Friday, August 23, 2013

Review: Fly to the Sky


Fly to the Sky

My rating: 4 of 5 stars



Ada puas nggak puasnya baca buku ini.
Puasnya adalah karena aku suka sama cara bercerita kedua penulisnya,Nina Ardianti bisa membuatku benar-benar masuk ke dalam karakter Edyta dan Moemoe Rizal berhasil membuatku memahami karakter Ardian sepenuhnya. Sukaaaaaa banget. Buat aku salah satu charm dari buku ini adalah karena kedua penulisnya bisa menjabarkan dan mendeskripsikan setiap tokohnya dengan cara yang berbeda. Edyta dengan emosi dan pikirannya sebagai seorang cewek, sedangkan Ardian dengan emosi dan pikirannya sebagai seorang cowok. Dan kedua tokoh ini entah kenapa memiliki keunikan masing-masing dari cara si penulis menjabarkan isi hati para tokohnya. Waaawww... aku suka banget deh cara penggunaan sudut pandang orang pertamanya. Mungkin karena karakter tokohnya sendiri cukup unik sehingga terasa sekali bahwa mereka berdua kalau di pasangkan alangkah cocoknya . Dan kedua tokoh ini bikin kita selalu menerka-nerka apa yang kira-kira mereka pikirkan, dan menariknya, itu terjawab!


Ketika aku sedang berada di sisi Edyta, aku mencoba menerka apakah Ardian ini adalah tipe cowok yang sama seperti yang ada dipikirannya? Apakah Ardian sungguh bisa peduli padanya dan tidak membencinya seperti Radit? Dan berharap setengah mati bahwa Ardian mungkin saja cowok yang sama seperti yang dipikirkan Edyta.

Tapiiii begitu memasuki karakter Ardian, baru ketauan deh Ardian itu tipe cowok yang gimana. Perfeksionis. Dan Edyta? Bukan tipenya sama sekali. Tapi setelah pengalamannya yaah.. akhirnya ia mengubah checklist cewek idamannya dan mengarah ke Edyta.

Kalo bilang suka, aku suka banget kok. Aku suka sama cara mereka merasakan satu sama lain. Menemukan ujung benang merah satu sama lain, padahal di satu sisi mereka nggak punya hubungan seeeeedikitpun. Tapi perasaan mereka itu sangat kuat meskipun saling mengetahui bahwa sifat kedunya sangatlah bertolak belakang.


Yang unik dari novel ini adalah karena cerita dan idenya itu sendiri.
Biasanya nih ya, novel itu, cara nemuin dua tokoh utamanya adalah dengan kebetulan-kebetulan yang berujung pada keseharian. Misalnya, ternyata si A ini siapanya si B, ternyata mereka ini satu tempat kerja, satu komunitas, atau pun apaaaa saja yang mungkin mengkaitkan keduanya bertemu sebagai takdir.

Lah ini? Setelah satu kali pertemuan yang cukup berkesan sebagai stranger, mereka dipisahkan. Dan itu paksa. Daaaan... parahnya mereka itu cuma punya bekal nama depan, mereka nggak tau sedikitpun satu sama lain, dan nggak ada kebetulan yang kayak di novel-novel lain. Kebetulan yang diharapkan hanya menjadi angan-angan tanpa terealisasikan seberapapun mereka berusaha. Bahkan bukan cuma berusaha, mereka berusaha sangaaaat keras untuk bisa keep in touch satu sama lain. Hingga akhirnya keduanya saling menyerah, dan mereka di pertemukan. Rasanya tuh kayak bisa bernafas dan aku bisa merasakan kebahagian kedua tokoh dalam buku ini.


Kelebihannya lagi, buku ini berhasil membawa kita mengikuti buku ini secara emosi. Cerita buku ini nggak terburu-buru, malah terkesan pas porsinya. Buku setebel ini cuma buat nyeritain suatu pertemuan itu pastilah harus bisa menang secara emosional. Untuk cerita yang cuma mengandalkan pertemuan pertama yang tidak saling mengenal untuk di jadikan 'cinta' itu hampir mustahil menurutku untuk bisa diceritakan. Tapi kedua penulis ini berhasil mengangkatnya menjadi cerita yang keren. Pertama, mereka menggunakan sudut pandang orang pertama. jelas, kita langsung ngikutin semua emosi dan pikiran para tokohnya kan? Dan Edyta sama Ardian punya cara masing-masing untuk mengutarakan pikiran dan perasaan mereka di buku ini. Kedua, si penulis berhasil membuat alasan-alasan kenapaaaa pertemuan pertama itu bisa menjadi kesan yang mendalam bagi keduanya untuk bisa mendorong tokohnya mencari satu sama lain. Kedua tokohnya dipertemukan dengan cara yang sangaaaaat unik dan rasa penasaran satu dengan yang lain entah kenapa bisa membuat keduanya terasa cocok. Kalo Edyta dengan kekagumannya dengan Ardian yang bisa menghilangkan segala masalahnya, sedangkan Ardian yang merasa Edyta unik dengan berbagai ekspresi dan kesialannya. yaaah... yang gini ini deh kelihatan Real.

Kurangnya yaaa... kurangnya itu jelaaaaassss kurang panjaaaang!! Astaga, setelah mereka bertemu lagi dengan sebegini manisnya, setelah perjuangan yang begitu mendebarkan, semua cerita berakhir disitu?? Uuuugggh... rasanya pingin banget tau kelanjutan keduanya. Mereka ini kan berpotensi banget untuk dilanjutkan kisah cintanya, mungkin satu atau dua buku lagi gitu? Aku pingin lihat lagi bagaimana Ardian akan berusaha untuk menutupi dan membersihkan segala masalah edyta beserta konflik-konflik keduanya yang bertentangan. Aku pingin lihat keduanya bertengkar karena sifat yang beda tapi habis itu baikan dan lebih mengerti satu sama lain. Duuh... pokoknya pingin pingin pingiiiiiiiin banget lihat hubungan keduanya lagi. Apa kek, sampe persiapan pernikahan atau apa.? Duh mereka ini kan tokoh2 yang bikin ketar-ketir.



Wednesday, August 21, 2013

Review: Love United: High School Paradise 2nd Half


Love United: High School Paradise 2nd Half

My rating: 3 of 5 stars



Yaaapp... seperti sinopsis di belakang bukunya, kali ini yang di prioritaskan adalah kisah cinta antara setiap anggota si fantastic four! Sebenarnya aku berharap ada kisah-kisah romantis yang bisa bikin deg-degan dan senyum-senyum sendiri waktu baca, tapi sayangnya sih nggak sesuai dengan ekspektasiku.

Nggak apa! Aku bilang kan kalo tokoh utamanya disini ada 4 orang, jadi emang agak susah kalo mau bikin karakter unik-unik yang terbatas halaman-halaman di buku. Untuk tokohnya, karakter yang paling dominan adalah Sid dan Julia. Mereka udah kelihatan saling tertarik dari buku pertama dan baru selesai di akhir buku ini. Proses kisah cinta mereka emang yang diceritain paling lama soalnya Sid itu terlaluuuu bego buat ngertiin perasaannya kalo suka sama Julie. Sedangkan tokoh yang lainnya dapet cara yang lebih gampang buat dapetin pasangannya masing-masing.


Kisah sekolah dan remajanya sebenarnya selalu di angkat di dua buku ini, tapi yaitu, aku nggak dapet alasan buat terus membolak-balik buku ini untuk alasan kisah sekolahnya, selaiiin... kisah cinta anak-anak ini yang bikin gemes sekaligus geregetan bisa berhasil bikin aku membalik halaman terus karena penasaran, yah lumayan bikin penasaran. Yang paling aku suka itu antara Lando dan Aida yang diem-diem tapi pengertian, bikin kejer deh pokoknya dua anak ini. Rama sama Lara hmm.. mereka biasa-biasa aja, kayak yang udah Rama sebutin sih kalo 3 tahun itu bukan waktu untuk mereka terus-terus romantisan kayak anak labil. Nah, kisah cintanya Cookie nggak dibahas terlalu dalam, dan terkesan cepat. Kalo Sid... dia sih yang paling dominan plus paling lama kelarnya.

