Sunday, August 31, 2014

Review: Fifty Shades Freed

|

Fifty Shades Freed

My rating: 5 of 5 stars



wooowww. i finish them! I can't believe I reread and it's finish! that means these book is adorable good and I love them so much.

daaaan.... kalo dipikir pikir baru ini novel yang aku baca ulang dari awal sampai akhir dan aku masih nggak nyangka ternyata aku lupa sama alurnya, jadi kerasa kayak baca baru gitu. Trus yang nggak kalah penting, di buku ini tuh diceritain banget gitu gimana konflik mereka dan tarik ulur mereka di pernikahan mereka ini. Macem-macem deh. komprominya mereka itulah konflik utama. Dari yang si Ana telanjang dada di pantai, permintaan prenup dari ayahnya christian, penjahat yang ngejar-ngejar christian, trus waktu si christian ke portland dan ngasih perintah ke ana tapi ana malah nggak dengerin dan pergi minum sama kate yang ternyata di apatermennya ada jack yang mau nyulik ana. Disitu ada pertengkaran hebat yang kemudian bikin christian nggak sadar dan melakukan balas dendam ke ana sampe ana harus bilang safe word. Itu paniknya christian sampe banget.

Review: It's In His Kiss

|

It's In His Kiss

My rating: 4 of 5 stars



entah kenapa aku bisa menyelesaikan ini dalam waktu satu hari. Mungkin karena aku terlalu pingin mencari bagian romantisnya.

seperti biasa aku menyukainya. Lucu dan menghibur. Lebih menarik karena keluarga Bridgerton itu sendiri. Apalagi pertengkaran Hyacinth sama kakak kakaknya. Mereka kan sifatnya unik unik, jadi lucu gitu kalo di gabungin. Dan aku gabisa lupa bagaimana Gregory di perlakukan oleh kakaknya dan bagaimana ia memperlakukan Hyacinth sebagai adik satu satunya. Jujur aja aku pingin lihat kisah duo ini lebih banyak. Aku juga seneng lihat kekesalah keluarga ini terhadap sifat Hyacinth. Seolah olah ia selalu menjadi bayi di keluarganya karena faktor anak terakhir. Begitu pula Gregory. Sayang aku malah nggak ngikutin karakter Hyacinth di kisahnya Fransesca. Pokoknya keluarga ini seru banget deh dan aku suka memperhatikan karakter mereka di setiap novel dan keterikatan mereka dengan setiap karakter yang berbeda. Yang pasti setiap karakter keluarga ini bikin aku seolah olah ingin membaca karakter yang lain. Entahlah, julia quinn harus diakui hebat membuat tujuh buku dengan karakter berbeda sekaligus sangat mendukung.


Disini juga ada anthony yang menyatakan kelegaannya karena adik perempuannya lepas dari tanggung jawabnya dan kini ia bebas. Aku hampir ketawa waktu lihat si Anthony ini mungkin nggak pingin jadi ayah keluarga ini dan hidup bebas. Tapi kayak otomatis gitu setelah ayahnya meninggal dia yang memegang gelar Lord Bridgerton di keluarga ini dan hebatnya ia tetap membuat keluarga ini jadi keluarga terkenal di London.

Entah kenapa setiap melihat campur tangan anggota keluarga Bridgenton di satu buku, rasanya ingin melihatnya lagi di buku lain dan itu membuatku jadi membandingkan. Hebatnya si Julia ini sungguh konsisten dengan karakter karakternya sehingga sifat mereka tidak berubah di buku lainnya.

misalnya waktu aku lihat Gregory sama Anthony di buku ini, aku jadi gak bisa lepas sama sikap mereka di kisahnya Eloise dan memperlihatkan betapa ia kesal dengan Eloise. Adik perempuan kedua yang hebat yang karakternya bikin aku terpukau dan dewasa. Lucunya di hadapan kakaknya ia tetaplah seorang adik. Dan bagaimana cara kakaknya memperlakukan eloise membuatku sangat penasaran dengan masa kecil mereka dulu. Pasti berisik dan penuh pertengkaran. kemudian aku akan belajar tentang karakter heroinnya. Misal karakter Eloise dan Hyacinth adalah perpaduan serasi yang akan membuat saudaranya berlari ketakutan.

