Postingan

Review: Winter Tea Time

Gambar
Winter Tea Time by Prisca Primasari My rating: 5 of 5 stars View all my reviews

Review: Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-orang Biasa Lainnya

Gambar
Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-orang Biasa Lainnya by Reda Gaudiamo My rating: 4 of 5 stars View all my reviews

Review: Noceur : Lights

Gambar
Noceur : Lights by Renita Nozaria My rating: 4 of 5 stars Pengalaman membacaku terhadap Lights sebenarnya dimulai dengan sangat positif. Dari halaman pertama, novel ini langsung terasa hidup dan menyenangkan. Unsur komedinya bekerja dengan cepat—membuatku tertawa, terkikik, dan merasa bacanya ringan serta mudah diikuti. Di awal, aku benar-benar merasa masuk ke dalam ceritanya, sampai muncul keyakinan bahwa ini akan menjadi novel yang sangat seru untuk diikuti. Secara genre, Lights membawa kombinasi yang sebenarnya sangat dekat dengan seleraku: fantasi, romance, dan komedi. Dunia fantasinya dibangun dengan visual yang jelas, sehingga aku bisa dengan mudah membayangkan latar dan suasananya. World-building-nya terasa cukup hidup, dan elemen fantasi yang disajikan membuatku menikmati proses menjelajah dunianya. Ditambah lagi, humor yang hadir di beberapa bagian cukup membantu menjaga ritme baca dan membuat ceritanya terasa lebih hangat dan menghibur. Nam...

Review: Seminggu Sebelum Aku Mati - 내가 죽기 일주일 전

Gambar
Seminggu Sebelum Aku Mati - 내가 죽기 일주일 전 by 서은채 My rating: 5 of 5 stars View all my reviews

Review: Noceur : Lights

Gambar
Noceur : Lights by Renita Nozaria My rating: 4 of 5 stars Pengalaman membacaku terhadap Lights sebenarnya dimulai dengan sangat positif. Dari halaman pertama, novel ini langsung terasa hidup dan menyenangkan. Unsur komedinya bekerja dengan cepat—membuatku tertawa, terkikik, dan merasa bacanya ringan serta mudah diikuti. Di awal, aku benar-benar merasa masuk ke dalam ceritanya, sampai muncul keyakinan bahwa ini akan menjadi novel yang sangat seru untuk diikuti. Secara genre, Lights membawa kombinasi yang sebenarnya sangat dekat dengan seleraku: fantasi, romance, dan komedi. Dunia fantasinya dibangun dengan visual yang jelas, sehingga aku bisa dengan mudah membayangkan latar dan suasananya. World-building-nya terasa cukup hidup, dan elemen fantasi yang disajikan membuatku menikmati proses menjelajah dunianya. Ditambah lagi, humor yang hadir di beberapa bagian cukup membantu menjaga ritme baca dan membuat ceritanya terasa lebih hangat dan men...

Review: The Little Prince

Gambar
The Little Prince by Antoine de Saint-Exupéry My rating: 4 of 5 stars Membaca The Little Prince bagiku bukan pengalaman yang langsung “klik”. Justru sebaliknya—aku cukup sering merasa bingung. Namun di balik kebingungan itu, ada perasaan yang terus bertahan: buku ini terasa filosofis sekaligus imajinatif, dengan cara yang lembut dan tidak memaksa. Sejak awal, novel ini menunjukkan jarak antara cara pandang orang dewasa dan anak-anak. Orang dewasa cenderung membutuhkan alasan, angka, dan fungsi untuk memahami sesuatu, sementara anak-anak melihat makna tanpa perlu penjelasan rumit. Kesenjangan ini tidak disampaikan dengan nada menghakimi, melainkan melalui pengalaman sederhana—seperti gambar yang selalu gagal dipahami, atau percakapan yang dianggap remeh oleh orang dewasa tetapi bermakna bagi anak-anak. Seiring cerita berjalan, aku mulai menangkap bahwa perjalanan Little Prince ke berbagai planet bukan sekadar petualangan imajinatif, melainkan r...

Review: The Black Lizard / Beast in the Shadows

Gambar
The Black Lizard / Beast in the Shadows by Edogawa Rampo My rating: 5 of 5 stars Sejak awal membaca The Black Lizard, aku sudah tahu bahwa tokoh utamanya—Black Lizard—adalah seorang villain: kriminal, penculik, dan sosok yang jelas-jelas berada di sisi yang salah secara moral. Namun yang menarik, novel ini justru mengajakku mengikuti sudut pandangnya. Black Lizard digambarkan bukan sekadar sebagai penjahat, melainkan sebagai figur yang indah, anggun, cerdas, dan nyaris seperti dewi. Cara penggambaran ini sempat membuatku terkecoh. Aku mendapati diriku menyoraki kecerdasan dan kepiawaiannya, terutama saat ia berhadapan dengan Akechi Kogoro.  Di titik ini, aku menyadari bahwa novel ini dengan sengaja membangun pesona kejahatan. Kejahatan yang rapi, terencana, dan dikemas dengan estetika. Dan sebagai pembaca, aku ikut terseret untuk mengaguminya—meski sadar bahwa kekaguman itu seharusnya problematis.  Namun, seiring cerita berjalan, keka...