Aku sih berhasil dibikin terhipnotis sama buku ini sampai pertengahan buku, setelah itu alurnya terasa lambat, konfliknya mulai hambar, dan udah nggak ada yang bikin deg-degan. Walaupun yaah.. dari awal emang nggak ada yang bikin berdesir gimanaaa gitu, tapi makin ke belakang makin biasa aja, dan setelah semakin mudah di tebak jadi banyak di skip deh ceritanya.. No offense ya... mungkin ini juga pengaruh dulu pernah baca jadi mungkin ingatannya agak menclok menclok gitu jadinya beberapa bagian terasa bosan. Well, terlepas dari itu, buku ini bagus!!!



Review: You Are My Sunshine: Matahari dari Tokyo


You Are My Sunshine: Matahari dari Tokyo

My rating: 3 of 5 stars



Sayang banget sayaaaaang banget, buku ini bener-bener diluar ekspektasiku. Aah, padahal synopsis di belakangnya tuh dah bagus banget, aku hamper mikir ini buku bakal jadi kayak novelnya liana tan yang winter in Tokyo itu . Huff sayangnya nggak gitu.

Sebelum baca, sebenernya aku sempet curi-curi beberapa adegan dan percakapan para tokohnya, dan I found it sooo interesting. Langsung tau aja gitu kalo karakter Kristal pasti bakalan sinis nyebelin gimana gitu, sedangkan Ryouta orangnya pemalu, tapi ceria. Harusnya kalo di eksekusi dan karakternya ini di olah dengan kuat, seharusnya ceritanya jadi sangat menaaaarik yakin. Orang sekilas aku dah nemuin bahwa karakter ini kayak tutup sama botolnya. Pas.


Eeeeh malah waktu aku baca runtut dari awal, aku nggak nemuin gereget yang sama. Karakter Kristal itu sebenarnya nyebelin bukan karena dari oroknya tapi karena dia kebetulan ketemu Ryouta pas moodnya lagi nggak bagus banget. Aslinya sih dia bisa klepek klepek lihat cowok ganteng gitu. Sedangkan Ryouta juga meskipun ceria aku nggak nemuin ke khasan untuk membuatnya beda dari laki-laki lain. Padahal nih ya, awal mereka ketemu itu seru banget. Aku udah bisa beberapa kali dibikin cekikikan sama ulah dan tingkah mereka berdua. Nah, baru deh waktu masuk ke inti masalahnya, chemistry kedua tokoh di cerita ini nggak ada, geregetnya nggak dapet, dan sampai pertengahan lebih, emosinya masih nggak ada. Padahal udah dijelasin kalau keduanya mulai saling menyukai tapi tetep aja tooooh, nggak ada yang bisa bikin aku ikutan jungkir balik sama sikap mereka berdua. Kebiasaan mereka yang ketemu setiap hari dan Kristal yang dimasakin Ryouta makan tiap hari nggak bisa jadi alas an buat aku setuju kenapa mereka bisa jatuh cinta satu sama lain. Pokoknya, adegan-adegan mereka berdua ini banyak banget yang kurang. Kurang kreatif, kurang berkesan, kurang banyak, kurang seru, pokoknya kuraaaaang. Dan daripada interaksi kedua tokohnya yang seharusnya dipentingkan dan diperhatikan malah di jatuhkan ke tokoh tokoh pendukung lain yang menurutku, malah cuma ngabisin kertas. Keberadaan Bruno juga nggak cukup menjadi saingan dan penambah gereget di cerita ini. Yang ada malah karakter si Ryouta jadi kurang di ekspos, dan Kristal juga gitu. Dan untuk kisah dimana akhirnya keduanya saling menyukai juga malah cuma bikin aku cengoh. ‘gini doang’? begitu doang dan keduanya udah bisa dinyatakan jatuh cinta? Uuuugh,, menurutku tetep kuraaaang. Harusnya ada gitu adegan yang bisa bikin aku teriris atau ikutan merasakan sensasi emosional yang para tokohnya lakukan disini. Syaangnya aku tidak mendapatkan sensasi apapun ketika membacanya. Yang ada malah aku bosan dan pingin cepet-cepet selesai. Mana saying banget juga, aku nggak dapet emosi di klimaksnya.Hampir semua datar kecuali yang di awal itu.

So, aku kasih 3 bintang, pertama untuk pengarangnya yang udah jadi pengarang favoritku, kedua untuk awal cerita yang menarik, dan bintang terakhir untuk gaya bahasa yang masih sesuai dengan seleraku. a






Friday, August 16, 2013

Review: After School Club


After School Club

My rating: 5 of 5 stars



You know whaaaattt!! Akhirnya dari sekian novelnya orizuka yang kubaca 2 hari ini finally I found another interesting story she had made! It's soooo interesting! It's not boring, funny, and full of laughs!

Sumpaaaahhh... baca novel ini tuh seger bangeeett... Aku dah nggak bisa mikirin mana yang masuk akan malna yang nggak masuk akal dari novel ini. Soalnya semuanya nggak masuk akal! Aku bisa nemuin banyak banget adegan sadis yang ada di komik-komik, dan jujur, aku baca novel ini kayak baca komik. Nggak ngerasa aneh sama aksi serang-serangan korsi, lempar-lemparan tepung, dan lempar2an make up dan entah segala kesadisan apapun yang di gambarkan orizuka di buku ini. Aku nggak nemuin hal lain selain asikkk dan seru banget baca setiap adegan yang di gambarkan orizuka di buku ini. Semuanya nggak ada yang mubazir. Ketawaaaaaa ngakak terus.


Alurnya
Alurnya tentang seorang anak bernama Putra dengan titel pangeran yang kaya raya dan karena nilainya turun dia diwajibkan untuk masuk kelas yang katanya itu adalah kelas terabai yang isinya orang-orang dodol semua. Aku nggak terlalu terpukau sama permainan alurnya, soalnya alurnya lebih kayak keseharian anak-anak After School terhadap Putra yang jadi anak baru di kelas tersebut. Bagaimana merana dan frustasinya dia dikerjai dengan cara yang mengerikan dari teman-temannya. Aku yang baca aja sampai ikutan merinding bayangin kesadisan yang dilakukan anak-anak After School

Konfliknya juga biasa aja, klise, nggak ada yang terlalu gimana-gimana. Bahkan klimaksnya nggak ada yang bikin sampe nangis tersedu-sedu atau berderai air mata. Aku cuma nemuin kata lucu dan lucu, ketawaaa terus sepanjang cerita.

Entah kenapa aku merasa kali ini kak orizuka bener-bener bisa menciptakan sebuah cerita yang cerdas. Ketika banyak orang mengharapkan kisah romantis dari awal sampai akhir, ia bisa menciptakan suasana humoris yang bikin ketawa ngakak di setiap bagian buku ini. Kali ini aku salut banget, kak orizuka berhasil bikin cerita sekolahan jadi sangat menarik untuk diikuti, bahkan humoris dan ketidaklogisan bisa jadi hal yang paling ingin dibaca setiap kali aku membuka halaman buku ini. Konfliknya itu ternyata tetep bikin ketawa, bahkan sampai klimaks, atau sampai ending pun masih dibikin ketawa. Jadi walaupun tidak berdebar-debar yang gimana-gimana gitu waktu baca ceritanya, aku puas banget bisa ketawa sepanjang cerita. Rasa-rasanya cukup dengan ketawa dan aku malah biasa aja sama kisah cintanya. Itu jadi bumbu penyedap yang bikin novel ini semakin manis sebagai bahan bacaan.

Tokoh
Huwaaaaaa~ aku speechless banget deh kalo ngomongin anak-anak After School. Kalo semua orang bilang mereka itu dodol, aku pingin bilang mereka itu udah gila! Tapi justru sangat menyenangkan dan unik. Nggak ada satu karakter yang membosankan di cerita ini, semuanya dapat porsi yang pas dan kemunculan yang pas. Nggak sama sih dominannya, tapi pas. Pas kapan keluarnya, pas kapan nggak dibutuhninnya. Tokoh disini semuanya unik dan itu nyenengin banget.