Pokoknya seru deh.
Dan aku kasih bintang empat karena dengan ide yang menarik ini sayang aku nggak se deg-degan beberapa buku yang aku kasih bintang 5. Kalo serunya sih sempurna, tapi cuma yang bikin berdebar itu agak jarang di temuin.

Tapi tetap saja sero bridgenton ini tetap tidak bisa di lewatkan.



Review: Dansa Tengah Malam (Dancing at Midnight) - Blydon Series Book 2

|

Dansa Tengah Malam (Dancing at Midnight) - Blydon Series Book 2

My rating: 4 of 5 stars



seperti biasa, julia quinn tidak membuatku berhenti tersenyum membaca novelnya, termasuk yang ini. Dan agak beda dari novel sebelumnya yang kubaca, disini si ceweknya lumayan agresif untuk jadi pihak yang berusaha keras mendapatkan tokoh cowoknya. Hmm.. beberapa hal memang mudah di tebak sih dan sebenarnya kalau novel ini disajikan tanpa peran masa lalu miliki John, bisa saja novel ini akan terkesan datar. Ketakutan John akan masa lalunya cukup pas di taruh untuk membuat emosi di novel ini menjadi lebih hidup.

Salah satu yang kusukai dari novel ini adalah karena kedua karakter disini berusaha jujur dan mereka sudah mengungkapkan ketertarikan mereka sejak awal dan wow, disini aku benar benar merasa tengah menyaksikan orang berpacaran. Jujur agak canggung aku bacanya juga.



tidak ada konflik yang terlalu berarti. meskipun semuanya merujuk pada satu hal, tapi diantara keduanya selalu berakhir dengan cepat. Tapi tetap saja tidak mengurangi beberapa hal yang berhasil membuatku ingin meneteskan air mata karena keduanya yang begitu jujur.

Aku cukup terhibur dengan beberapa hal yang berkaitan dengan Emma, Alex, dan Dunford. Itu membuatku sangat dan sangat penasaran dengan cerita mereka bertiga. Andai aku mendapatkan buku seri pertamanya.

Well, aku berhasil tertawa ketika membaca beberapa adegan pengulangan di saat mereka 'diganggu' dan masih tidak berhenti tertawa ketika mereka menikah. Astagaaa... bagaimana bisa Belle bahkan memanjat pohon hanya untuk bisa bertemu dengan John?? sungguh... sungguh berbeda si Bella ini.


akhirnya yang bikin aku taruh 4 bintang bukannya 5 adalah karena well, semuanya sudah cukup baik, hanya saja aku agak terganggu oleh banyaknya gangguan dr tokoh lain dan mereka berdua yang jarang tertarik untuk benar-benar membuat obrolan yang menarik. Habis biasanya mereka malah melakukan hal lain kalo lagi berdua. Dan memang terlali cheesy di beberapa bagian. Aku sih ngerasanya mungkin2 aja, tapi untuk ukuran di taruh di sebuah novel, rasanya jadi agak terlalu berlebihan. Yah. apapun itu. overall novel ini jelas masih layak dibaca.



Review: Just Like Heaven - Seindah Mimpi

|

Just Like Heaven - Seindah Mimpi

My rating: 3 of 5 stars



aaaaaj akhirnya aku memutuskan taruh 3 bintang untuk buku ini. Rasanya aku nggak terlalu yang gimana sama yang ini. Walaupun yaaah masih dalam kategori suka berhubunh julia udah jd penulis favoritku. Hanya saja banyak ekspektasiku yang nggak kesampean disini. Hubungan antara marcus dan honoria terlalu datar meskipun harus kuakui tetap lucu. Konfliknya entah kenapa kurang kuat, nggak yang bikin nangis ataupun ikut sedih . Perkembangan hubungannya juga kurang padet malah terkesan bertele tele. Banyak bagian yang rasanya ingin di skip aja. Setelag setengah buku sebenarnya aku berniat untuk berhenti membaca tp rasanya sayang banget kurang dikit gitu jd aku lanjutin deh.

