Sunday, May 14, 2017

Review: More Than Enough

|
More Than Enough More Than Enough by Jay McLean
My rating: 4 of 5 stars

So finally i finish this series.
Total ada 4 buku dan akhirnya selesai semua. Yay!

Dan di akhir ini akhirnya aku nobatkan cerita Logan-Amanda still my most favorite one!

Sedangkan untuk buku ini sendiri aku sempat agak pesimis akhirnya. Aku lagi tidak begitu tertarik baca cerita yang tokoh utamanya masih tenggelam dalam duka karena cinta yang sebelumnya. Apalagi disini awalnya aja cukup tragis, bayanginnya aja susah.

Dylan bisa dibilang termasuk yang cukup mencuri perhatian di buku pertama. Soalnya dia diem banget, tapi kita bisa lihat dari perilakunya tentang apa yang dia pikirkan. Sifat posesifnya sama Heidi, dan hubungan mereka itu sendiri aku sempet berfikir kayaknya agak nggak mungkin kalau mereka pisah. Tapi setelah baca buku Logan trus Cam, aku jadi nggak terlalu berharap mereka balikan lagi sih.

Heidi dan Dylan itu pacarannya udah nyaris bebarengan sama Lucy dan Cam. Tapi bagus juga dilihatin kalau Lucy dan Cam bisa bertahan sedangkan Logan dan Heidi tidak bertahan. Jadi kita bisa dapat perbandingan yang jelas mana yang terlihat 'love forever' mana yang enggal (atau dikira Dylan cinta awalnya)

Lanjut, jadi banyak review yang nggak mau kasih petunjuk siapa heroin di cerita ini. Well, that's fine. Me too.

Yang pasti disini Dylan nggak sama kayak Dylan di buku sebelumnya. Lebih hidup aja.

Trus... ah, sama masalah yang di part 2 itu emang bikin gemes banget. Maksudnya Dylan tu kayak nggak peduli siapa yang peduli sama dia. Jadi berasa egois tapi dia juga nggak mau membuka hatinya,. dan sayangnya si heroine juga nggak tau harus gimana pula hehe.

Aku suka banget pasangan yang lain di cerita ini muncul dan menghilangkan rasa rinduku sama setiap pasangan di buku sebelumnya. Mereka emang di luar keliatan petakilan dan nakal gitu ya, tapi kalo udah private gitu nggak ada yang tau aja mereka bisa nangis di depan setiap pasangan masing-masing, bahwa heronya sekalipun.

Jadi waktu baca seri ini, aku selalu bayangin kisah pasangan-pasangan sebelumnya. Kadang balik lagi ke kisahnya Cam Lucy, kadang ke Logan-Amanda, trus ngeliat mereka sekarang bahagia dan flashback waktu mereka lagi perjuangin satu sama lain itu bisa bikin meneteskan air mati lagi.

Overall, aku cukup puas sama seri ini walaupun nggak semua buku aku baca sampai selesai ya..


View all my reviews

Sunday, May 7, 2017

Review: More Than Him

|
More Than Him More Than Him by Jay McLean
My rating: 5 of 5 stars

Baru sadar bahwa dari seri ini, buku kedua dan ketiga adalah sekuel, jadi aku review langsung dibuku kedua aja yaa..

Mau curhat dikit deh(yang gak mau baca skip paragraf ini). Belakangan ini banyak buku yang udah aku baca hampir setengah buku dan berhenti bacanya trus statusnya di GR aku ubah jadi 'pending'. Padahal buku-buku itu hitungannya udah rekomended banget, maksudnya: waktu aku baca reviewnya aja aku jadi pingin baca bukunya. Tapi sayang, name it: rock chick, Kulti, my life next door, trilogi gabriel inferno, semuanya punya rating buku di atas 4, dan temen2 GR lain juga banyak yang kasih bintang 5. So ithink, why can i feel good when read it? Bukan berarti aku merasa bahwa cerita-cerita di buku itu nggak bagus ya. Cuma belakangan karena terlalu banyak kesibukan dan hal yang bikin kepala ruwet, dan pilihan buku di santero dunia ini ada banyak banget, ditambah kesadaran kayaknya buku2 ini nggak akan pernah habis aku baca, jadi setiap baca buku aku harus tahu bahwa buku2 itu bakal bikin aku betah bacanya. Dan buku2 tadi, meskipun aku yakin sebenarnya bagus, tapi entah kenapa aku lambat banget bacanya dan itu berarti buku itu nyaris agak atau bisa dibilang punya kemampuan untuk bikin bosen. Jadi, beberapa akhirnya akus top dan setiap ganti ke buku lain trus nggak nemu2 lagi emosinya, aku ganti buku lain, gitu aja terus.

