Tuesday, November 18, 2014

Review: To Sir Phillip, With Love - Kepada Sir Phillip, dengan Penuh Cinta


To Sir Phillip, With Love - Kepada Sir Phillip, dengan Penuh Cinta

My rating: 5 of 5 stars



Aku suka banget sama buku ini. Astaga, aku bahkan merasa belum bisa beralih ke buku lain sebelum menyelesaikan review buku ini. Habisnya aku jadi kepikiran terus sama Eloise dan Phillip yang luar biasa penuh cinta. Phillip yang dengan kedua anaknya , yang tidak pernah bisa berlaku selayaknya seorang ayah. Ditinggal wanita yang telah dinikahi selama 8 tahun yang wanita ini seperti orang mati selama masa itu. Masa lalu Phllip yang oh-sungguh-menyakitkan dan aku sungguh senang ia akhirnya bisa keluar dari jerat rasa bersalahnya yang bertahun-tahun itu karena bertemu Eloise. Eloise yang merubah segalanya. Menguasai kehidupannya dan anak-anaknya.

Pokoknya. Novel ini sangat-sangat menarik. Dan tidak ada yang biasa disini. Julia Quinn membuat novel ini terasa luar biasa. Aku pikir julia memang memiliki kekhasan dalam membuat tokoh tokoh dimana salah satunya telah menikah dan dengan masa lalu yang kelam. Aku mendapatinya di beberapa buku yang telah kubaca. Dan ini adalah buku kedua selain miranda's diary yang baru kubaca, yang menurutku sangat cerdas dalam memberikan karakter di tokohnya konflik masa lalunya.Tokoh pria telah menikah. Bedanya... bedanya.. yang pasti sangat berbeda. Keberadaan kedua anak Phillip sangat mendukung disini. Aku sendiri tidak menemukan diriki bosan karena alurnya. Tidak sedetikpun. Aku justru merasa tidak bisa berhenti membacanya karena segala hal dari buku ini sangat seru. Yang pasti di novel ini semuanya padat. Nggak ada yang mubazir dan gak ada yang bertele tele. Semua halaman digunakan sesuai porsinya.


Mulai dari cerita bagaimana Phillip yang harus menggambarkan masa lalu yang menjadi persoalan inti kehidupan Phillip, kemudian bagaimana Eloise muncul di rumahnya secara mendadak yang membuat segalanya menjadi kacau. Belum lagi keberadaan anak anak Phillip yang tidak menyukai Eloise dan segala hal yang mereka coba untuk mengusir Eloise. Lalu kedatangan keempat kakak laki laki Eloise yang berakhir pada kesepakatan bahwa keduanya akan menikah.

Dan.. dari semua buku yang pernah kubaca tentang hubungan singkat. Yang mungkin pernah kuprotes di beberapa novel dimana aku sama sekali tidak setuju bahwa cinta bisa muncul dalam hitungan hari. Apapun itu. Yang pasti novel ini adalah pengecualian. Dan setelah kupikir-pikir, apa yang menyebabkannya menjadi pengecualian adalah karena.... karena... karena penulisnya. karena julia berhasil membentuk karakter yang begitu sempurna dimana satu dengan yang lainnya menjadi sangat sangat cocok. Karena bumbu masa lalu. Karena karakter pendukung. Karena chemistry yang diciptakan. Semuanya membuat cerita ini menjadi sangat romantis.

Aku juga harus memuji bagaimana julia tetap menyisipkan humor di buku ini tapi tetap konsisten dengan karakter karakternya. Kemudian ia tidak menyia- nyiakan setiap karakter di bukunya. semuanya luar biasa dan menarik. Bahkan berkat buku ini aku jadi penasaran semua kisah cinta keluarga bridgenton. Hal lain yang harus kupuji adalah bagaimana Julia menciptakan konflik-konflik yang terjalin satu dengan yang lain hingga tiba ke titik utama cerita. Pertengkaran, dialog, debat, bahkan narasi sekalipun tidak ada yang membosankan. Semuanya menyenangkan!

Dan menurutku jenis cerita seperti ini terasa sangat baru dan seolah aku belum pernah membaca cerita jenis ini sebelumnya. Hal tersebut membuatku bertanya tanya tentang apa dan apa yang akan terjadi berikutnya. Dan bagiku itu sangat menyenangkan. Kali ini klimaksnya bukan tentang jatuh sakit tapi... hanya pertemuan diantara keduanya dengan emosi meluap luap dan dengan kejujuran satu dengan yang lain. Itu cukup. Aku bahkan merasa ikut menangis karena bagian ini. Tidak cetar membahana pengambilan masalahnya, tapi permainan emosinya itu yang cetar membahana. aaaaaah pokoknya suka banggeeeettt.. rasanya masalah dari awal gak terus menyebabkan keduanya saling membenci hingga kabur kaburan. keduanya sama sama jujur tentang apa yang mereka rasakan dan itulah yang membuat semuanya terasa menyenangkan. Tidak ada kepura puraan. Aku puas. Rasanya dari awal buku ini mereka udah nikah hehe. Konfliknya asik. Emosinya juga menyenangkan. Pokoknya puas banget sama buku julia kali ini. Bahkan endingnya. Oh betapa aku ingin terus melihat bagaimana perkembangan keluarga ini bersama Amanda dan Oliver. Kembaran yang sangat aktif dan lucu. Menyebalkan tapi juga menyenangkan. Aku pernah merasakan bagaimana rasanya ketika kau bisa menguasai para anak anak.



