning there were always parts that I wanted to pass because I hardly got the point and I became bored. But later, in some parts of the book, I felt like I should back to the part which I said I didn't get the point’. It’s because I needed the information. And I often felt like that. I think JL loves to put the mystery in her story, so we cannot forget how the story was going anyway. Sometimes I was not wondering and not curious about a few things, but suddenly surprised in simply so I have to repeat to read again like I said.

Geez, Mallory family was really potential to recount in another stories. I like this kind of family story, full of debate and affectionate, exciting, and most important they have unique various characters in each person. I love them in once they appear in the book. And they all have the potential to be loved. It’s including Anthony and James who fairly make me curious.

Thursday, February 5, 2015

Review: Ten Things I Love About You - Sepuluh yang Kucinta Tentangmu


Ten Things I Love About You - Sepuluh yang Kucinta Tentangmu

My rating: 4 of 5 stars



Waaaah.. sebastiaaaaan..

Kayaknya kalo diinget-inget lagi, yang bikin aku bertahan baca seri kedua Bevelstoke termasuk karena keberadaan Sebastian ini, sepupu Harry yang dari luar dia kelihatan begitu sempurna dan tenang. Rasanya nggak ada apapun yang bisa membuat orang ini goyah sampai sampai bikin penasaran gimana rasanya kalo bisa lihat Seb marah.

Entah karena aku memang menyukai seri ketiga ini atau apa, kenapa disini karakter Harry sama Olivia jadi nyenengin gini ya? Mereka lucu. Olivia cerewet sedangkan Harry jarang ngomong. Apa emang sebenernya dari seri kedua emang karakter mereka kayak gitu ya? Habis gara-gara lihat kehadiran mereka disini jadi penasaran gitu, rasanya pingin curi-curi baca Bevelstoke #2 lagi deh.

Trus, ya ampun ya ampuuun, rahasia sebastian yang diungkapkan disini bikin pingin aku baca lagi semua bagian dia di Bevelstoke #2. Kelucu-lucuannya dia, waktu dia bacain novel ke semua orang - duh, serasa nih orang isinya bikin ngakak mulu -, trus setiap dialog dia pingin baca lagi.


Novel ini bener-bener cocok sama karakter sebastian yang penuh humor tetapi memiliki trauma tentang perang dan keseriusan yang tidak semua orang pernah melihatnya. Disini sebastian bikin melting, bikin speechless, kok bisa ni orang kalo ngomong bisa konyol banget? Dari novel sebelumnya, sosok seb ini tidak mengalami perubahan sehingga disini kental sekali penggambaran tentang karakter gentleman yang baik hati, sopan, lucu, suka membantu dan dihadapkan pada konflik-konflik yang menyangkut emosi-emosi yang jarang ia rasakan.

Aku suka di novel ini kita tidak terlalu sering disajikan adegan yang intim melainkan cukup dihadirkan dialog dan suasana yang khas sebastian dan novel ini menjadi jauh menyenangkan. Tidak ada satu hal pun yang membuatku bosan dengan setiap deskripsi dan penggambaran suasana yang penuh humor begitu pula dialog-dialog yang tidak jauh dari lucu. Selain itu, disini bisa merasakan bagaimana setiap tokoh merasakan 'sesuatu'.

Terhibur banget sama novel ini. Khas Julia Quinn yang memang tidak terlalu emosional tetapi peletakan humor khas julia terasa sangat kental disini/ Suka bangeeeetttt sama si Sebastian ini. Dan dengan ini, akhirnyaaa.. selesai juga seri ini :D



Thursday, January 29, 2015

Review: Katakan Cinta


Katakan Cinta
Katakan Cinta by Johanna Lindsey

My rating: 4 of 5 stars



Sama seperti kata yang lainnya,bahwa di novel ini kita akan menemukan karakter hero yang cukup berbeda dengan yang biasanya kita temukan di seri malory ini. Yap, karakter Derek emang bukan yang bad boy, bahkan dia adalah pria yang sangaaat baik dan romantis. Di novel ini kita akan selalu diberikan kisah yang tidak menjadikan salah paham sebagai pemicunya. Hampir semua konflik merupakan tema lain, dan apa yang mungkin bisa menjadi pemicu salah paham dihadirkan dengan saling pengertian antar tokohnya. Aku suka sama tokoh Kelsey dan Derek ini. Mereka punya chemistry yang pas dari awal hingga akhir, bahkan aku suka sama Kelsey yang sangat pengertian dan mudah memaafkan. Dan kemudahan Kelsey dalam memaafkan ini tidak kemudian di panas-panasi dengan konflik yang lebih ekstrim, justru semakin kesini semakin diperlihatkan bahwa Derek dan Kelsey semakin dekat dan serasi.


Aku sukaaa penggambaran konflik ketika Kelsey diculik. Ketegangannya nggak berhenti-berhenti hingga akhir. Dan rasanya pingin banget teriak 'cepeeet. cepet derek selametin Kelsey cepeeet'

Dan Kelsey harus diacungi jempol dengan sifat tidak menyerahnya dan kemauan kerasnya untuk kabur, bukannya memasrahkan diri untuk diperkosa. Suka banget deh dengan heroin yang kayak Kelsey ini, hampir mirip regina dan amy. Nggak terlalu banyak menuntut, gampang bersyukur, dan nggak mudah menyerah. Apalagi kejujuran yang merupakan salah satu sifat tokoh yang paling aku sukai, dan selalu aku sukai. Semua konflik dihadirkan dengan manis dan cukup sesuai porsinya. Saking penasarannya, akhirnya novel ini selesai dalam waktu sehari dan jujur disini aku penasaran mulu dan pingin cepet-cepet tahu endingnya. Hihihi.