Sampai akhirnya, aku berhenti di serial ini.

Buku pertama dari serial ini, sebenarnya udah lama aku bacanya, dan setelah buku pertama aku nggak lanjutin. Waktu itu sih mikirinya aku lagi niat banget baca semua serial nomor 1-nya doang hehe. Soalnya biasanya yang nomor berikutnya kan ratingnya lebih tinggi gitu ya, jadi aku mikirnya paling gak sebelum baca buku selanjutnya aku harus baca perkenalannya di buku2 pertama setiap serial. Eh, malah jadinya nggak ada kelar.

Nah, balik ke buku ini.
Kemarin karena bingung mau baca buku apa, aku kepikiran buat lanjutin serial ini karena serial ini adalah yang buku pertamanya selesai baca dalam waktu yang untukku terhitung cepat. Kayaknya aku juga inget buku pertamanya emosinya lumayan kaya, it's like i can feeling so much just reading that book. And maybe i need that kind of feel when reading.

So, aku ambil buku keduanya tanpa baca ini buku tentang siapa.

Dan well, ini tentang Logan, yang waktu aku baca buku pertamanya aku pikir aku nggak terlalu tertarik baca kisah romansanya dia. AKu lebih tertarik sama kisahnya Cam sama Daylan.

Tapi karena aku lupa ini bukunya siapa, jadi aku baca. Dan siapa sangka, aku nggak bisa berhenti membaca.

Selain aku nggak bisa berhenti baca buku ini, hampir sepanjang buku , dari More Than Her sampai More Than Him, hampir setiap halaman aku nangis. Bukan nangis yang sesenggukan dan tersedu2, ada sih yang kayak gitu tapi yang setiap halaman bukan nangis yang kayak gitu. Aku nggak ngerti ya, itu bener2 nyaris nggak sadar trus udah netes aja air mata. Sampai mata bengkak juga nggak nyadar kalau aku nangis hampir setiap buku.

It's what so good about this book.
Sejujurnya kalau disuruh jabarin 'apa sih yang bagus dari buku ini?', aku bakalan bingung. Aku nggak tau apa yang bikin aku netesin air mata, tapi yang pasti semua karena aku begitu terbawa oleh cara penulis menuturkan ceritanya. Mau dari sudut pandang Logan atau Amanda, nyaris setiap kalimat yang dituliskan, atau setiap dialog yang disampaikan selslu penuh emosi. Saking bagusnya menurutku pengemasan dialog dan kalimat di buku ini sampe aku berusaha tahan2 juga tu air mata tetep netes.

So, maybe i need this kind of book. Buku yang begitu kaya emosi, begitu kaya chemistry, dan bukan hal yang menye2 yang disampaikan. It's hurt, but a good hurt. Aku nangis, tapi bukan nangis sedih, cuma nangis karena begitu tenggelam dalam cerita sehingga cerita ini mampu meluapkan semua perasaan yang dirasakan oleh pembaca.

Ya, mungkin buku ini bukan buku favorit. Secara garis besar cerita mungkin bukan. Tapi secara pengemasan emosi menurutku ini bagus banget. Kalau butuh buku2 yang bisa bikin nangis2 tapi bukan nangis tragis atau sedih atau sad ending, aku pikir buku ini worth untuk dibaca. Selain itu, aku juga sempet gemes sama buku yang More Than Her, agak kaget waktu sampai halaman terakhir dan ternyata masih belum tamat. Untungnya itu masih ada lanjutannya. Baca bukunya ini lumayan cepet sih, apa emang tipis ya? Entahlah...

I actually looking forward for this kind of book. Happy ending yang tetep bisa bikin air mata berjatuhan tanpa disadari sepanjang buku. That's a good tears i think. Saking dalamnya perasaan yang dimiliki setiap tokoh untuk memperjuangkan satu sama lain itulah yang bikin buku ini menjadi begitu emosional.

APakah aku akan melanjutkan?
Of course.

Sekarang ini kayaknya aku emang baca buku yang dari awal nggak bisa berhenti baca. Karena buku ini waktu baca nggak sadar tiba2 udah setengah buku dan rasanya nggak pingin berhenti baca jadi aku bilang buku ini bagus. Bukan berarti buku yang awalnya lambat nggak bagus ya, tapi mungkin aku butuh cerita2 yang sejak awal udah memunculkan emosi atau inti ceritanya. Bisa jadi setelah ini akan lebih banyak buku yang aku skip karena awalnya terlalu lambat... hmmm/.. okay, see you to the next review!

View all my reviews

Friday, March 24, 2017

Review: Seduction and Snacks

|
Seduction and Snacks

My rating: 5 of 5 stars

This book is hilarious. Seriously. I laugh too much because of this piece of book. I do searching for comedy romance book lately that can make me laugh so much. There are some really funny and and I happen to love this book!