Review: The Secret Diaries of Miss Miranda Cheever - Buku Harian Miss Miranda Cheever


The Secret Diaries of Miss Miranda Cheever - Buku Harian Miss Miranda Cheever

My rating: 5 of 5 stars



Nah kalo ini... kalo ini.... hsssh... buku keduanya Julia Quinn yang aku baca. And I love it. I love it so much. Meskipun aku masih berharap adanya konflik lain. Tapi cukup. Cukup untuk bikin aku masuk ke dalam buku ini dan ke setiap karakter yang ada di buku ini. Dan buku ini berhasil membuatku berlinang air mata karena... yah... karena emosi yang meluap luap disini


Lalu.... ah ya. Julia Quinn bener bener pintar membuat sisi cerita di setiap bagian , terutama dialog, menjadi sangat menyenangkan dan tidak membosankan karena humor yang diletakkan disana sini. Aku menikmati hampir semua percakapan karakter di buku ini. Semuanya. Dan aku masiiih saja dibawa tersenyum meski cerita tersebut sudah di klimaks dan sangat sangat heartbroken. Yah antara tersenyum dan menangis. Maksudku, aku sungguh menyukainya.


Aku suka banget karakter Miranda disini. Aku agak sulit membayangkan bahwa dirinya tidak cantik. Tapi memang kenyataannya kali ini Julia memberikan sosok yang tidak sempurna tapi sangat mempesona sifat dan sikapnya. How to describe it? mmm.. yang pasti Miranda ini memiliki harga diri yang sangat tinggi. Dan aku sungguh memujinya untuk hal tersebut. Sulit pasti baginya untuk tidak berusaha membandingkan dirinya dengan wanita wanita lain yang jauh lebih cantik disana. Aku suka hampir semua sikapnya. Dia pintar dan sekaligus sinis. Semua perkataannya bisa saja menyakiti orang lain dan dia mengatakan itu semua dengan wajah datar. Pembawaannya yang tenang itu sungguh memesona. Ia bahkan tidak anggun. Ketika Miranda marah aku yakin semua orang akan ketakutan. Meskipun begitu Miranda jarang menunjukkan taringnya kepada orang orang sekitar. Dan jarang yang bisa menenangkan amarahnya.

Tanggapan sinis mengenai dirinya, terutama bagian fisik, membuat Miranda terbiasa dan lebih kuat dari yang seharusnya. Ia sudah sering tidak diperhatikan dan ia terbiasa karena hal tersebut. Dan sebagai seorang wanita ia pasti masih sering sakit hati untuk kata kata yang keterlaluan tapi Miranda, lagi lagi, selalu mengatasinya dengan tenang.

Dan aku sangat, sangat mengerti kenapa Miranda jatuh cinta pada Turner. Pria tersebut telah melambungkan harapannya untuk menjadi cantik. Turner melihat apa yang memesona dari gadis tersebut yang bahkan Miranda sendiri tidak menyadarinya. Keyakinan yang diberikan Turner itu membuatnya percaya dan apalagi 'Turner' yang mengatakannya. Dan Miranda percaya. Turner orang yang jujur.

Konflik utama adalah ketika Turner menjadi seseorang yang tidak dikenal gadis itu. Semua yang dilakulan pria tersebut seharusnya bisa membuatnya membenci Turner dan ia memang membencinya. Tapi namanya cinta, terus dan terus, Miranda mendapati dirinya memaafkan pria tersebut.

Kali ini aku menikmati semua kisah tarik ulur di novel ini. Karena aku juga sangat menikmati karakter Miranda disini. Dia tidak pernah mematahkan prinsipnya dan menurutku untuk seseorang yang jatuh cinta pada seorang pria selama sepuluh tahun ia cukup kuat untuk mengendalikan emosi emosinya dan aku cukup mengerti kenapa pada akhirnya ia perlu meledakkan semuanya. Aku merasakan betapa menyesakkan perasaan itu untuknya.

Novel ini sesuai dengan seleraku. Karena heroinennya yang jatuh cinta setengah mati tapi terus berusaha mengendalikan diri di depan orang yang disukainya. Dan seperti aku menonton drama korea, beberapa halaman berikutnya membuatku semakin menyukai ceritanya. Ketika semuanya berbalik. Ketika Miranda akhirnya menyerah dan kali itu membuat Turner kelimpungan. Aaaaa pokoknya suka banget. Apalagi waktu Turner menyadari bahwa ia sangat mencintai Miranda. Well dari semua analisis sejak halaman pertama sebenarnya kita tahu pria ini mencintai Miranda. Hanya beberapa hal membuat itu semua tak terlihat.