Aku sukaaaa banget sama dialog antar tokohnya disini. Nggak ada satu bahasanpun yang nggak bikin ketawa.Sekalipun yang diomongin nggak penting, entah kenapa nggak bikin aku skip ceritanya tapi justru bisa ngulang tiap dialog yang para tokohnya katakan. Kalo emang ada orang-orang kayak mereka, rasanya dunia bisa kiamat. Yang pasti mereka itu lucu tapi lebih gila dan sadis. Lucunya karena sadis! Duh, nggak usah lah ya dijabarin gimana sadisnya, baca aja ntar juga tau dimana sadis yang bisa ngakak sendiri itu.

Tokohnya nggak ada yang pendendam dan terlalu antagonis, nggak ada rebutan cinta, nggak ada beranteman, semuanya diisi dengan solidaritas antar kelas, dan entah kenapa aku merasa so sweeet banget. Tokoh disini juga diciptakan dengan keunikan masing-masing. Seperti apa Putra yang datar, Cleo yang serem, Zia yang lebay, Rudy dan Mario yang sadis, atau Panca yang bego. Atau... bego semua. Pokoknya, kehebatan dari novel ini bukan di alurnya, buat aku kekuatan terhebat novel ini adalah tokohya yang unik yang bisa bikin cengengesan atau ketawa cekakakan waktu lihat tingkah tokohnya yang nggak banget. Pokoknya harus baca sendiri deh nggak nyesel liat gimana gilanya anak-anak after school

Dan dan disini aku mau menyatakan bahwa disini Cleo jadi karakter favoritku dari buku lainnya deeeh... Aaah aku suka banget akhirnya kak orizuka bikin karakter beda juga tentang ceweknya. Hahahhaa... aku nggak habis pikir sama si Cleo ini. Dia cewek, tapi seremnya amit-amit. Tapi juga dia bisa jatuh cinta, dan kalo pacaran lucuu!! Pokoknya karakter Cleo ini emang satu-satunya dan bener-bener ajaib. Aku emang nggak suka sih ya sama karakter yang terlalu dominan baiknya, aku emang lebih suka karakter utama ceweknya baik tapi juga dominan seremnya kayak si Cleo ini. Unik banget deh pokoknya si Cleo. Beneran cocok sama Putra. Kayak panci sama tutupnya. Klop. Bego. Stress. hahahhaa

Yang kedua aku juga suka banget sama Putra. Yang normal tapi dikerjain habis-habisan sama temen-temennya. Udah tau dikerjai gila-gilaan dia masih ajaaaa betah sama temen-temennya. Aku suka sama cara pikirnya yang kadang mikir yang bagus tentang temen-temennya tapi detik berikutnya bisa langsung lupa sama yang baik-baik. Pokoknya lucu banget deh si Putra ini. Gayanya sok cool tapi dia berhasil dikerjain dulu. Udah kalo ngeliatin temennya pake melotot, mendelik, ganas, juga tetep nggak ngaruh. Dia juga tetep ngalah. Nah kalo udah versus sama Cleo? Dia pasti udah ketakutan kayak dikejar setan. Pokoknya lucuuuu banget si Putra ini. Aku sampe lupa kapan aku sesuka ini sama karakter cowok yang dibuat sama kak orizuka sebelum ini hahahhaha


Fokus
Dan yang paling penting disini adalah, novel ini fokus. Disini fokus cerita kehidupan putra yang disekelilingnya adalah orang-orang bego. Meskipun sebenarnya setiap orang dalam cerita ini bisa jadi tokoh utama, tapi aku suka karena kak ori bisa fokus disini. Nggak semuanya dipaksain buat diceritain sampai ending, cukup cerita tentang putra aja tapi udah menarik banget.

Putra yang akhirnya jadian sama cleo. Sejenak aku mikirin mereka bakal jadi gimana ya kalo pacaran, dan ternyataaa... aaah pokoknya pacaran mereka itu cute banget. Mana si Putra juga kok bisa gitu ya lama lama jadi ikutan normal. Awal-awalnya sih dia masih kelihatan normal, makin kebelakang makin nggak cocok tuh anak nyatain dirinya masih normal. Dia sama Cleo jadi kayak suami takut istri. Manis nya jarang tapi takutnya sering. Trus dia mah emang bukan tipe pemarah yang cerewet gimana-gimana gitu, dia itu normal! cuma normalnya emang lenyap habis kenal si cleo. Nah, habis sama cleo dia ikutan jadi duo konyol deh. Jauh lebih konyol dan lebih gila dari Sid dan Julia di High School Paradise.


Oyaaa ada bagian yang aku suka banget disini. Waktu after school di hari terakhir mereka sekelas trus ngajak gurunya karaoke. Itu lembaran akhir-akhir dan aku ketawa terus nggak karuan. Si guru ini meskipun tau segila apa kelasnya tapi waktu liat pada karaoke langsung ilfil setengah mati. Mirip banget sama Putra yang ternyata meskipun keitung mulai gak normal tapi tetep paling normal hahaha. Dan endingnyaaa... aaaah... pokoknya novel ini bikin ketawa bahkan sampai aku menutup bukunya. kereeeeeeennn untuk kisah anak remaja sekolahan keren bangeeettt.. aku dapet seratus persen rasa kekeluargaan yang ingin kak orizuka tunjukkan di novel ini.

Aku



Thursday, August 15, 2013

Review: High School Paradise


High School Paradise

My rating: 3 of 5 stars



Akhirnya setelah baca bukunya lagi aku bisa review, padahal aku orangnya agak anti baca novel diruntut dari awal lagi. Well, gak apa. Karena ini bukunya kak orizuka, it's better if I remember her book's story hohoho..

Jadii... setelah aku selesai membacanya, ternyata aku nggak inget apa-apa soal pengalamanku yang pernah baca ini waktu SD atau SMP kelas 1? Entahlah.. Dan well, aku cukup suka sama ceritanya. Fokus ke 4 orang cowok paling keren di Athens yang bengal tapi jenius. Walaupun memang terkesan nggak mungkin, tapi toh kak ori bisa bikin itu semua mungkin hahaha.. Aku bacanya sih kayak beneran aja.

Aku sukaaa sifat-sifat para 4 cowok keren disini. Mereka itu jenius, tapi rasa-rasanya jarang ada yang tahu bahwa mereka dari luar kelihatan perfecto tapi dalemnya sebenarnya juga gak perfek2 amat. Lando dengan masa lalunya yang menyeramkan, Cookie dengan sikap playboy yang keterlaluan, Sid dengan semangatnya yang berlebihan, kupikir Rama aja kali ya yang paling normal. Aku berhasil sih bayangin gimana tampang2 si fantastic four ini. Pasti keren banget deh sampe rasanya nggak mungkin. Mau bayangin S4 nya BBF tapi nggak jadi deh. Kayaknya nggak sama juga hahahaha


Alurnya aku lumayan suka, tentang sekolahan, tapi entah kenapa ceritanya terasa lambat. Jujur aja aku lupa selesai berapa jam baca buku ini. Lamaaaa banget. Aku nggak dapet hal-hal yang bikin aku balik setiap halamannya sampai lupa waktu. Yang ada aku malah keingetan waktu sama nilik terus udah berapa halaman yang kuhabiskan untuk membacanya. Entah kenapa nggak ada yang bikin penasaran banget buat terus baca kelanjutan ceritanya. Konfliknya seru sih, macem-macem, tapi jadi nggak fokus. Wajar juga sih, kan tokoh utamanya 4 orang.