Aku agak berharap sikap marcus dan honoria bisa lebih di eksplor kayak waktu mereka masih kecil soalnya kesannya lucu dan manis. Waktu udah dewasa gitu kita jd cuma dibayangin masa kecil tp kesan sifatnya di marcus daniel sm honoria jd hilang. Selain itu yang bikin terasa lama hubungan mereka itu cuma pengingat kalau mereka udah kenal dari kecil tp di buku itu malah terasa terlalu cepat. Hanya saja dari kesemuanya aku cukup terharu sama bagian si marcus melamat honoria yang cukup berani.



Review: Kecupan Tengah Malam

|

Kecupan Tengah Malam

My rating: 4 of 5 stars



ooooh well.
I give it 4 starts for my first time reading eloisa james book.

aku lumayan terhanyut dengan ceritanya yang basic nya adalah cerita dongeng dan eloisa bahkan meniatkannya demikian.

cerita seorang pangeran yang jatuh cinta oleh seorang pelayan.

ah. dasarnya kayak cinderella banget.
dan ini adalah pertama kali aku baca novel historical romance yang tokoh utamanya adalah seorang pangeran yang tinggal di sebuah kastil.

aha. kalian pasti sudah membayangkan cerita ala ala negeri dongeng dengan keanggunan dan segala macam.

tapi karakter tokoh ini semua di luar keseharusan.

pangeran yang sosoknya seperti ksatria, tampan, berkuasa,anggun, hebat, adalah seorang pria nakal yang baik. ah. sebenarnya karena sosok kate di sekitarnya


dan kate. katakanlah dia memang anak tiri. di kisah bawang merah bawang putih atau cinderella, atau kisah dongeng lainnya, seorang anak tiri yang orangtuanya sudah tiada adalah tipe tertindas bukan? tapi kate tidak demikian. ooooh aku suka banget sama kate. Dia terpaksa jd pelayan dan mengurus estatnga hanya karena dia terlalu memikirkan para pelayan yang akan dipecat ibu tirinya tiap kali dia membantah. Dan kate adalah sosok wanita yang tidak bisa ditaklukkan. Kate memang baik tapi apa yang dilakukan ibu tirinya pada kate hanya membuat kate semakin membenci mariana dan semakin bengar, berani, dan pembangkang. tapi aku suka! seseorang yang seharusnya adalah lady memang layak untuk setidaknya mempertahankan harga dirinya dan temperamen kate yang buruk memang membuatnya kelimpungan. Tp intimidasi ibu tirinya juga memang luar biasa. Naaah nantinya ia akan memiliki ibu tiri dalam bentuk perwaliannya yang akhirnya menemukannya dan sangat mencintainya.

Lalu adik tirinya, dia sama sekali tidak jahat. mereka justru saling menyayangi


dan itu. cerita ini menurutku lebih masuk akal daripada kisah dongeng yang terlalu muluk untuk membuat tokohnya menderita dan nantinya akan bahagia.

Disini kate memang menderita. Tapi tidak ada tangisan. Kate adalah gadis yang luar biasa tegar. Dan semua keputusannya yang di ambil kate di cerita ini sunggug natural, seolah itulah yang lebih layak terjadi di kehidupan nyata. Lebih real meskipun basicnya eloisa ambil cerita dongeng.

Bahkan kisah antara kate dan gabriel sang pangeran. ya ampuuuun. mereka itu serasi. Ya serasi. Gabriel tidak menemukan kate sebagai wanita yang cantik tapi dengan cara yang tidak disangka sangka dia jatuh cinta dengan gadis itu. Kate juga memuja gabriel dan meskipun awalnya dia ingin gabriel menyadari bahwa tidak semua wanita harus tunduk pada pesonanya, tapi kejujuran kate itu cukup memukau. Caranya mencintai gabriel tulus dan jujur. Dia akan mengatakan suka dengan sikap laki laki itu memang membuatnya harus memujinya.