Aku puasss bacanya. Aku bahkan menyelsaikannya dalam waktu dua hari karena hanya gak bisa berhenti baca. Aku bahkan yakin tidak akan kecewa di tengahnya sehingga aku jarang melakukan aksi skip seperti yang aku lakukan biasanya.

Julia Quinn sungguh berhasil membuatku jatuh cinta pada tulisannya selain Lisa Kleypas untuk buku history romance. Membaca dua bukunya aku hampir bisa menyimpulkan bahwa Julia selalu membuat salah seorang tokoh tidak bisa menyadari betapa ia mencintai orang 'tersebut' dan ia selalu memberikan latar belakang tragis untuk membuatnya lebih kuat. Dan ia selalu memberi ending bahwa tokoh tersebut akhirnya menyadari perasaannya. Aku sungguh tersentuh bagaimana Turner mengungkapkan rasa cintanya pada Miranda. Mungkin karena aku juga wanita dan mungkin juga karena cara Turner ingin membuat Miranda menyadari betapa ia mencintainya juga sangat menyedihkan.

Kalo novel nggak kayak drama ya yang kadang endingnya serasa kurang 10 menit. Entah kenapa kalo baca novel aku hampir selalu puas dengan endingnya. Yah namanya juga ga ada batasan waktu. hehehhe



Review: When He Was Wicked - Cinta Terpendam Sang Earl


When He Was Wicked - Cinta Terpendam Sang Earl

My rating: 3 of 5 stars



Siaaaal. udah nulis panjang-panjang dan hilang semua dalam sekejap -____-
Karena tadi unek-unekku udah hampir keluar semua, jadi sekarang aku mau nulis pendek aja ya.

Aku baca novel ini habis baca Fifty Shades. Agak anjlok aja sih soalnya aku baca novel tentang kehidupan metropolitan dan langsung disuguhkan novel dengan tahun 1800-an. Jauh banget kan. Makaannya adaptasinya agak susah karena masih suka ada bayang-bayang novel Fifty Shades yang bikin aku terbius itu. Tapi setelah beberapa halaman, akhirnya aku berhasil mengikuti cerita ini tanpa bayang bayang novel sebelumnya.

Novel ini bikin aku keingetan novelnya Clara Canceriana yang judulnya If You were Mine. Novelnya juga sama-sama tentang saudara yang mencintai kekasih saudaranya.

Bedanya, kalo IYWM itu ceritanya si adik cintanya sama 'kekasih' kakaknya. Sedangkan di WHWW ini, ceritanya si sepupu cintanya sama 'istrinya' sepupu yang udah deket sama dianya lebih deket daripada kakaknya sendiri. Dan konflik utamanya sama. Si kekasih ceweknya itu 'meninggal. Konfliknya darisitu, tapi di dua novel ini sama-sama beda mengawali konflik tersebut.


Yah.. nggak usah banyak membandingkan deh daripada nggak kelar ini tulisanku. Yang pasti, di novel ini konfliknya lebih tragis dan lebih ribet penyelesaiannya. Si heroine nya bener-bener gak bisa dan nggak menerima, dengan alasan apapun, untuk mencintai orang lain, tetapi si heronya disini juga memiliki perasaan yang sama. Mereka berdua sama-sama tertekan oleh satu hal kalau keduanya sampai jatuh cinta. Penghianatan terhadap John, suami dari Fransesca.

Jujur aja ya, aku suka sama semua yang terkemas dalam novel ini.Termasuk tulisan Julia yang cukup bisa membiusku karena humor yang dibubuhkan disetiap dialog yang ia tuliskan, setiap dialog antara Michael dan Fransesca. Jujur aja aku suka itu semua.

Tapi yang agak aku keselin dari buku ini adalah, kenapa Michael jadi tokoh yang begitu menderita. Memendam perasaan bertahun-tahun, dan si Fransesca masih nggak bisa nerima dia (atau nggak mau ngaku tapi nerima sih, dia kan gak benci michael) meskipun wanita tahu bahwa sebenarnya ia tengah jatuh cinta pada Michael. Aku sempet berharap, dari sinopsisnya yang bilang, di pertemuan pertama mereka, si Fransesca melihat Michael sebagai seorang 'pria'. Tapi ternyata dia tokoh yang sulit disadarkan. Mmm.. maksudku, dia terlalu enggan untuk mau mengakui hal tersebut, dan ketidaksadaran dia itu semakin membuatku kesal karena aku sendiri nggak tahan lihat Michael yang udah kepalang bingung dan sakit hati terus. So, meskipun pada akhirnya dia ngelihat Michael sebagai pria, ketakutan atas penghianatan yang ia lakukan terhadap John dan bayang-bayang rasa bersalah itu yang membuat novel ini nggak selesai-selesai. Konflik sampai akhirpun ituuu mulu. Dan lama-lama aku jadi agak, sedikit jengkel.