Untuk buku ini porsi keempatnya hampir sama. Nggak ada yang terlalu menonjol dan nggak ada yang terlalu tenggelam. Aku juga suka kisah antara julia dan sid yang nggak pernah berhenti berantem walaupun si julia ini agak nggak mungkin banget kalo sampe nggak nganggep keempatnya keren hahaha..

untuk cerita anak sekolah, buku ini okelah dibaca, walaupun aku berharap ada kisah romantis yang biki deg-degan. Hm.. tapikayaknya buku ini lagi nggak lari ke kisah cintanya sih emang...



Review: Fate


Fate

My rating: 3 of 5 stars



ini novel ketiga tentang korea karangan orizuka yang aku baca. Sejauh ini sihh... yah karena pada akhirnya orizuka udah duluan mencuri hatiku untuk mengikuti karya-karyanya, jadi bagaimanapun isinya aku akan tetap setia mengikuti bukunya selagi masih bsia menemukan hehe.

Sejauh ini, entah kenapa novel bertemakan korea yang aku suka tetep jatuh di Oppa & I yang sudah terlanjur membuatku jatuh cinta dari semua segi. Alur, setting, dan yang paling penting karakternya. Sekarang saja aku tengah menunggu buku ketiganya dan siap membelinya kalau sudah keluar. Buku kedua tentang korea yang ditulis orizuka adalah Infinite yours, bagus, tapi nggak terlalu berkesan. Aku nggak kecewa sama apapun, aku hanya nggak suka sama alurnya yang bercerita tentang kejadian selama beberapa hari dan jatuh cinta. nggak salah, cuma jatuhnya jadi biasa aja. Ini masalah selera kok, tenang aja, jadi subjektif banget emang. Eh, kok jadi nge-review buku lain sih?

Balik ke Fate. Buku ini juga nggak salah, dan ceritanya juga bukan kisah cinta beberapa hari jadi sebenarnya harusnya bisa bikin aku jatuh cinta. Gaya ceritanya juga masih kesukaanku, beberapa diselipkan kata-kata korea jadi secara gak sadar aku jadi kerasa kayak belajar bahasa korea sambil niruin logat-logat orang korea. Tapi lagi-lagi buku ini jatuhnya bagus aja, cuma nggak terlalu wah. Aku hampir nggak deg-degan untuk semua konflik, cerita, dan adegan di semua bagian buku ini. Nggak salah emang, tuh ceritanya kan dominan ke kisah keluarga daripada kisah cintanya. Tapi entahlah, kenapa di tengah-tengah aku maha bosen sama ceritanya yaa..


Alurnya sebenernya bagus, komplek banget malah. Seorang anak laki-laki bernama Min Hwan yang dapet kesialan bertubi-tubi sampai ceritanya berakhir. Nggak ada yang mengecewakan sama endingnya, emm... karakter Min Hwan juga aku suka. Yang nggak aku suka adalah ceritanya terlalu... emm... drama. Ditambah percakapannya yang dicampur bahasa korea. Aku suka kok sama bahasa-bahasa korea yang diselipkan, cuma habis bercampur sama alurnya jadinya beneran jadi kayak nonton drama. Nggak salaaaah.... cuma karena ini ditulis dalam buku jadi rasanya ada yang kurang, entah apa.

Ada beberapa bagian yang bikin aku menitikkan air mata tapi emosi yang aku dapet malah nggak sekuat di ceritanya oppa & I padahal sama-sama kisah keluarga dan lebih complicated ini malah. Sebenernya aku nggak pingin ngomong ini, tapi entah kenapa aku ngerasa ada beberapa part yang bikin aku bosen. Aku lupa bagian yang mana yang pasti ketika membacanya aku merasa ingin men skip ceritanya cepat-cepat. Mungkin terlalu banyak konflik yang harus ditempuh sama tokohnya sampe-sampe aku nggak tega buat baca lebih lanjut.

Karakter dena di buku ini hampir sama dengan karakter cewek dan Infinite Yours. Nah lho, apakah jangan-jangan aku emang dasarnya nggak suka sama karakter ini ya? Yang udah suka sama cowok lain tapi perlahan beralih ke seseorang yang membuatnya terbiasa. Lagi-lagi nggak ada yang salah dong ya sama karakter model gini, tuh akhirnya kita tetep bisa lega karena dia tetep dipasangin sama tebakan kita awalnya. Tapi entahlah, karakter seperti itu terasa sangat plin plan dimataku, mudah bingung, dan labil. Aku nggak bisa bersimpati ataupun jatuh cinta sama karakter ini, karena menurutku karakter yang terlalu ceria kayak dena ini terlalu baik walaupun di ceritanya dia seratus kali sering banget marah2. Walaupun pada akhirnya nggak gitu juga sih di novel ini karena dia setengah mati yakin kalau dia udah jatuh cinta sama cowok yang bener. Tapi yaah.. dasarnya aku emang lebih suka karakter-karakter jutek pendiem kayak Jae In di Oppa & I, ataupun yang datar kayak Lyla di With You yang pernah berhasil kak orizuka ciptakan sampe aku jatuh cinta sama karakter cewek macam itu. Oh, kak Orizuka nggak salah, ini sama sekali bukan salahnya kak orizuka nyiptain karakter yang bukan favoritku. Namanya juga selera haha..


Aku cuma agak sebel aja waktu tahu kalau Min Ho itu juga suka sama Dena yang dulu mati-matian menyukai Min Ho tapi ditepis mati matian juga sama cowok tersebut sehingga akhirnya Dena tanpa sengaja menemukan dambaan hati yang lebih cocok mengisi kekosongan hidupnya. Min Ho emang akhirnya bisa ngerelain Dena karena Dena suka sama adik kesayangannya dia, tapi entah kenapa aku nggak suka karena dia itu kenapa sih pake suka sama Dena?? Aku jadi agak bersalahkan bahagia soalnya Dena suka sama Min Hwa. Soalnya Min Ho ini baiiiiik banget.

Sayangnya, aku nggak bisa jatuh cinta sama karakter Min Ho meskipun disini udah bener-bener digambarin kalo Min Ho itu kakak yang super duper baik yang bisa bikin adiknya ngerasa disihir tiap kali ketemu sama kakaknya. Aku suka sih sama karakter Min Ho, tapi nggak jatuh cinta secinta aku sama Seung Woo di oppa & I *duh kenapa balik lagi kesini sih*. Mungkin aku bisa jatuh cinta kalo karakter Nicole yang digambarkan sebagai pacar Min Ho bisa lebih menarik perhatianku. Tapi karakter Nicole ini kayak cuma pelampiasan soalnya Min Ho nggak bisa sama Dena, dan karakter Nicole ini mirip banget sama Dena. Aku jadi kasian sama Nicole, seolah-olah Min Ho ini nggak tulus gitu cinta sama Nicole. Mungkin kalo konfliknya dia sama Nicole bisa lebih tragis gitu aku baru simpatik. Haha.. tapi kasian halamannya sih.

Pokoknya! Dena sama Min Ho ini bener-bener bikin aku kepikiran sama Infinite Yours meskipun beda. Yaa.. beda sih ya..

Kalo kisah keluarganya malah bikin aku keingetan sama summer breeze. Bedanya kalo summer breeze itu kembar kalo ini kakak adek. Bagian samanya? Nggak ada sih. Konflik bahkan ceritanya sebenernya bedaaaaa banget. Tapi nggak tau kenapa hubungan sodara cowok-cowok itu bikin aku keingetan summer breeze aja.. duh, absurd banget ya perbandinganku ini.. Ceritanya drama banget, lucunya ada tapi nggak bikin ngakak, sedihnya banyak tapi nggak bikin sesenggukan. Aku juga nggak keberatan sama karakter Min Hwa yang cengeng, justru dialah satu satunya karakter yang menurutku paling unik dalam cerita ini dan satu satunya alasan kenapa aku bisa bertahan sampai akhir, terlepas karena orizukanya lho.

Daaann... kalo untuk hiburan, buku ini cukup menarik kok di baca. Mungkin akan jauh lebih menyenangkan kalau kita bisa membacanya tanpa terbatas waktu seperti ketika aku menikmatinya karena buku ini hanya sekedar buku rentalan hmm..