There are many things make this book worth to read and why this book is really funny.

Single mom's issues was the first thing catch my interest to read this book. And it's not only because the heroin was a single mom. But the hero happened to be her Dad's Son. So I really wanted to figure how the story would became. Honesty, I couldn't put this book down before I really finished it. Every scene inside only brought me to read more. Every moments was interesting and hilarious that I couldn't stop reading it.

Review: Love and Lists

|
Love and Lists

My rating: 4 of 5 stars

Dari baca serinya si Claire aku emang udah jatuh cinta banget sama nih anak. Baca ini serasa harapan dikabulkan karena melihat Gavin besar. Dan itu berarti aku lihat dia waktu masih 4 tahun, 5 tahun, 9 tahun, 10 tahun... iya trus langsung loncat aja ke 25 tahun biar dia ada cerita sendiri gitu gedenya kayak gimana. Ya nggak?

Sebenarnya aku masih kangen sama Gavin kecil. Yaampun dia itu lucu banget,, mulutnya tu lho nggak bisa diem, udah gitu celetukannya selalu bikin ketawa. Sekarang dia udah gede sih, udah pinter. Ehmm... sebenarnya aku lihat si Gavin kecil ada bayangin gedenya kayak gimana hehehe. Agak gak sesuai ekspektasi sih tapi ya ini udah imajinasinya si penulis oke aja sih. Soalnya aku kepikiran Gavin ini gedenya cool dan jenius gitu. Gatau deh kenapa mikir gitu, habis kecilnya dia bener2 unik banget, jadi agak berharap sama uniknya.

Saturday, March 18, 2017

Review: Kiro's Emily

|
Kiro's Emily

My rating: 5 of 5 stars

I didn't intended to read this book. Really. I had known how this story would be end, that there will no happy ending. I had catch a glimpse about Kiro and Emily in Harlow's story and it hurt so much. It hurt saw how her Dad adored her Mom so much when Emmy practically couldn't do anything. How she finally saw another side of her Dad, that was so sad when in whole book I annoyed with Kiro then he asked Harlow to follow and witness his only love for her Mom. Emmy was died outside and saw it and the way Kiro in front of Harlow's Mom was hurt so much. So when Harlow went to bathroom and cried because she never thought that Kiro was still in love in her Mom, i cried too. Even now when i remembered how sad that scene in Harlow's book i felt like i wanted to cry again. And here i just read the love Emmy had for Kiro.

It made so much worse because I knew who was Emily, really known her, so when I back to previous book and read about her, it was so painful.

Friday, March 17, 2017

Review: Puddle Jumping

|
Puddle Jumping

My rating: 5 of 5 stars

Finally found another favorite book!
OMG. I love this book. So. So. So much. Maybe i will read this book again. I have missed Colton and Lilly anyway.

I don't know why I finally took this book (and i always have this kind of reason every time i read a good, perfect book for me), i just remember ever saw this book and passed it. Then i was searching list of comedy romance book, there was this book. I was searching about Aspergers and there was this book. I searched about unrequited love, and also about childhood love and always cought this book. I didn't have any idea about this book. My friends like this book so much, and this book have a good rating. That's enough reason for me to read this book right?

So i read this book.

Thursday, March 16, 2017

Review: Rule

|
Rule

My rating: 4 of 5 stars

hmmm seru-seru..
berhubung aku suka sama cerita2 yang heroinnya bertepuk sebelah tangan jadi bagiku cerita inipun sama bagusnya dengan cerita cinta sebelah tangan lain yang pernah aku baca.

Mana karakter Rule ini kan bad boy ya bertolak belakang sama Shaw. Ih, tapi aku sukaaa. Waktu dia akhirnya ngelihat Shaw dia bener-bener berubah, jadi lebih sweet lebih protektif dan lebih perhatian gitu. Kalo katanya Shaw si Rule ini kan dulu cuma nganggep Shaw suka ngintilin si Remy ya. Masalah di dalam cerita ini juga seru.

Bagus sih ya aku suka ... ehm, ada tapinya sih. Mungkin akan lebih baik kalau diceritakan hari2 si Shaw cuma bisa melihat Rule dari jauh, yaa biar lebih kerasa gitu hurtnya dia cinta bertepuk sebelah tangan. Soalnya di awal cerita sampai sekitar 30 atau 40 persenan gitu aku masih nggak dapet sama karakternya. Si Shaw nggak terlihat vurnerable malah kelihatan cool di mata Rule. Trus Rule di awal juga nggak terlihat sekeren yang dideskripsiin Shaw. Di awal lhoo, tapi dari 30 persen ke belakang udah bagus sih, aku menikmati ceritanya hingga akhir..