Dan yang ini sih selera aja ya. Aku sebagai cewek, mungkin lebih mudah untuk merasakan rasa sakit hati tokoh cewek daripada cowoknya. Jadi, karena di novel ini si michael adalah karakter yang paling tragis, tetep aja aku suka nggak kena gitu sentuhan dari sifat Fransesca. Kadang aku malah jengkel. Jatuhnya mereka berdua jadi agak, sedikit, nggak mulus gitu hubungannya. Maksudnya dari perasaan seorang sahabat - ke seorang kekasih antara fransesca ke michael.

Nah ini yang bikin aku bandingin sama novelnya If You were Mine, karena di novelnya clara canceriana tokoh ceweknya lebih kuat, dan rasa sakit hati yang dirasakan tokoh ceweknya ini juga... mungkin karena dia cewek, jadi kena mak jleb gitu di akunya. Ini sih cuma selera ya.


Aku suka endingnya, cukup manis. Dan surat dari ibunya John ke Michael dan Fransesca di akhir juga cukup menyentuh dengan kata-katanya yang berkata "terimakasih sudah mengijinkan anakku mencintainya lebih dulu"

Aku suka. Aku yakin aku akan menyukai tulisan Julia Quinn yang lain. Ini novelnya Julia yang pertama aku baca, dan aku cukup menikmatinya. Untuk ide cerita sih bukan urusanku, tapi gaya bahasa yang Julia Quinn tulis disini sudah cukup untuk membuatku akan mengikuti novelnya yang lain.





Review: Love in the Afternoon


Love in the Afternoon
Love in the Afternoon by Lisa Kleypas

My rating: 5 of 5 stars



bisa dibilang bahwa aku selalu jatuh cinta oleh karakter karakter unik yang aku temui ketika membaca novel dengan genre ini.

Dan harus aku akui bahwa karakter semacam ini akan menimbulkan banyaknya konflik yang unik pula. Aku jatuh cinta pada karakter beatrix sejak di seri pertamanya. Gadis yang menyukai binatang. Sama seperti serial wallflower, Daisy yang suka membaca menjadi karakter paling unik di antara yang lainnya, dan aku jatuh cinta oleh karakter ini.

Hal lain yang membuatku memberikan bintang penuh untuk kisah beatrix adalah bahwa aku harus sering menahan rasa sedih yang Beatrix dapatkan ketika hanya dapat melihat pujaannya yang di dalam mencintainya tapi dari luar sangat jauh baginya. Aku menaruh simpati yang begitu besar untuk rasa sakit yang beatrix alami dan rasanya ingin memberikan ia selamat ketika akhirnya christoper menaruh perhatian penuh padanya.


Mereka berkorespondi dan jatuh cinta. Tetapi karena selama ini beatrix menjadi orang lain, jadilah bukan ia yang dicari oleh christoper ketika ia kembali dari perang. Rasa rindu dan cinta yang tidak bisa diungkapkan beatrix ketika pada akhirnya mereka bertemu kembali itulah yang membuat hatiku ikut merasakan rasa sakit yang sama.

Secara keseluruhan cerita aku bisa dibilang suka oleh semua bagian di novel ini. Karena keunikan tokoh terhadap binatang otomatis memunculkan konflik yang bervariasi berkaitan dengan masalah utama. Walaupun agak disayangkan karena penyakit mencuri beatrix tidak dibahas lagi lebih jauh.

Aku suka dengan sikap sabar beatrix yang tidak mudah tersinggung dan tidak mudah menyerah. Rasa cintanya terhadap christopher yang begitu besat, perasaan bertepuk sebelah tangan yang menyakitkan menjadi bumbu yang menarik yang selalu mengalirkan cerita ke konflik yang selalu lebih menarik.

Sungguh, kecuali adegan xxx di buku ini, semuanya terasa pas porsinya. Setiap konflik dikemas secara rapih dan menarik. Aku juga jatuh cinta pada christopher yang dengan caranya sendiri jatuh cinta - menduga orang yang salah, tetapi perasaannya tetap hanya tersemat pada beatrix seorang. Selain itu aku suka dengan perubahan karakter christopher yang awalnya tidak tertarik dengan beatrix akhirnya malah memuja wanita ini. Membuat beatrix selalu meyakinkan dirinya sendiri bahwa perhatian christopher padanya bukanlah sekedar mimpi. Dan ketika christopher akhirnya berkata mencintai beatrix bukannya pru, harus kuakui aku bisa merasakan seberapa besar keinginan beatrix untuk pingsan saat itu juga.