Monday, August 12, 2013

Review: With You


With You

My rating: 4 of 5 stars




Setelah baca ternyata aku tahu kalau maksud dari kolaborasi di novel ini adalah si Christian Simamora dan Orizuka membuat dua cerita yang berlainan tapi sekaligus berhubungan. Waah.. entah kenapa ini membuatku lebih mudah untuk membandingkan keduanya.

So? Which one I like the most?
Sorry, but orizuka's story is still the best. From the words, story, the character.


Aku belum pernah baca bukunya simamora, ini baru yang pertama. Pertama kali aku baca di awal dan nggak sempat menilik bahwa judul pertama full tulisannya simamora aku udah mulai ngerasa beda antara tulisan orizuka yang biasanya aku baca. Simamora banyak memberikan slang words di ceritanya. Nggak keberatan sih, tuh dia menyesuaikan sama karakter yang di ceritakan dalam buku tersebut. Tapi terlalu... emmm... too much. Mungkin membaca buku itu sama seperti nyari makanan. Ada seleranya. Tulisan dan gaya bahasa simamora sebenarnya nggak terlalu membebaniku, tapi bukan seleraku untuk menjadikan tulisannya to be my favorite one. Aku juga nggak bisa lepas dari bayang-bayang kalo yang nulis itu cowok, tapi entah kenapa itu membuatku secara tidak sadar jadi mengambil semua sudut pandang dari sudut pandang cowok. So physically. Mungkin itulah yang sebenarnya, tapi whatever, buat aku yang namanya novel adalah berisi dongeng yang diidamkan para wanita. Kalo yang nulis cowok, jadi sadar banget kalo cowok tuh suka sama seseorang pertama dilihat dari fisik. Secara sadar dan tidak sadar. It's disturb me, I just dunnot in which part. Nggak masalah. Toh itu juga gaya dan ciri khasnya dia, tapi bukan seleraku saja.

Ada kesamaan dari dua cerita yang di sajikan dalam novel ini. It's like there is some kind of theme to be written or what. Mungkin mengenai 'bertemu mr.right dalam sehari'. Is it like that? Soalnya dua-duanya sama-sama menggunakan satu hari untuk menceritakan sebuah keadaan dimana para tokohnya jatuh cinta atau lebih tepat, menemukan takdir mereka. Dalam artian apapun.


Aku mau coba di bahas, tentu saja tidak bisa terlepas dari unsur membandingkan cerita di antara keduanya.

Mungkin aku akan terlalu subjektif karena dari oroknya dah suka sama orizuka, tapi memang orizuka itu salah satu author yang membuatku tahu dimana selera tulisan dan cerita yang bisa bikin aku ikut deg-degan.

Cerita yang di tulis simamora sebenarnya bisa membuatku suka, kalau saja eksekusinya bisa di buat tidak melulu soal fisik. Itu emang bikin aku deg-degan,tapi dalam artian lain. Emosi dan perasaannya nggak bisa ikut nyampur melainkan cuma sekadar gairah dan nafsu aja. Aku tahu bukan itu maksud dan cerita yang ingin diceritakan. Aku justru menangkap sepenuhnya bahwa novel ini sebenarnya ingin memberitahu para pembaca bahwa cinta padangan pertama 'sebagai pasangan yang tepat' itu ada. Dalam arti yang sesungguhnya, benar-benar mencintai. Gagasannya bagus, dan sebenarnya bisa bikin aku setuju. Sayaaaang bangetnya cerita ini nggak di eksekusi dengan kuat. Gagasan itu nggak di jabarkan dengan ide yang sama kuatnya. Konfliknya datar, bahkan klimaksnya... entahlah apakah ada klimaksnya. Ada mungkin,tapi lagi-lagi tidak secara emosional. Meski begitu, cerita ini ada kemungkinan untuk bisa di lanjutkan secara lebih menarik.

Cindy dan Jere bertemu dalam waktu sehari. Hanya sehari doang. Dan aku adalah tipe orang yang tidak terlalu suka dengan ide seperti itu. Mungkin prejudge di kepalaku yang nggak bisa percaya adanya cinta macam itu. Aku baru percaya takdir dari adanya 'kebiasaan'. Gagasan ini bikin aku berharap untuk mempercayai hal itu. Rasanya aku ingin membuat pengecualian dari cerita yang disajikan disini. Kedua karakter dicerita simamora sebenarnya memungkinkan adanya kepercayaan itu. Tapi sayangnya aku nggak dapet kesan itu bahkan sampai akhir cerita. Entah kenapa, aku merasa bahwa itu seperti baru awalnya saja mereka bertemu. Cerita ini memerlukan konflik lain yang bikin kita yakin bahwa mereka ini di takdirkan, karena di part-nya si simamora - beneran- cuma tentang hal-hal yang intens. Yah, mau gimana lagi sih, tuh mungkin jumlah halaman emang cuma segitu jadi nggak bisa di ekspos lebih dalam. Setelah membacanya, sebenarnya yang muncul di benakku adalah, 'segitu doang nih?'. Aku ingin lihat lebih dalam tentang hubungan mereka, apakah akan tetap selancar ini bahkan kalau karakter Jere ini nantinya ketemu cewek yang sama-sama atau lebih hot dari cindy. Bagaimana caranya mengatasi konflik macam itu? Aku penasaran. Dan malah jadinya novel 'divortiare' ika natassa ikut-ikutan nampil di kepalaku. Di novel itu juga di ceritakan bagaimana kedua tokohnya bertemu dengan cara yang mudah, tapi tuh akhirnya malah bercerai. Intinya. Untuk part simamora ini, aku merasa bahwa ceritanya sebenarnya belum selesai.

Beralih ke ceritanya orizuka yang sunrise.

Idenya orizuka klise, cerita dan adegannya juga ringan, klise semua. Cuma tentang cowok dan cewek yang putus, terus ceweknya itu ketemu sama cowok lain, terus si mantannya ini cemburu, dan akhirnya menyerah dan ngajak balikan.

Ringan, tapi ceritanya menjadi sangat rumit mugkin karena... orizuka who wrote all of that. Mungkin karena orizuka yang menceritakannya, kesan biasa itu menjadi 'luar biasa' yang bahkan bisa membawa pembacanya sampai kadar dimana aku bisa meneteskan air mata mengikuti emosi tokohnya.

Kehebatan cerita dari orizuka ini adalah dari karakternya. Aku selalu suka dengan karakter-karakter cewek yang dingin dan datar seperti yang orizuka gambarkan disini atau di novel oppa & I. Itu karakter yang bikin penasaran mengenai apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Apalagi dipasangin sama karakter yang ceria. Kayak panci sama tutupnya. Pas. Cocok. Nggak berlebihan.


Ceritanya memang dimulai dari kedua tokohnya yaitu Juna dan Lyla yang udah putus selama satu bulan. Awalnya aku nggak ada ekspektasi apapun. Udah ketebak mereka bakal baikan, apalagi dalam sehari- kata sehari itu nggak pernah cocok untuk cerita-cerita yang romantis, entah kenapa- tapi... aku bener-bener nggak terima!! Bagaimana bisa orizuka menceritakan kisah satu hari balikan itu dengan cara yang sebegini emosionalnya!!?? Sebegini baiknya bahkan ia tidak menyia-nyiakan satu halaman pun untuk bertele-tele. Nggak basa-basi, and that's what I really want to read.

Tema 'satu hari' itu di eksekusi dengan sangat baik. Pertama dari idenya yaitu tentang kisah bertemunya takdir dalam waktu sehari. Takdir di cerita ini dibuat dengan kisah dua orang yang sudah putus dan dalam waktu sehari itulah puncak dimana mereka menentukan apakah orang yang dicintainya selama ini benar atau tidak.

Kisah cinta mereka bukan sehari, tapi 4 tahun, itulah kenapa aku sangat menyukai cerita dan ide dari orizuka.