Kate bahkan tahu bahwa gabriel mencintainya dan tahu gabriel adalah seorang pangeran yang tidak bisa menikahi wanita biasa seperti kate. Tapi sikap toleransi kate itu memang hebat karena dia bahkan memutuskan untuk tetap mencintai gabriel meskipun tidak bisa memiliki laki laki itu. Tapi sikap Kate yang terlalu mengerti itulah yang membuat gabriel kalap. Dan kalian harus melanjutkannya sendiri untuk tahu bagaimana kelanjutan kisah mereka.

Yang pasti, aku tahu bahwa aku menyukai cerita yang disuguhkan eloisa disini.



Review: Semalam Bersama Sang Pangeran - One Night With a Prince

|

Semalam Bersama Sang Pangeran - One Night With a Prince

My rating: 4 of 5 stars



3.5 bintang ke arah yang bagus, dikarenakaaaan...

menurutku awal-awal baca ini datar banget. Walaupun udah dibumbui konflik disana-sini, tapi entah kenapa datar aja nggak dapet emosi yang gimana gitu.

Karakter Gavin ini sebenernya aku suka bannget. Pangeran Dosa yang nggak sadar kalo dia punya jiwa. Heroinnya juga ga kalah memukau. Christabel mudah luluh sama kebaikan orang, kesadarannya terhadap keberadaan jiwa dalam diri Gavin juga memberikan perkembangan ke arah yang baik. Tapi tapi tapiii

Aku agak gak puas.
Sampai hampir pertengahan buku, sumpah datar banget. Pertemuan Christabel sama Gavin juga gak bikin berdebar-debar. Masih berputar di bagian Gavin hanya menginginkan Christabel secara fisik dan Christabel yg gak terima terus mundur. Tapi perkembangannya lambat. Sedikit-sedikit emang dibahas kebaikan Gavin, tapi yaudah gak lama-lama, pembahasan balik lagi ke yang agak gak terlalu berkembang.


Nah baru deh waktu cerita mulai masuk ke betapa tegangnya Gavin bertemu Anna, aaaaaaa. Untung ya! untung aja ada bagian itu soalnya disitu, Christabel yang selama ini seolah cuek akhirnya ngerasa super cemburu, termasuk Gavin yang gak suka lihat Stokely ada disekitar Christabel. Yaaa aku suka ada konflik Anna ini. Aku selalu suka kalo si heroine kita harus ngerasain patah hati tapi nanti berbalik jadi hero nya yang ngejar-ngejar.

Hanya saja masalah Anna ini gak terlalu banyak jadi emosinya juga gak klimaks. Yaudah gitu aja. Christabel tipe yang kuat dan aku suka cara dia memperlakukan Anna pada akhirnya, aku suka cara dia mendorong Gavin agak mau jujur tentang perasaannya. Sukaaaa banget. Bahkan aku nangis dua kali.


Cerita masa lalu kedua tokoh kita cukup tragis. Terutama Gavin. Rasanya pingin banget meluk dia. Dan itu kurang!!! Meskipun cukup terenyuh di akhir2 bagaimana cara Christabel memperlakukan Gavin, tapi tetep aja kurang.

Jadi gini lho.
Cerita ke arah petualangan konflik utamanya tu terlalu lambat dan lama. Pas beneran masuk konflik utamanya beserta konflik-konflik pendukung yang cukup kuat diceritakan tapi malah gak dikembangin bener-bener, porsinya dikut bangett. Chemistrynya terbangun tapi nggak dikembangin sampe yang bikin kita jungkir balik. Dan penyelesainnya itu dikit banget porsinya. Kurang deh pokoknya.

Yah whatever is that, buku ini masih enak dibaca karena karakternya disini memesona daaaan.... kisah sedihnya bener-bener berhasil bikin aku nangis. And it is good.