Tidak sering aku menemui kisah yang tokoh utamanya tergila gila duluan sedangkan heronya malah awalnya gak tertarik, tapi aku selalu tertarik oleh kisah semacam itu. Mereka berhasil menghasilkan konflik yang cukup mengesankan.

Dan aku bersyukur bahwa aku menemukan buku ini di diskonan gramedia, dan dua dari tiga buku yang kubeli, kudapati keduanya bukanlah salah pilih dan aku merasa beruntung memilikinya dan it's good walaupun hrganya murah sih hahaha.



View all my reviews

Sunday, October 5, 2014

Review: Dreaming of You - Memimpikanmu


Dreaming of You - Memimpikanmu

My rating: 5 of 5 stars



Nah kalo yang ini baru cocok aku kasih bintang 5. Hahahha.
Kemarin sisa dua bukunya Lisa Kleypas dan syukurlah aku baca ini sebagai urutan terakhir. Dan novel ini berhasil membuatku penasaran, karena di waktu-waktuku yang sedang malas membaca novel ini, aku berhasil menyelesaikannya selama dua hari.

Ini buku kedua dari seri Gamblers, tapi aku langsung tahu seperti apa karakter Derek Craven di buku pertamanya. Pasti penuh skandal. Nah, anehnya, aku sering lebih terguncang emosinya kalau peran utama cowoknya itu ternyata dari kalangan bawah yang merangkak ke tingkat sosial yang lebih tinggi. Itu lebih menyayat-nyayat daripada sekedar kisah seorang Duke atau Viscount.

Sebenarnya di awal novel ini, aku masih dibuat bertanya-tanya tentang karakter Sara, meskipun aku lebih mudah memahami karakter Derek, si bajingan bejat yang menyembunyikan kebaikan hatinya. Derek karakter yang berbahaya yang tidak segan-segan memberikan kesan mengerikan hanya untuk menyingkirkan gadis lugu seperti Sara untuk menyingkir dari lingkungannya.


Sara ini... awalnya aku agak bingung, dia ini karakter yang plin plan atau berkemauan keras? Secara dia kan udah punya tunangan gitu ya.. tapi trus perlahan-lahan, aku digiring buat mengerti bahwa Sara ini bukan sekadar sosok yang lugu, ia karakter yang ingin memiliki petualangan dalam hidupnya seperti halnya sosok yang ia gambarkan di novelnya. Pertemuannya dengan Derek merupakan pertemuan yang sangat menantang dan menggembparkan. Jelas saja banyaknya cerita dan rumor tentang masa lalu Derek yang mengerikan itulah yang membuat bayangan Derek mengikuti Sara kemana-mana. Sara ingin peduli pada anak yang tidak pernah mengerti kasih sayang sejak kecil, dan itulah yang membuatku ingin terus dan terus membalik halaman di buku ini.


Baguuuusss~ gimana ya jabarinnya.
Si Derek ini bener-bener bikin jatuh cinta banget. Saking dia nggak ngerti apa-apa soal perasaan, si Derek jadi sering kelihatan kayak anak kecil. Rasanya pingin banget dipeluk trus diajarin banyak hal gitu deh. Derek ini nggak pernah menelan pendidikan, dia tulisannya aja kayak ceker ayam, tapi dia punya kecerdasan luar biasa dan hal-hal lain yang patut membuatnya layak dicintai. Sayangnya, kehidupan Derek yang luar biasa suram itu membuatnya merasa kotor dan tidak pernah tahu apa artinya kerinduan terhadap kasih sayang.

Kehadiran Sara sungguh seperti sesosok malaikat. Ia membuat Derek kewalahannya dengan karakternya yang begitu hidup, dan membuat Derek memiliki banyak perasaan yang selama ini tidak pernah dikenalnya. Ia sempat menjauhkan diri dari Sara, tapi toh karena kedua-duanya tidak bisa berpisah satu sama lain, akhirnya mereka bertemu lagi hehe.

Konflik di novel ini cukup komplek, tapi masih ringan di baca. Kita ketemu banyak sekali turning point dimana ada saatnya setiap karakter mengalami perubahan-perubahan secara berulang. Dan itu membuatku merasa novel ini memiliki kisah yang begitu panjang.

Bagian yang kusukai adalah masa-masa ketika mereka berpisah lama dan akhirnya bertemu kembali. Entah kenapa aku sering terpukau dengan alur macam ini. Dan untuk kesekian kalinya, aku harus mengatakan aku sangat menyukai cerita yang jujur dan tidak ada kesalahpahaman melainkan menggunakan cara lain untuk mengembangkan konflik. Nah, masa lalu Derek inilah konflik paling ruwet di sepanjang cerita sehingga aku terus dibuat emosional sejak awal sampai akhir. Aku menemukan banyak hal yang pas, novel ini tidak membosankan dan memiliki porsi masing-masing yang sesuai. Mulai dari permulaan, menuju ke konflik, hingga klimaks yang membuatku ingin ikut menangis, lalu penurunan cerita yang masih saja terasa manis. Wah, pokoknya, sebagai penutup bacaanku sebelum vakum, aku bersyukur bisa ngasih bintang lima lagi hehe.