Aku tidak terlalu suka novelnya yang Infinite Yours yang dua-duanya jatuh cinta selama 8 hari, dan walaupun itu mungkin dan logis, tuh tetep aja aku nggak terima takdir itu ditemukan dalam waktu sehari. Terlalu pendek. Entah kenapa aku membutuhkan lebih. Atau mungkin aku nggak cocok sama kisah cinta yang hanya sehari-dua hari atau berhari lainnya yang dikisahkan hanya dalam SATU NOVEL.

Kembali ke orizuka. Empat tahun itu tidak diceritakan, dan justru diceritakan setelah mereka putus selama satu bulan dan nggak sengaja ketemu di karimunjawa. Emosi A-Z berlompatan setelahnya dan takdir itu memang benar-benar datang di saat demikian. Hal-hal yang tidak terungkap jadi terungkap semuanya. Mereka lebih terbuka dan lebih dewasa. Membaca cerita sunrise entah kenapa membuatku berfikir bahwa orizuka berhasil menyelipkan pesan dalam tulisannya. Bahwa konflik dalam percintaan akan membuat kita lebih dewasa.

Untuk waktu sehari yang diceritakan, tentu saja kita tidak bisa berharap adanya lebih banyak konflik. Itu bisa terjadi kalau diceritakan lebih dari sehari di novel ini. Tapi konflik untuk sehari bagiku sudah cukup banyak untuk cerita ini. Pas. Pokoknya nggak bertele-tele. Semua salah paham yang ingin diceritakan ada, semua kasih sayang secara tersirat yang ingin ditunjukkan ada, kesadaran bahwa melepaskan satu dengan yang lain adalah salah juga ada, bahkan klimaksnya di hadirkan dengan cara yang sangat baik. Ketika di api unggun dan setelahnya itu bisa berhasil bikin aku nangis. Betapa aku ikut masuk ke dalam cerita kisah cinta yang manis, dengan kenangan-kenangan flashback masa SMA yang beberapa kali di tampilkan.Kenangan itu terasa sangat pas sekaligus sangat dibutuhkan dan akan menghasilkan hal yang berbeda kalau tidak dimunculkan. Aku secara tidak sengaja terhanyut dalam semua pemikiran Lyla, aku ikut masuk dalam emosinya. Untuk Juna, aku juga sama tenggelamnya dalam dilemanya.Aku ikut merasakan bagaimana dirinya SANGAT mencintai Lyla dan tidak berkurang sedikitpun. I just love all of it.

Dan yang aku suka adalah bagaimana aku secara tidak sadar membandingkan antara sifat mereka ketika pacaran dan ketika putus. Ketika pacaran, semua hal terasa seperti kebiasaan dan biasa. Karena satu kelas dan satu sekolah, maka keberadaan Lyla tidak akan pernah jauh dari Juna. Juna lebih mudah mengawasi dan memperhatikan Lyla karena gadis itu akan selalu di dekatnya. Yang menjadi kebiasaan itu luar biasa adalah ketika mereka jauh, Juna jadi sulit untuk mengerti tentang Lyla. Ia tidak bisa membaca pikiran Lyla karena mereka jarang bertemu. Ia mengharapkan kebiasaan yang sama. Kebiasaan itu yang membuatnya tidak bisa jauh satu sama lain. (aku pingin tahu bahkan sampai mereka nikah which it so impossible)

Keadaan itu tentu hal yang menyakitkan, tidak bisa mengerti satu sama lain padahal dilain sisi ia membutuhkan salah satunya. Aku suka sifat overprotektif dan posesifnya Juna yang tidak membebani. Aku sangaaaat suka ketika ia ingin Lyla mempertahankannya dan tidak menganggap dirinya sebagai beban untuknya.

"Even if you're a burden. You're the only one I don't mind bearing."

That words is the key!


Orizuka sukses bikin aku nangis karena keinginan Juna yang begitu besar mempertahankan hubungan mereka, dan sesuatu yang begitu ingin di dengar Lyla. Satu-satunya jawaban dan penghapus terbaik yang membuat Lyla memikirkan segala kegundahannya sebagai beban menjadi keberanian karena itulah yang ternyata Juna inginkan. Pengertian yang tiba setelah konflik dan keinginannya yang super so sweeeet.. That's really too good to be true.


5 of 5 for orizuka's part

Pokoknya sukaaa suka sukaaaaa banget sama cerita yang ini. Aku harap ada cerita kisah macam ini tapi di buku yang terpisah. Aku mengharapkah lebih di hubungan macam ini. Bagaimana setelah mereka jadian lagi? I really wonder about it. Will it be something different?




Tuesday, August 6, 2013

Review: Summer Breeze: Cinta Nggak Pernah Salah


Summer Breeze: Cinta Nggak Pernah Salah

My rating: 5 of 5 stars



Yang bikin aku kasih bintang lima di novel ini adalah, karena ini adalah buku orizuka yang berhasil mencuri hatiku dengan sukses untuk pertama kalinya. Dua buku sebelumnya yang kubaca yang bercerita tentang sekolah (paradise, love united) juga bagus, tapi tidak menempelkan kesan yang sedalam cerita ini padaku.

Awalnya aku lihat buku ini di pameran dengan harga yang sangat murah, tapi tidak jadi kubeli entah-karena-apa. Yang aku tahu, novel ini pasti bagus karena sudah dilabeli bahwa novel ini di filmkan.

Aku bukan pecinta sad ending. Itu satu. Dengan melihat cover tanpa memikirkan endingnya, ketika melihat nama orizuka pada novel ini, aku hanya membacanya dengan senang hati. Sama sekali nggak curiga kalau ceritanya akan membuatku nangis sesenggukan. Duh, pokoknya polos banget lah. Ini novel sad ending pertama yang kubaca tanpa mengetahui spoiler endingnya sama sekalil. Jadiii.. waktu udah terlanjur ikut alurnya dan sampe ending. Rasanya kayak di sengat listrik. Dan aku dibuat nangis sesenggukan. Bener-bener nangis deras pokoknya.


Tapi aku bersyukur, berkat novel ini aku jadi tahu gimana rasanya baca novel sad ending yang bisa bikin sesek dan berderai air mata, tapi aku bisa langsung menjadikannya novel favorit dan bahkan dengan senang hati menjadikannya novel dengan sad ending terbaik. Biasanya sih kalo udah tahu sad ending aku pasti nggak mau baca. Pertama karena yakin tokohnya nggak bahagia, yang kedua pasti bikin nangis dan kecewa. Entah karena apa, cerita berakhir sedih selalu berakhir dengan kata 'mengecewakan' di kepalaku. Tapi aku juga tak mengerti kenapa novel ini menjadi pengecualian. Aku suka dengan eksekusi tokohnya terutama Ares. Yang selalu dibenci tetapi ternyata ia hanya membutuhkan sedikit kasih sayang. Yang selalu di anggap beda, padahal dirinya memang berbeda. Yang membutuhkan perhatian lebih banyak tapi nggak dapet. Akhirnya ketika semua orang mengetahui betapa ia sangat menderita, semuanya sudah terlambat. Penyesalan yang datang terlambat itu berlaku pada buku ini. Dan dari semua kejengkelan terhadap para tokoh keluarga si Ares, aku benar-benar bersyukur ada sosok Reina dalam cerita ini. Tidak peduli bagaimana Ares padanya, Reina tetap dan selalu hanya mencintai dan mempedulikan Ares, bahkan sampai akhir, bahkan sampai semua orang mengucilkannya, Reina tetap di samping Ares.

Aku memang nggak puas dan nggak suka sama tokohnya yang akhirnya nggak bisa sama-sama pasangannya, tapi aku menyukainya. Aku menyukai cara orizuka membawaku menangis dengan tulisannya.



Review: Oppa & I: Love Missions


Oppa & I: Love Missions

My rating: 4 of 5 stars



Kalo di novel pertama lebih banyak menceritakan soal bagaimana jae in dan jae kwon baikan lagi, nah masalah di novel ke 2 ini sebenarnya masih nggak jauh jauh dari masalah keluarga. Di awali dengan keanehan yang terjadi pada sang ayah, kehidupan jae in dan jae kwon dengan masalah baru mereka pun berlanjut.