Review: One Dance with a Duke - Romansa Waltz Tengah Malam

|

One Dance with a Duke - Romansa Waltz Tengah Malam

My rating: 4 of 5 stars



Buku pertama Tessa Dare yang aku baca dan bagus.
Tapi sedih aku masih belum bisa ngasih bintang 5 ke novel yang aku baca belakangan ini.

Disini aku suka gemes sama Amelia yang lamaaa banget sadar kalo Spancer itu lebih penting dari apapun di hidupnya. Aku nggak sebel sama Jack, tapi Amelia yang kadang bikin sebel.

Dilain situasi, Amelia bisa bikin aku suka sama karakternya, tapi di lain situasi aku juga sebel sama Amelia.

Kalo Spancer yang katanya lebih mentingin kuda, aku tetap menganggapnya mempesona. Untuk orang sekaku Spancer bisa jadi begitu romantis di depan Amelia, aku sih bisa ngartiin dia sebenarnya mentingin Amelia daripada apapun, dan lagi-lagi Amelia terlalu lama untuk menyadarinya.

Ada banyak adegan favoritku disini, banyak percakapan lucu.
Tapi banyak juga halaman yang habis untuk adegan-adegan yang pinginnya sih dipake buat mengangkat emosi,



Monday, August 25, 2014

Review: Splendid (Cinta Luar Biasa)

|

Splendid (Cinta Luar Biasa

My rating: 4 of 5 stars



yang pasti bagus. bersyukur banget bisa nemu buku ini.
review nyusul yaa

edit:

ini buku pertamanya julia quinn ya?
dan bener banget... aku nemuin kata-kata yang nggak dia pake di novel-novel barunya hahaha.

Nah, buat aku nih ya. Untuk ukuran novel pertama sih, ba-gu-ussss.. bagus, beneran. Dan ringan, tapi gak menye-menye. Lagi, serial ini, Blydon Trilogy, adalah serial yang berhasil aku peroleh semua bukunya. Baru ini, dan itu bersyukur banget karena kebetulan rental yang baru aku temuin ini ternyata menyimpan dua sisa buku yang belum aku baca. Sayangnya, waktu aku selesai baca ini, aku pingin baca novel yang Dancing at Night lagi soalnya kan itu buku pertama yang aku baca, jadi muter-muter gitu dah. Rasanya pingin liat emma dan alex yang masih hangat-hangatnya disana. wkwkwk. *duh mah nglantur*

Well, disini nggak ada salah paham. Disini tokoh utamanya punya karakter yang luar biasa jujur. Mereka merasa 'it's the best to say everything you think' dan itu nggak mengurangi keindahan dari cerita ini sendiri.

Teruuus, aku suka awal emma dan alex ketemu. Itu lucu, apalagi trus alex yang penasaran nemuin emma secantik putri di lantai dansa. Aku suka karakter emma yang selalu menimbulkan masalah. Hahaha. Si emma ini, jujur aja, menurutku dia gadis yang sangat berani, dan keberaniannya dan rasa tanggung jawabnya yang besar itu yang bikin alex tergila-gila.





Alex ini sosok yang nggak mau menikah karena masalalunya. Menurutku sih masalalu alex simple, nggak berat-berat amat. Tapii... ternyata novel ini membaca pikiranku hahaha. Soalnya awalnya aku sempet penasaran kan kalo masa lalunya simple gitu trus kira-kira mau dibawa kemana? Dan jawabannya... hhhh.... aku nangis deh waktu masalalu alex ini berhasil disangkut pautkan sama Emma yang pada saat itu melamar duluan karena 'memang' masalah uang, tetapi pada kenyataannya dia cuma mau cari alasan biar bisa cepet-cepet maksa alex ke pernikahan. Si alex nih, bener-bener-bener-bener-bener. Pokoknya bener-bener sadis banget waktu ngusir emma dari rumahnya. Kayaknya aku aja bisa bayangin ekspresinya dia deh. Jahatnyaaaa.. Aku setuju banget deh si emma akhirnya marah banget sama alex yang nggak mau denger.