Sunday, August 31, 2014

Review: Fifty Shades Freed


Fifty Shades Freed

My rating: 5 of 5 stars



wooowww. i finish them! I can't believe I reread and it's finish! that means these book is adorable good and I love them so much.

daaaan.... kalo dipikir pikir baru ini novel yang aku baca ulang dari awal sampai akhir dan aku masih nggak nyangka ternyata aku lupa sama alurnya, jadi kerasa kayak baca baru gitu. Trus yang nggak kalah penting, di buku ini tuh diceritain banget gitu gimana konflik mereka dan tarik ulur mereka di pernikahan mereka ini. Macem-macem deh. komprominya mereka itulah konflik utama. Dari yang si Ana telanjang dada di pantai, permintaan prenup dari ayahnya christian, penjahat yang ngejar-ngejar christian, trus waktu si christian ke portland dan ngasih perintah ke ana tapi ana malah nggak dengerin dan pergi minum sama kate yang ternyata di apatermennya ada jack yang mau nyulik ana. Disitu ada pertengkaran hebat yang kemudian bikin christian nggak sadar dan melakukan balas dendam ke ana sampe ana harus bilang safe word. Itu paniknya christian sampe banget.

Review: It's In His Kiss


It's In His Kiss

My rating: 4 of 5 stars



entah kenapa aku bisa menyelesaikan ini dalam waktu satu hari. Mungkin karena aku terlalu pingin mencari bagian romantisnya.

seperti biasa aku menyukainya. Lucu dan menghibur. Lebih menarik karena keluarga Bridgerton itu sendiri. Apalagi pertengkaran Hyacinth sama kakak kakaknya. Mereka kan sifatnya unik unik, jadi lucu gitu kalo di gabungin. Dan aku gabisa lupa bagaimana Gregory di perlakukan oleh kakaknya dan bagaimana ia memperlakukan Hyacinth sebagai adik satu satunya. Jujur aja aku pingin lihat kisah duo ini lebih banyak. Aku juga seneng lihat kekesalah keluarga ini terhadap sifat Hyacinth. Seolah olah ia selalu menjadi bayi di keluarganya karena faktor anak terakhir. Begitu pula Gregory. Sayang aku malah nggak ngikutin karakter Hyacinth di kisahnya Fransesca. Pokoknya keluarga ini seru banget deh dan aku suka memperhatikan karakter mereka di setiap novel dan keterikatan mereka dengan setiap karakter yang berbeda. Yang pasti setiap karakter keluarga ini bikin aku seolah olah ingin membaca karakter yang lain. Entahlah, julia quinn harus diakui hebat membuat tujuh buku dengan karakter berbeda sekaligus sangat mendukung.


Disini juga ada anthony yang menyatakan kelegaannya karena adik perempuannya lepas dari tanggung jawabnya dan kini ia bebas. Aku hampir ketawa waktu lihat si Anthony ini mungkin nggak pingin jadi ayah keluarga ini dan hidup bebas. Tapi kayak otomatis gitu setelah ayahnya meninggal dia yang memegang gelar Lord Bridgerton di keluarga ini dan hebatnya ia tetap membuat keluarga ini jadi keluarga terkenal di London.

Entah kenapa setiap melihat campur tangan anggota keluarga Bridgenton di satu buku, rasanya ingin melihatnya lagi di buku lain dan itu membuatku jadi membandingkan. Hebatnya si Julia ini sungguh konsisten dengan karakter karakternya sehingga sifat mereka tidak berubah di buku lainnya.

misalnya waktu aku lihat Gregory sama Anthony di buku ini, aku jadi gak bisa lepas sama sikap mereka di kisahnya Eloise dan memperlihatkan betapa ia kesal dengan Eloise. Adik perempuan kedua yang hebat yang karakternya bikin aku terpukau dan dewasa. Lucunya di hadapan kakaknya ia tetaplah seorang adik. Dan bagaimana cara kakaknya memperlakukan eloise membuatku sangat penasaran dengan masa kecil mereka dulu. Pasti berisik dan penuh pertengkaran. kemudian aku akan belajar tentang karakter heroinnya. Misal karakter Eloise dan Hyacinth adalah perpaduan serasi yang akan membuat saudaranya berlari ketakutan.

Pokoknya seru deh.
Dan aku kasih bintang empat karena dengan ide yang menarik ini sayang aku nggak se deg-degan beberapa buku yang aku kasih bintang 5. Kalo serunya sih sempurna, tapi cuma yang bikin berdebar itu agak jarang di temuin.

Tapi tetap saja sero bridgenton ini tetap tidak bisa di lewatkan.