Emm.. mungkin memang lebih banyak bercerita tentang pengembangan kedua tokoh utamanya kali ya, si kembar ini, jae in dan jae kwon. Kebanyakan sih disini mulai bercerita tentang konflik kisah asmara kedua tokohnya ini ya. Bagaimana jae in dengan seung woo dan bagaimana jae kwon dengan ha neul. Cukup manis perkembangannya, tapi tetap saja pasangan dengan karakter yang paling kuat menurutku jatuh di jae in dan seung woo. Entahlah, aku suka sekali dengan percakapan di antara keduanya. Jae in yang dingin dan seung woo yang ceria. Tapi mungkin itu hanya sekedar seleraku saja sih. Pada dasarnya aku memang menyukai karakter cewek yang dingin dengan cowok yang ceria. Aku hanya penasaran bagaimana mereka ini terpaut satu dengan yang lain. Aku juga suka sekali dengan cara seung woo selalu menggoda jae in yang perlahan bisa mencairkan dinding es yang sebelumnya selalu menyelimuti jae in. Aku hanya merasa hubungan keduanya ini sangatlah manis.


Ah, dan sesuai judulnya. Yaitu oppa & I, kisah kakak beradik (kembar) hmm.. di klimaksnya nggak terlalu ngagetin, tapi berhasil bikin aku berlinangan air mata. Duh.. karakter Jae In ini lama-lama bikin geregetan. Entah bagaimana ia terhadap keluarga atau terhadap teman-temannya. Ia bukan tipe gadis yang kaku, tetapi ia hanya tipe cewek simpel yang nggak suka segalanya jadi serius, tapi juga nggak terlalu aneh. Cuma pingin yang biasa aja. Dan perpaduan antara dirinya dengan Jae Kwon yang seakan berbeda 180 derajat, dimana jae kwon ini justru periang dan selalu spesial, tapi kalo dua-duanya di kombinasiin entah kenapa jadinya lucu dan aku termasuk penikmat obrolan antaran jae in dan jae kwon.

Buku orizuka kali ini berhasil bikin aku jatuh cinta kepada setiap tokoh yang diceritakan. Bahkan perlahan-lahan aku juga jadi ikut suka sama orang tua si kembar ini. Mungkin kalau aku ditanya apa yang paling berkesan dari semua buku orizuka yang pernah kubaca, Oppa & I ini akan jadi salah satunya. Aku suka suasana korea yang di ciptakan, nggak terlalu berlebihan, pas tapi berasa. Suasana kelas, suasana pertemanan, obrolan-obrolan yang khas korea. Setiap kali diselipkan bahasa korea dalam percakapan aku selalu teringat tentang beberapa drama yang menggunakan kata itu dengan logatnya. Jadinya berasa nonton drama tapi untuk kalangan anak SMA. Nggak terlalu banyak teori mengenai ini itu tentang korea, tapi aku bisa merasakan kuatnya kesan korea di buku ini. Good job deh buat kak ori dan kak lia :D

Yang aku sayangkan di novel ini adalah... KURANG PANJAAANG! Kurang puaaasss... Rasanya aku ingin sekali membaca perkembangan hubungan jae in dan seung woo. Ah, pasti lucu deh jadi khas drama korea gitu hahaha... dan satu lagi. manis. Aaah.. apakah akan ada serinya lagi?



Monday, August 5, 2013

Review: I For You


I For You

My rating: 4 of 5 stars



Di awal cerita sempet sanksi sama alurnya karena di awal-awal udah disuguhi sama gambaran seorang pangeran dan putri. Dan aku tidak terlalu menyukai cerita-cerita yang terlalu seperti dongeng. Aku tidak terlalu menyukai karakter yang terlampau sempurna.. Awalnya..

tapi ketika mengikuti perkembangan alurnya, ternyata semua tebakanku salah. ternyata semua tokoh di dalam cerita ini adalah orang biasa. hanya kebetulan terlihat sempurna, tapi masih memiliki kekurangan.. Yah.. ternyata yang seperti seorang putri pun sebentarnya tidak benar-benar putri. Membaca ini membuatku berfikir bahwa yang namanya dongeng tetaplah dongeng. Meskipun novel ini adalah cerita fiksi tapi tetap saja, untukku sebuah cerita harus sesuai logika dan bisa dicerna. Terlalu imajinatif boleh, tetapi bisa membuatku berfikir bahwa itu mungkin di kehidupan nyata. Yah, pada akhirnya buku ini ternyata hanya membuatku salah paham. Toh aku menyadari bahwa novel ini benarlah nyata.


Masih tentang alur. Aku suka dengan suguhan twist di cerita ini. Mengengai semua puzzle yang membuat semakin penasaran, juga salah paham-salah paham yang ternyata terlalu salah. Sayang, aku berharap lebih di endingnya. Meskipun semua terungkap di akhir, tapi dari awal sampai akhir aku hanya melihat benji yang selalu melindungi Cessa. Pingiiin banget lihat surya yang tahu kebenaran dan bisa menggantikan posisi benji untuk melindungi cessa dengan cara, yang tentulah berbeda. Aku suka dengan cara surya khawatir, tapi belum melihat bagaimana caranya menolong cessa. Di akhir memang diceritakan bahwa surya yang menggantikan posisi benji. Tapi titik, berhenti disitu dan tidak ada cerita dimana surya melakukan hal yang sama seperti benji tanpa membuat cessa berbaring tak berdaya.Hmm.. memang, kalau mengikuti caraku yang ada ceritanya jadi aneh. Tapi aku hanya membayangkannya, bagaimana setelah itu benji akn melindungi cessa. membuatnya seperti seorang putri seperti yang dilakukan benji sebelumnya kah?

Semakin ke akhir cerita, aku menjadi sangat suka dengan karakter Benji. Seseorang yang baik hati dan benar-benar seorang kakak. Tidak pintar, tapi kasih sayangnya benar-benar bikin pingin nangis. Kasih sayang yang di berikan kepada cessa selama ini memanglah bukan cinta, melainkan kasih sayang seorang kakak. Tapi untukku impas, karena memang keduanya tidak saling mencintai. Mereka bukan saudara kandung dan hanya teman yang dijodohkan seperti pangeran dan putri, tapi apa yang mereka lakukan membuatku bisa membedakan mana yang namanya kasih sayang seorang kakak, mana kasih sayang seorang kekasih. Dan aku sangat menyukai setiap kali Benji berusaha mati-matian menolong cessa dan yaah. seperti seorang adik.

Sedangkan surya. Aku juga suka dengan surya. Yang awalnya dingin tapi terpesona juga oleh pesona cessa, dan mencintainya. Dan disitulah bedanya. Meskipun tidak seperti Benji yang mati-matian membuat cessa tidak terluka, tapi surya memperlakukan cessa dengan penuh cinta. Disitulah kekagumanku pada orizuka. Ia bisa membuatku membedakan mana yang cinta mana yang bukan hanya dari cara karakter di dalam novel ini memperlakukan cessa. Keduanya menyayangi cessa, tapi teras sekali bahwa mereka menyayangi cessa dengan cara yang sama.





Thursday, March 21, 2013

Review Novel: The Devil in Black Jeans


The Devil in Black Jeans
The Devil in Black Jeans by aliaZalea

My rating: 3 of 5 stars



Setelah dipikir-pikir lama-lama aku selalu beli bukunya AliaZalea bukan lagi karena yakin aku bakal suka sama ceritanya tapi emang dasarnya udah jatuh cinta sama tulisan Alia, jadi apapun bukunya kalo itu baru keluar aku pasti penasaran dan mengabaikan buku lainnya dan langsung beli deh.
*duh, kenapa gak penting gini ya?*

Kali ini reviewku mungkin nggak akan terlalu memuji-muji tulisan Alia kayak sebelumnya karena aku udah baca hampir semua bukunya dan semakin lama itu membuatku jadi mudah membandingkan tulisan Alia dari yang dulu sampai sekarang. Dan karena itu pula aku jadi semakin melihat perkembangan yang dihasilkan dari tulisan-tulisan Alia. Pada dasarnya aku selalu suka sama segala cerita yang dituangkan dalam buku-bukunya dia, karena seperti yang aku bilang, bahwa ia adalah penulis favoritku. Dan aku akui bahwa novelnya Alia SELALU bagus. Karena buktinya aku selalu beli dan selalu penasaran sama ide dia berikutnya. Aku juga sebenernya cukup suka sama pembawaan karakter-karakter di setiap bukunya. Sayangnya, entah kenapa aku malah ngerasa perkembangan cerita-cerita di buku Alia malah semakin menurun, termasuk di buku ini. Itu bukan berarti aku nggak suka, karena kalo temen-temen baru baca buku Alia mulai darisini juga mungkin langsung kejer-kejer ketagihan, tapi ini pandanganku aja yang ngikutin perkembangan novelnya.

