Sunday, September 27, 2015

Review: Kiss of the Night

Kiss of the Night

My rating: 4 of 5 stars

Kisah tentang Wulf agak terpisah dari kisah dark hunter lainnya. Mungkin karena diceritakan ia berada di beda wilayah. Lucu aja cerita di buku ini kayak overlapping gitu. Di awal2 buku dikisahkan cerita wulf agak bertabrakan dgn cerita ketika Talon mau ketemu Sunshine. Trus di pertengahan buku kelihatan kalo Acheron saat itu gabisa bantu2 di wilayah Wulf mungkin krn saat itu di New Orleans kejadiannya adalah waktu Styxx itu deh. Nah pertiga buku trnyata cerita mendadak udah sampe Zarek aja kelarnya wkakaka. Cepet bener ya. Trus aku baru sadar juga kalo trnyata Wulf meskipun temenan sama Dark Hunter lain, tp ternyata merela terakhir bertemu 100 tahun yang lalu. Buset. Mereka ngomong kayak gak ketemu brp bulan aja.


Ah ya, kisah masa lalu Wulf ga semenyedihkan dan setragis anak2 DH sebelumnya. Mungkin karena Wulf sendiri juga nggak pernah mati. Naaah justru yang sedih ini adalah cerita tentang Cassandra yang setengah appolite dan sedang menuju ultah ke 27. Trus dia hamil lagi. Dan itu so sweet bamget. Bagaimana Wulf berusaha menjaga calon bayinya dan Cassamdra. Bagaimana ia rela melakukan apapun untuk Cassandra. Padahal awal2nya dia benci banget tuh sama kaum appolite. Udah gitu gimana takutnya dia ngelihat seorang appolite mati, takut cassandra kayak gitu, dan dia nggak bisa ngapa2in buat nyelametin cass. Awalnya dia pasrah, tapi lama lamaa Wulf makin nggak bisa terima kalo Cass ninggalin daimon dan dia janji nggak akan pernah benci sama Cass. Sedih banget kan, pdhl Cass juga gamau bunuh buat bertahan hidup. Pokoknya ketabahan Cass menghadapi kematiannya pilu banget deh.

Syukurlah ada Chris juga, dia lucu banget kalo ngomong dan ngajak debat. Kalo sama Chris kan si Wulf overprotektif banget tuh jadi kayak seorang ayah. Nah yang sedih tu paling cerita ttg wulf yang melihat keluarganya mati satu persatu krn usia sdgkn dia hidup terus.

Another interesting story, ada kisah simi acheron, dan ada reuni DH jugaaa. Aaak liat Kyrian, Julian, Talon, dan Zarek juga hhhaha. Pokoknya novel ini masih seseru yang lainnya.

Review: Night Play

Night Play

My rating: 5 of 5 stars

Sukaaaaa suka suka suka banget sama kisahnya Vane sama Bride. Kalo masa lalu kelam sih emang ada, tapi emang Vane masalalunya nggak setragis anak2 dark hunter. Selain perihal kalo ia mau dibunuh ayah ibunya, sebenarnya Vane sedang berada di ambang batas kekelaman dalam hidup (aih apaan sih)

Baru kali ini Vane ngerasain gimana rasanya kehilangan adik yang paling ia sayangi Anya yang meninggal belum lama. Kemudian disusul Fang yang sekarat di sepanjang buku.

Sumpah ya, aku berharaaap banget bisa liat Fang di sepanjang buku. Suka banget sama celotehannya dia dan betapa cerewetnya dia di awal buku. Sayang sisanya tokoh Fang ini hanya berakhir diam. Hiks. Kangen sama cerewetnya dia.


Vane sebagai sulung diantara 3 bersaudara, merasa terombang ambing dengan hidupnya yang tiba tiba terjun payung. Ia mendadak merasa kesepian dan tidak punya siapa siapa. Ih sedih banget pokoknya waktu Vane berusaha menyelamatkan adiknya, dan ia bahkan menangis memohon agar adiknya mau kembali sadar. Vane yang selama ini terkesan suka kesal dengan cerewetnya Fang sekarang merasakan kerinduan yang mendalam terhadap kondisi adiknya itu. Dan bagiku itu menyentuh banget, kisah kakak beradik ini.

Kemudian Bride muncul.
Yah, nggak kayak Dark Hunter, Vane memang orangnya lembut sih, jadi waktu pertama kali ketemu Bride dan betapa dia pingin cari alasan buat liat Bride, aaaakkkk romantis banget. Lucuuu, menyentuh, dan ditambah Vane tuh terkesan polos banget jadinya bisa langsung ngerasain aja kelembutan Vane.

Pokoknya Vane disini baiiik banget dan pengetahuannya tentang manusia bener bener minim sehingga perlakuannya ke Bride lebih terkesan spontan dan Vane jadi sama sekali nggak keliatan sekejam yang biasa ia perliatkan dilingkungan asalnya. Lucu aja gimana Vane mau belajar semuanya biar bisa liat Bride senyum. Bride sendiri selama ini merasa minder dan bertemu dengan Vane bikin dia ngerasa sebatas mimpi. Yah, intinya Vane dari awal yang udah jatuh cinta kemudian tahu kalau Bride pasangannya merasa bahwa ia rela melakukan apapun demi Bride dan itu menyentuh banget.

Aku terkesan dengan cara Kenyon membuatku terus berdebar debar di sepanjang buku.