Review: Dansa Tengah Malam (Dancing at Midnight) - Blydon Series Book 2


Dansa Tengah Malam (Dancing at Midnight) - Blydon Series Book 2

My rating: 4 of 5 stars



seperti biasa, julia quinn tidak membuatku berhenti tersenyum membaca novelnya, termasuk yang ini. Dan agak beda dari novel sebelumnya yang kubaca, disini si ceweknya lumayan agresif untuk jadi pihak yang berusaha keras mendapatkan tokoh cowoknya. Hmm.. beberapa hal memang mudah di tebak sih dan sebenarnya kalau novel ini disajikan tanpa peran masa lalu miliki John, bisa saja novel ini akan terkesan datar. Ketakutan John akan masa lalunya cukup pas di taruh untuk membuat emosi di novel ini menjadi lebih hidup.

Salah satu yang kusukai dari novel ini adalah karena kedua karakter disini berusaha jujur dan mereka sudah mengungkapkan ketertarikan mereka sejak awal dan wow, disini aku benar benar merasa tengah menyaksikan orang berpacaran. Jujur agak canggung aku bacanya juga.



tidak ada konflik yang terlalu berarti. meskipun semuanya merujuk pada satu hal, tapi diantara keduanya selalu berakhir dengan cepat. Tapi tetap saja tidak mengurangi beberapa hal yang berhasil membuatku ingin meneteskan air mata karena keduanya yang begitu jujur.

Aku cukup terhibur dengan beberapa hal yang berkaitan dengan Emma, Alex, dan Dunford. Itu membuatku sangat dan sangat penasaran dengan cerita mereka bertiga. Andai aku mendapatkan buku seri pertamanya.

Well, aku berhasil tertawa ketika membaca beberapa adegan pengulangan di saat mereka 'diganggu' dan masih tidak berhenti tertawa ketika mereka menikah. Astagaaa... bagaimana bisa Belle bahkan memanjat pohon hanya untuk bisa bertemu dengan John?? sungguh... sungguh berbeda si Bella ini.


akhirnya yang bikin aku taruh 4 bintang bukannya 5 adalah karena well, semuanya sudah cukup baik, hanya saja aku agak terganggu oleh banyaknya gangguan dr tokoh lain dan mereka berdua yang jarang tertarik untuk benar-benar membuat obrolan yang menarik. Habis biasanya mereka malah melakukan hal lain kalo lagi berdua. Dan memang terlali cheesy di beberapa bagian. Aku sih ngerasanya mungkin2 aja, tapi untuk ukuran di taruh di sebuah novel, rasanya jadi agak terlalu berlebihan. Yah. apapun itu. overall novel ini jelas masih layak dibaca.



Review: Just Like Heaven - Seindah Mimpi


Just Like Heaven - Seindah Mimpi

My rating: 3 of 5 stars



aaaaaj akhirnya aku memutuskan taruh 3 bintang untuk buku ini. Rasanya aku nggak terlalu yang gimana sama yang ini. Walaupun yaaah masih dalam kategori suka berhubunh julia udah jd penulis favoritku. Hanya saja banyak ekspektasiku yang nggak kesampean disini. Hubungan antara marcus dan honoria terlalu datar meskipun harus kuakui tetap lucu. Konfliknya entah kenapa kurang kuat, nggak yang bikin nangis ataupun ikut sedih . Perkembangan hubungannya juga kurang padet malah terkesan bertele tele. Banyak bagian yang rasanya ingin di skip aja. Setelag setengah buku sebenarnya aku berniat untuk berhenti membaca tp rasanya sayang banget kurang dikit gitu jd aku lanjutin deh.

Aku agak berharap sikap marcus dan honoria bisa lebih di eksplor kayak waktu mereka masih kecil soalnya kesannya lucu dan manis. Waktu udah dewasa gitu kita jd cuma dibayangin masa kecil tp kesan sifatnya di marcus daniel sm honoria jd hilang. Selain itu yang bikin terasa lama hubungan mereka itu cuma pengingat kalau mereka udah kenal dari kecil tp di buku itu malah terasa terlalu cepat. Hanya saja dari kesemuanya aku cukup terharu sama bagian si marcus melamat honoria yang cukup berani.



Review: Kecupan Tengah Malam


Kecupan Tengah Malam

My rating: 4 of 5 stars



ooooh well.
I give it 4 starts for my first time reading eloisa james book.

aku lumayan terhanyut dengan ceritanya yang basic nya adalah cerita dongeng dan eloisa bahkan meniatkannya demikian.

cerita seorang pangeran yang jatuh cinta oleh seorang pelayan.

ah. dasarnya kayak cinderella banget.
dan ini adalah pertama kali aku baca novel historical romance yang tokoh utamanya adalah seorang pangeran yang tinggal di sebuah kastil.

aha. kalian pasti sudah membayangkan cerita ala ala negeri dongeng dengan keanggunan dan segala macam.

tapi karakter tokoh ini semua di luar keseharusan.

