Review: The Black Lizard / Beast in the Shadows

The Black Lizard / Beast in the Shadows The Black Lizard / Beast in the Shadows by Edogawa Rampo
My rating: 5 of 5 stars

Sejak awal membaca The Black Lizard, aku sudah tahu bahwa tokoh utamanya—Black Lizard—adalah seorang villain: kriminal, penculik, dan sosok yang jelas-jelas berada di sisi yang salah secara moral. Namun yang menarik, novel ini justru mengajakku mengikuti sudut pandangnya. Black Lizard digambarkan bukan sekadar sebagai penjahat, melainkan sebagai figur yang indah, anggun, cerdas, dan nyaris seperti dewi. Cara penggambaran ini sempat membuatku terkecoh. Aku mendapati diriku menyoraki kecerdasan dan kepiawaiannya, terutama saat ia berhadapan dengan Akechi Kogoro. 
Di titik ini, aku menyadari bahwa novel ini dengan sengaja membangun pesona kejahatan. Kejahatan yang rapi, terencana, dan dikemas dengan estetika. Dan sebagai pembaca, aku ikut terseret untuk mengaguminya—meski sadar bahwa kekaguman itu seharusnya problematis. 

Namun, seiring cerita berjalan, kekaguman itu perlahan retak. Bukan semata karena Black Lizard melakukan kejahatan, melainkan karena caranya memandang manusia. Titik paling tidak nyaman bagiku adalah ketika Sanae akhirnya dimasukkan ke dalam kandang. Bagian ini terasa “sakit” untuk dibaca. Bukan karena adegannya sensasional, tetapi karena di sanalah ketidakbermoralan Black Lizard ditampilkan secara telanjang. Manusia tidak lagi diperlakukan sebagai manusia, melainkan sebagai objek—sebagai koleksi hidup. 
<spoiler>
Di museum miliknya, manusia hidup dijadikan semacam boneka pajangan, dikurung tanpa harapan, tanpa jalan keluar. Di titik ini, kecantikan dan keanggunan Black Lizard runtuh sepenuhnya bagiku. Yang tersisa hanyalah kemarahan dan rasa tidak sanggup melihat betapa hopeless-nya posisi para korban. Aku benar-benar merasa, jika novel ini berakhir dengan kemenangan Black Lizard, maka cerita ini akan menjadi validasi bahwa orang jahat memang pantas menang—dan itu bukan sesuatu yang ingin kubaca. 

Bukan karena aku menolak realisme. Cerita tentang kejahatan yang menang ada banyak di dunia nyata. Tetapi aku membaca fiksi juga untuk merasakan adanya harapan—bahwa di balik kekejaman, masih ada kemungkinan keadilan, atau setidaknya makna. 

Karena itu, ketika plot twist hadir di bagian akhir—saat Black Lizard membaca koran tentang keberhasilan Akechi—aku benar-benar merasakan dampaknya. Plot twist ini tidak terasa sekadar sebagai kejutan cerita. Ia bekerja sebagai rekontekstualisasi: aku, sebagai pembaca, baru menyadari bahwa Akechi telah menyusun rencana yang sangat cerdas jauh sebelum semua itu terungkap. Ada semacam “keajaiban” yang muncul dari hal-hal yang sebelumnya tidak kuketahui. Harapan itu datang bukan dengan cara manis, tetapi dengan kecerdasan yang tenang dan terencana. 

Ending novel ini terasa dramatis, namun sangat memuaskan bagiku. Black Lizard tidak berubah menjadi sosok yang menyesal atau hancur secara moral. Ia tetap hidup dengan kebanggaan atas kepiawaiannya dalam melakukan kejahatan, dengan kecantikan yang terasa seperti samaran dari jiwa yang iblis. Ia berakhir dengan kebanggaan itu—dan justru di situlah kepuasanku sebagai pembaca. Kejahatan tidak dimuliakan, tetapi juga tidak disederhanakan. Ia kalah, tanpa harus direndahkan. 
 </spoiler> 

Menariknya, kebingunganku di awal cerita tentang tokoh Yoko ternyata menjadi bagian penting dari kepuasan di akhir. Awalnya aku tidak benar-benar memahami fungsi kemunculannya, bahkan sempat mengabaikannya. Namun setelah sampai di penghujung cerita dan mendengar penuturan Akechi, aku baru menyadari betapa krusial peran Yoko dalam keseluruhan rencana. Ketidaktahuanku di awal bukan kelemahan membaca, melainkan bagian dari desain cerita yang membuat pengungkapan akhirnya terasa rapi dan tak terduga. 

Pada akhirnya, The Black Lizard adalah pengalaman membaca yang membuatku berkonflik, tidak nyaman, marah, sekaligus puas. Novel ini mengajakku mengagumi kejahatan, lalu memaksaku menarik kembali kekaguman itu. Dan justru di sanalah kekuatannya: ia tidak hanya bercerita tentang kriminal dan detektif, tetapi juga menguji batas empati, moral, dan harapan pembacanya.

View all my reviews

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Magic Of You by Johanna Lindsey (Malory-Anderson Family #4)

Review: Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990

Review: Critical Eleven - Ika Natassa