Friday, March 8, 2013

[ Resensi Novel ] Partikel - Dewi Lestari (Dee)

 


Setelah mengurung diri di blogku yang satunya dalam jangka waktu yaaaang terhitung lama, akhirnya aku memutuskan untuk mengisi blog ku  ini dengan sedikit resensiku. Well, belakangan aku sedang hobi membaca buku, terutama novel. Yang pertama dulu aku di pinjemin novel berjudul 'Veronika Memutuskan Mati' karangan Paul... Coehl atau apa lah, lupa. Dan yang kedua novel berjudul 'Mahboba's Promise' yang isinya full bahasa Inggris semua. Pada dasarnya kedua buku itu bagus semua, dan jujur aja aku juga tertarik buat bikin reviewnya. Hanya saja, pada saat ini aku belum tergerak untuk menuliskannya. Dan terakhir ini aku dipinjami buku sama temenku yang judulnya Partikel karangan 'Dee' and after reading it, I felt so interest to give my comment about it. I think Dee will be my next favorite author whwhehhehehe.. So, here my review..


Sinopsis:
Di pinggir Kota Bogor, dekat sebuah kampung bernama Batu Luhur, seorang anak bernama Zarah, dan adiknya, Hara, dibesarkan secara tidak konvensional oleh ayahnya, dosen sekaligus ahli mikologi bernama Firas. Cara Firas mendidik anak-anaknya mengundang pertentangan dari keluarganya sendiri.

Di balik itu semua, masih tersimpan berlapis misteri, di antaranya hubungan  sebuah tempat angker yang ditakuti warga kampung. Tragedi demi tragedi yang menimpa keluarganya akhirnya membawa Zarah ke sebuah pelarian sekaligus pencarian panjang.

Di konservasi orang utan Tanjung Puting, Zarah menemukan keluarga baru dan kedekatannya kembali dengan alam. Namun, bakat fotografinya membawa Zarah lebih jauh dari yang ia duga. Di London, tempat Zarah akhirnya bermarkas, ia menemukan segalanya. Cinta, persahabatan, pengkhianatan. Termasuk petunjuk penting yang membawa titik terang bagi pencariannya.

Sementara itu, di Kota Bandung, Elektra dan Bodhi akhirnya bertemu. Secara bersamaan, keduanya mulai mengingat siapa diri mereka sesungguhnya.

Review:
Buku ini adalah buku ke empat karangan Dee dari kelima bukunya yang berjudul Partikel. Kalau untuk saat ini sih, Partikel masih menjadi buku terakhir karena buku kelima dan keenamnya belum di terbitkan. Walaupun begitu, aku penasarannyaaaa setengah mati. Penasaran sama buku Dee sejak lama, sejak Perahu Kertas muncul tapi jadinya aku malah kecekok sama filmnya gara-gara nggak dapet bukunya. Penyakitku yang kalo habis nonton filmnya males baca bukunya jadi kumat, padahal aku yakin novelnya pasti jauh lebih baik, karena  aku nggak terlalu suka sama filmya.

Partikel ini aku dapet dari temenku, dan setelah sekian lamanya akhirnya aku kembali dipinjami buku berat setelah yang terakhir adalah Tetraloginya Laskar Pelangi. Untungnya sejak aku baca novelnya Laskar Pelangi yang 'karena terpaksa' tapi keterusan jadi aku nggak menutup diri untuk membaca novel-novel yang tidak terlalu membahas soal cinta. Sebernya aku pingin baca novel roman lagi sih, cuma kemaren berhasil kecekok sama novel Psikologi, jadi aku nggak terlalu bersikeras sama novel roman untuk saat ini. Lagian belakangan emang nggak ada stok yang bagus.

Oke, balik lagi ke Partikel.Well, novel ini berhasil bikin aku jatuh cinta sama Dee, penulisnya. Ini buku keempat dia dan aku bersyukur aku langsung di pinjami  buku keempat ini, karena daripada buku yang lainnya, ternyata Partikel adalah yang paling matang. Hal yang paling aku suka adalah beberapa informasi dan pengetahuan yang awalnya bikin mikir antara sungguhan atau tidak, yang bikin aku niat browsing, dan waktu aku tahu ternyata informasi yang ditulis hampir sebagian besar sungguhan, aku jadi tambah suka.
Novel ini fiksi, tapi sama kayak Laskar Pelangi, kelihatannya semua penulis novel berat di Indonesia kalo bikin fiksi yang ada pengetahuannya itu beneran 'ada' dan nggak asal imajinasi. And I love it so much. Itu bikin aku yang nggak suka belajar jadi secara nggak langsung belajar. It's brilliant idea.

Terus, kata-kata yang dipakai memang cukup berat. Kalau aku anak SMP, aku pasti males banget ngikutin obrolan yang bikin mikir gitu, tapi aku bacanya enjoy banget. Kata-kata Dee itu enaaak banget di bacanya, dan setiap kata-kata selalu ada misteri jadi nggak pernah gitu bikin berhenti baca. Selain itu, karakter yang di bangun oleh Dee, aku juga suka banget. Karakter cewek yang hampir mendewakan sang ayah, cewek jenius dimana pelajaran sekolahpun nggak cocok untuknya, tapi nggak percaya tuhan, dan dia percaya bahwa semua tumbuhan adalah hidup dalam arti sebenarnya.

Karakter Zarah diceritakan dari ia masih kecil sekali sampai dewasa. Kalau Dee langsung menceritakan Zarah di usia dewasa dengan karakter seperti itu, bisa saja aku sebal dengan Zarah, dan iri karena kecerdaasan otaknya. Tapi Dee menceritakan si Zarah ini sejak lahir. Dee menceritakan bagaimana Zarah berkembang dan bagaimana ia punya mental dan otak seperti itu. Pada dasarnya Zarah hanya anak biasa yang kemudian menjadi luar biasa karena didikan sang ayah. Zarah punya rasa takut yang akhirnya lenyap karena sang Ayah. Perah Ayah bagi Zarah adalah buminya yang dimana dia sulit berpijak tanpanya. Tapi pada akhirnya, diceritakan bahwa sang Ayah tiba-tiba menghilang tanpa kabar, meninggalkan jurnal-jurnal penuh misteri, dan dimulailah pencarian Zarah yang akhirnya membawanya hampir keliling dunia.

Cerita dari buku ini memang lebih dominan ke arah pencarian sang Ayah, tapi cerita persahabatan dan cinta yang pupus juga dihadirkan Dee sebagai bumbu yang membuat novel ini menjadi semakin menyenangkan. Zarah terus berkembang dengan emosi-emosi yang datang dan pergi, kebencian yang datang dan memudar, kehangatan yang menyelimutinya dan menanggalkannya. Well, buku ini memang bikin mikir, tapi menariknya luar biasa. Meski pada akhirnya sang Ayah masih tidak ada kejelasan, dan di akhir justru baru di ceritakan bahwa Zarah baru memulai pencariannya, tapi aku yakin buku selanjutnya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan kita yang masih berkecamuk. So, kelihatanya aku bakalan ngincer buku setelah ini dan di pastikan untuk membeli. This is really brilliant book. You should read them.