View all my reviews

Wednesday, January 14, 2015

Review: Seduce Me at Sunrise


Seduce Me at Sunrise

My rating: 5 of 5 stars



Aaaaaaaa suka banget sama si Merripen dan Win suka suka suka bangeeeeetttt

Bintang 5 ini aku taruh karena karakternya yang gak berhenti bikin gemesss.

hubungan Kev dan Win ini sudah menarik hatiku jauh jauh dari aku baca kisahnya Amelia dan Cam, bahkan di seri pertamanya aja aku jg udah bilang kan kalo dua tokoh itu mencuri perhatianku dan bikin aku penasaran banget.

And here we go,
akhirnya aku baca juga novel ini. Udah penasaran bangeeet dan jujur aku sebenernya males banget baca novel historical romance yaaaang masih bahasa inggris. Beneran deh pingin dapet terjemahannya tapi gak dapet dapet dan udah penasaran banget yaudah deeeeh akhirnya aku download aja ebooknya dan harus bertahan baca dan lamaaa..


Dari awal baca buku ini nggak tau kenapa, mungkin karena udah excited bakalan baca kisah mereka, ketika aku baca buku ini dari awal isinya dah pingin teriak-teriak aja. Menariknya, kedua tokoh ini merupakan tokoh yang nggak baru kenal tapi udah sekian lama saling tertarik. Dan lucunya, entah Kev atau Win itu sudah saling memuja, hanya saja karena Kev takut dengan masa lalunya dia nggak pernah mau ngungkapin rasa cintanya yang teramat dalam kepada si Win ini.

Gemes banget deh sama Merripen. Di seri pertama ia memang terkesan cuek, dingin, meskipun baik hati. Tapi kalo udah berhadapan sama Win, he can be sooo adorable and romantic. Betapapun berusahanya dia untuk tidak menspesialkan Win, tapi rasanya si Kev ini reflek aja apa-apa nggak bisa lepas dari Win. Apapun yang terjadi pada Win, Kev selalu ada disana. Dari sisi Win juga, selain udah jatuh cinta dari pandangan pertama sama si Merripen, dia juga nggak bisa pura-pura buta untuk merhatiin kalo sikap Merripen terhadapnya itu bukan sekedar keluarga, adik, saudara, atau teman, tapi jauh lebih daripada itu. Hanya saja memang Win sempat hampir menyerah karena Kev tu keras kepala banget buat ngaku kalo dia cinta sama Win.

Dulu kesehatan WIn yang sering menurun itu merupakan alasan Kev buat lebih merhatiin Win, tapi ketika Win sudah sembuh, jelas perhatian Kev bisa menjadi sesuatu yang lain. Dia nggak pernah ngeliatin itu, tapi tubuhnya selalu bertindak sesukanya and it comes tooo sweet :D

Aku suka sama Win. Aku suka kekeras kepalaan dia buat bisa berhasil bikin Kev ngaku, tapi aku juga suka sama caranya dia akhirnya menyerah karena Kev nggak berada dipihaknya ketika dia berada dalam posisi sulit, tapiii aku juga suka banget sama Win yang nggak pake protes waktu akhirnya Kev akhirnya juga menyerah sama Win sampe melakukan penculikan.

I can say, di novel ini memang nggak banyak komedinya. Karena Lisa Kleypas emang dari awal kalo nulis udah deh romantiiis banget. Dan novel ini pun begitu, meskipun serius tapi jatuhnya nggak pernah membosankan. Selalu cerita jadi menarik dan romantis.

Suka banget sama Kev sama Win, mereka ini udah kayak ada benang merahnya. Katakanlah mereka ini nggak bisa deh dipisahin, seberapapun usaha mereka untuk berpisah, mereka selalu nyatu lagi. Yah, namanya udah cinta.

Suka banget waktu si pelayan Win cerita kalo waktu Win pergi ke Perancis, Kev itu milihin wallpaper sampe bikin tukangnya kesel garagara dia keukeh pingin milih sendiri sampe 100an ada tuh dibawa. Dan dia juga milihinnya udah yang kayak Win banget, kayak yang tau cuma Kev doang. Apalagi waktu Win inget, waktu dia dulu sakit dan nggak bisa apa-apa kecuali melihat keluar jendela, Kev yang takut tinggi sampe berusaha naik pohon dari luar kamar Win cuma biar Win bisa ngelihat pemandangan di luar jendela dengan jelas. Siapa yang nggak jatuh cinta coba sama orang yang nggak mau ngaku cinta tapi merlakuinnya sampe gitu banget. Udah gitu dia bilang kan, si Merripen ini, katanya 'Langit harus selalu terlihat biru untuk Win'.

Kyaaaaa~ pingin tereak deh baca nih novel. Si Kev ni luar biasa deh kalo udah sekalinya jatuh cinta, nggak ada yang bisa ngalahin bahkan kekeraskepalaannya pun nggak mempan buat mematahkan perasaannya itu hahahha