Menurutku klimaksnya disitu!
Iya disitu. Soalnya satu. Bagian itu bikin aku nangis. Kedua, antiklimaksnya juga bikin aku nangis. Kata-katanya, penyesalan alex, perlakuan, kekhawatiran alex, pikiran emma yang saat itu marah tetapi hatinya meleleh juga, pokoknya I love them sooo much.

Malah, bagian yang bener-bener klimaks menurutku cuma jadi tambahan konflik aja menuju ending. Yaah. lebih tepatnya, endingnya gitu aja sih. Walaupun aku tetep suka sama konflik di akhir itu, haha, suka banget malah. Tegang, tapi berakhir dengan tetap bahagia, dan berdebar-debar.

Sebenernya aku bingung kenapa aku kasih bintang empat ya.. hmm..

mungkin karena nggak berkelanjutan aja sih tegang-romantis-tegangnya. Di beberapa bagian bisa sediiih banget, dan emang porsinya cukup banyak, tapi ada di beberapa bagian yang mungkin agak klise, misalnya di bagian pesta dansa-pesta dansa yang menurutku sih nggak terlalu istimewa, dan yaah.. walaupun nggak menghentikanku untuk tetap membaca, maybe, that's the reason I give 4 stars actually.


Still, it's really worth to read :D happy reading guys





Wednesday, August 20, 2014

Review: What Happens in London - Yang Terjadi di London

|

What Happens in London - Yang Terjadi di London

My rating: 3 of 5 stars



Setelah sempat masuk list pending karena nggak bisa ngelanjutin, akhirnya aku nyewa buku ini dan memutuskan untuk menyelesaikannya sampai akhir.

Aku harus balik lagi mengutip kata-kataku yang sering kulontarkan, bahwa seburuk-buruknya cerita yang dibaca, tergantung dengan bagaimana cara cerita tersebut diakhiri. Dan itu benar, karena novel ini membuktikannya. Hahaha

Jujur aja ya, novel ini sampai masuk ke daftar list pending karena aku bacanya lama banget sampai lewat masa tenggang pengembalian. Itu bukan karena aku sibuk kuliah, tapi semata-mata karena aku bosan dan sulit meneruskannya dengan menghabiskan waktu-waktuku. Untuk membaca buku, jujur aku nggak keberatan waktuku tersita, tapi jelas karena buku ini mmebuatku tidak bisa berhenti membaca. Sedangkan ini, aku mudah sekali ingin mengabaikannya.

Hanya saja, karena aku merasa bahwa bukunya Julia Quinn ini wajib gitu ya dilahap sampai habis, jadi aku memutuskan untuk tetap akan dan harus membacanya hingga selesai.


Novel ini dataaaar banget. Aku nggak ngerasain emosi apapun bahkan sampai cerita ini mencapai klimaks. Gitu aja! Aku nggak ngerasain emosi apa-apa, bahkan ketika Olivia menangis? Aku aja nggak ngerti kenapa Olivia menangis yang bahkan gagal membuatku tersentuh sedikitpun. Masa lalu Harry datar, adiknya punya potensi bagus diceritakan, tapi diabaikan. Tidak ada konflik batin yang pekat diantara dua tokoh disini sehingga tidak ada yang terlalu emosi untuk diselesaikan. Dan aku cuma melihat kembaran Olivia sekali! Padahal aku pingin banget lihat dia disini bertengkar sama Olivia. Pokoknya banyak banget yang kurang. Kegiatan di novel ini hanya seputar jendela-pangeran-dan Miss Butter apalah itu. Novel ini ringan banget deh, hampir kayak novel teenlit yang aku baca saking ringannya.