Kemudian muncul Fury, orang yang kelihatan jahat tapi ternyata ia selucu Fang. Sedih banget waktu cerita tentang kehidupan Fury dan bagaimana ia ingin bergabung dengan Vane bersaudara tapi takut hingga akhirbya dia jadi penyendiri. Nyatanya dia adalah adiknya Vane dan hubungan baru Vane dengan adik baru Vane ini seolah menjadi pelipur lara dikala Vane baru saja kehilangan anggota keluarganya yang paling ia sayangi. Dan loyalitas Fury juga bikin senyum2. Dia ternyata baik banget, nggak terasa jahat sama sekali padahal di awal aku kira dia jahat lho.

Lalu ada Kyrian dan Julian berpasangan yang muncul beberapa kali dan bikin senyum2. Sekarang Kyrian jauh lebih ceria dan lembut dan dia juga lucu banget apalagi kalo berdebat dengan Tabitha. Yah pokoknya menurutku novel ini benar benar menghibur. Lebih ringan daripada seri dark hunter , but still it catch my heart. :)

Review: Critical Eleven - Ika Natassa

Critical Eleven

My rating: 4 of 5 stars

Nah kalo yang ini selesai dalam waktu 10 jam langsung habis baca AR. Gara garanya karena udah nggak sabar dan kadung penasaran. Dan yang ini no skip ya.

Cukup seneng sih karena kali kini aku betah banget bacanya, ga bisa berhenti, dan penasaran terus setiap halamannya. Kata-katanya kak ika juga semenyenangkan biasanya, dan karakter-karakternya Alhamdulillah nggak ada yang menyebalkan. Dan aku juga ngga berekspektasi apa apa kecuali bahwa novel ini happy ending. Yah taulah happy ending versi ika nih kayak gimana. Suka ngerasa kurang dan pingin lagi.



Novel ini di awali dengan pertemuan mereka di pesawat yang cukup manis untuk pembuka. Walaupun setelah-setelahnya terkesan biasa aja sih, maksudnya pendekatan antara Ale ke Anya kayak pendekatan pada umumnya sih, lancar-lancar aja, selo2 aja, dan ngga ada pertengkaran yang berarti. Tapi kemudian konflik sesungguhnya dimunculkan ketika kedua tokoh ini sudah menikah. That's good. Menurutku ya itu lebih realistis aja sih dgn apa yang terjadi si kehidupan nyata. Toh emang nyatanya hal seperti itulah yang justru kerap kali terjadi, bahwa masalah sesungguhnya muncul ketika sudah hidup bersama. Memang, mengambil kisah sehari-hari sebagai cerita utama yang diusung dalam novel ini bikin kita lebih dekat dengan kejadian di sekitar, tapi menurutku juga jadi lebih membatasi imajinasiku. Hahaha. Kadang pelarian novel2 yang kubaca itu dengan harapan aku bisa melarikan diri dari dunia nyata. Tapi ngga masalah, toh apa yang tertuang di novel ini juga tetep bikin aku ngejogrok nggak kemana mana buat ngabisin nih novel dan meskipun ada yang terlalu dekat dengan kehidupan nyata setidaknya aku bisa berfantasi tentang kehidupan metropolitannya atau tentang tempat dan setting yang digunakan.

Ketika selesai kisah pertemuan ale dan anya barulah kita dihadapkan dengan masalah dan konflik yang besar itu. Yang menjadi konflik hingga akhir cerita. Di sepanjang novel ini mungkin kemudian kita akan disuguhkan banyak sekali momen momen romantis dan lucu, yang itu adalah merupakan masa lalu dalam kisah ini. Karena masa kininya masih terus berkutat dengan konflik utama yang dirasa tidak segera mendapat penyelesaian. Sejujurnya aku mendapati novel ini sama dengan Divortiare. Sama-sama meletakkan satu konflik besar di sebuah kehidupan pernikahan yang kemudian dicari jalan keluarnya. Bedanya kalo divortiare itu mereka memilih bercerai sehingga taulah jadi harus ada twivortiare biar novelnya bener bener ending. Sedangkan CE ini kedua tokohnya nggak sampai bercerai,sebatas pisah ranjang aja dan itupun endingnya dikit banget huhu. Musuhan mereka terjadi sekali dan baikan mereka juga terjadi sekali, di ending. Yah pokoknya kalo CE bisa jadi karena harus diselesaikan dalam satu buku juga.

Meskipun kisah cinta mereka nggak bikin aku merasa berdebar-debar dengan kisah romantisnya, tapi kepedihannya bikin aku nangis beberapa kali tanpa bisa ditahan tahan. Tangga dramatiknya tetep naik terus, syukurlah dan aku beneran nangissss mulu di bagian-bagian akhir. Dan kalo ada yang aku perhatikan dari tulisan kak Ika disini, itu adalah bahwa dia suka sekali menganalogikan sesuatu. Setiap bab diawali dengan sebuah analogi panjang lebar sebelum masuk ke adegan yang sesungguhnya atau makna yang sebenarnya ingin ditunjukkan dalam bab tersebut. Sejujurnya analogi2 itu cukup bagus karena sekaligus memberikan makna2 baru tentang hidup meskipun kadang kelamaan main analoginya.

Ah, dan aku agak gemes liat kisahnya Harris dan Keara. Lah, mereka jadian? gak dibikinin kisahnya nih kenapa keara bisa sampe jatuh beneran di pelukan Harris? errrr~

Finally, novel ini masih menyenangkan untuk dibaca dan jelas masih recommended. Karena setidaknya aku sungguh menikmati kedua karakter dalam novel ini. Ale dan Anya. I love them soo much :*

edit
well akhirnya aku memutuskan novel ini worth untuk 4 bintang. Kenapaaa? karena ternyata aku masih mikirin tentang novel ini meskipun aku sudah selesai membacanya. Mungkin karena aku begitu terkesan dengan Ale dan Anya kali ya. Bagaimana perjuangan Ale untuk selalu berada disisi Anya padahal Anya sudah sebegitu dinginnya.