Aku ingin sekali memberikan novel ini 2 bintang, sungguh. Kalau bukan karena novel ini diakhiri dengan cukup baik yaitu ketika Harry melamar Olivia dengan cara yang unik. Dan yang kedua, aku juga akhirnya memutuskan menaruh 3 bintang karena aku cukup tertarik oleh adegan ketika sebastian berhasil mempersatukan pangeran-edward-harry di ruang duduk olivia. Yah itu aja sih, lainnya gitu-gitu aja. Malah banyak yang aku skip saking pingin cepet selsai.



Saturday, August 16, 2014

Review: Kemilau Cinta - Brighter Than the Sun

|

Kemilau Cinta - Brighter Than the Sun

My rating: 5 of 5 stars



ada alasan kenapa aku kasih 5 bintang untuk buku ini hahaha
kalo punya opini pribadi kayak gini sih, suka nggak nyangka gitu ya kalo aku bisa kasih 5 bintang untuk ini sedangkan temenku kasih cuma dua-tigaan hahaha.

Satu hal yang aku suka banget sama novel ini adalah,
Julia Quinn menyadari bahwa tema pernikahan yang pura-pura merupakan tema yang sudah sering muncul di novel-novel romance, dan aku suka prinsipnya dia kalo dia nggak setuju ada pernikahan yang didasari selain cinta. Nah, itu tuh yang bikin dia nggak aneh-aneh sama novel ini. Konfliknya nggak yang pake orang ketiga kayak novel-novel pernikahan kontrak pada umumnya. Karena di novel ini juga ceritanya nggak kayak yang dibatesin cuma berapa bulan gitu. Kelihatannya Julia Quinn mencari alasan untuk bisa menjadikan pernikahan pura-pura ini menjadi kisah selamanya tanpa tenggang waktu, yaitu melalui warisannya. Sehingga kedua tokoh berusaha sebisa mungkin untuk membuat pernikahan ini bisa bertahan selamanya tanpa adanya niat pembatalan ceritanya.

Hal itu juga didukung oleh kedua karakter utamanya yang saling klop satu sama lain.
Suka heran juga sih, mana yang lebih cocok. Punya banyak kesamaan, atau nggak punya kesamaan sama sekali.

Nah, disini, tokoh utama kita adalah dua orang yang memiliki kemiripan satu sama lain. Ellie dan Charles memang menikah atas dasar itu awalnya, kemiripan sifat satu sama lain. Nada sinis yang sering mereka lontarkan satu sama lain, kata-kata yang tajam, tapi memiliki sisi lembut.

Yaa sebenarnya karena aku selalu suka sama humornya JQ ya, jadinya aku suka banget sama setiap percakapan yang terjadi di buku ini. Apalagi itu bukan sekedar percakapan tapi perdebatan, dan itu juga yang bikin aku selesai dalam waktu satu hari saja membaca novel ini.

Lagian dulu aku pernah nggak sengaja dapet novel ini tapi kok nggak aku baca gitu ya. Entahlah. Awalnya waktu liat sinopsisnya aku agak pesimis sama ceritanya. Habis kan di sinopsisnya diceritakan kalo setelah menikah ternyata Charles belum siap. Dan aku pikir ceritanya bisa berkembang buruk karena pasti isinya pertengkaran. Eeeeh ternyata, aku nggak tau aja deh sama pola pikirnya JQ yang nggak mungkinlah mereka bertengkar tanpa muncul rasa sayang di antara keduanya. Dan ternyata, aku juga nggak sadar kalo bacaan jenis kayak gini tuh termasuk yang kesukaanku. Apalagi waktu Ellie harus disalahkan atas semua hal yang tidak diperbuatnya, ya ampun, rasanya sedih banget liat dia tinggal di rumah dimana orang-orang memandangnya rendah, termasuk suaminya sendiri. Tapi kejadian yang akhirnya bikin Ellie harus kesakitan itu juga so sweet banget. Akhirnya mereka berdua tahu bahwa mereka saling menyayangi satu sama lain.

Meskipun di beberapa bagian emang siiih, agak mudah di tebak, tapi overall, lagian karena aku bisa selesai dalam satu hari, jadi aku anggap impas. I love it.