pangeran yang sosoknya seperti ksatria, tampan, berkuasa,anggun, hebat, adalah seorang pria nakal yang baik. ah. sebenarnya karena sosok kate di sekitarnya


dan kate. katakanlah dia memang anak tiri. di kisah bawang merah bawang putih atau cinderella, atau kisah dongeng lainnya, seorang anak tiri yang orangtuanya sudah tiada adalah tipe tertindas bukan? tapi kate tidak demikian. ooooh aku suka banget sama kate. Dia terpaksa jd pelayan dan mengurus estatnga hanya karena dia terlalu memikirkan para pelayan yang akan dipecat ibu tirinya tiap kali dia membantah. Dan kate adalah sosok wanita yang tidak bisa ditaklukkan. Kate memang baik tapi apa yang dilakukan ibu tirinya pada kate hanya membuat kate semakin membenci mariana dan semakin bengar, berani, dan pembangkang. tapi aku suka! seseorang yang seharusnya adalah lady memang layak untuk setidaknya mempertahankan harga dirinya dan temperamen kate yang buruk memang membuatnya kelimpungan. Tp intimidasi ibu tirinya juga memang luar biasa. Naaah nantinya ia akan memiliki ibu tiri dalam bentuk perwaliannya yang akhirnya menemukannya dan sangat mencintainya.

Lalu adik tirinya, dia sama sekali tidak jahat. mereka justru saling menyayangi


dan itu. cerita ini menurutku lebih masuk akal daripada kisah dongeng yang terlalu muluk untuk membuat tokohnya menderita dan nantinya akan bahagia.

Disini kate memang menderita. Tapi tidak ada tangisan. Kate adalah gadis yang luar biasa tegar. Dan semua keputusannya yang di ambil kate di cerita ini sunggug natural, seolah itulah yang lebih layak terjadi di kehidupan nyata. Lebih real meskipun basicnya eloisa ambil cerita dongeng.

Bahkan kisah antara kate dan gabriel sang pangeran. ya ampuuuun. mereka itu serasi. Ya serasi. Gabriel tidak menemukan kate sebagai wanita yang cantik tapi dengan cara yang tidak disangka sangka dia jatuh cinta dengan gadis itu. Kate juga memuja gabriel dan meskipun awalnya dia ingin gabriel menyadari bahwa tidak semua wanita harus tunduk pada pesonanya, tapi kejujuran kate itu cukup memukau. Caranya mencintai gabriel tulus dan jujur. Dia akan mengatakan suka dengan sikap laki laki itu memang membuatnya harus memujinya.

Kate bahkan tahu bahwa gabriel mencintainya dan tahu gabriel adalah seorang pangeran yang tidak bisa menikahi wanita biasa seperti kate. Tapi sikap toleransi kate itu memang hebat karena dia bahkan memutuskan untuk tetap mencintai gabriel meskipun tidak bisa memiliki laki laki itu. Tapi sikap Kate yang terlalu mengerti itulah yang membuat gabriel kalap. Dan kalian harus melanjutkannya sendiri untuk tahu bagaimana kelanjutan kisah mereka.

Yang pasti, aku tahu bahwa aku menyukai cerita yang disuguhkan eloisa disini.



Review: Semalam Bersama Sang Pangeran - One Night With a Prince


Semalam Bersama Sang Pangeran - One Night With a Prince

My rating: 4 of 5 stars



3.5 bintang ke arah yang bagus, dikarenakaaaan...

menurutku awal-awal baca ini datar banget. Walaupun udah dibumbui konflik disana-sini, tapi entah kenapa datar aja nggak dapet emosi yang gimana gitu.

Karakter Gavin ini sebenernya aku suka bannget. Pangeran Dosa yang nggak sadar kalo dia punya jiwa. Heroinnya juga ga kalah memukau. Christabel mudah luluh sama kebaikan orang, kesadarannya terhadap keberadaan jiwa dalam diri Gavin juga memberikan perkembangan ke arah yang baik. Tapi tapi tapiii

Aku agak gak puas.
Sampai hampir pertengahan buku, sumpah datar banget. Pertemuan Christabel sama Gavin juga gak bikin berdebar-debar. Masih berputar di bagian Gavin hanya menginginkan Christabel secara fisik dan Christabel yg gak terima terus mundur. Tapi perkembangannya lambat. Sedikit-sedikit emang dibahas kebaikan Gavin, tapi yaudah gak lama-lama, pembahasan balik lagi ke yang agak gak terlalu berkembang.


Nah baru deh waktu cerita mulai masuk ke betapa tegangnya Gavin bertemu Anna, aaaaaaa. Untung ya! untung aja ada bagian itu soalnya disitu, Christabel yang selama ini seolah cuek akhirnya ngerasa super cemburu, termasuk Gavin yang gak suka lihat Stokely ada disekitar Christabel. Yaaa aku suka ada konflik Anna ini. Aku selalu suka kalo si heroine kita harus ngerasain patah hati tapi nanti berbalik jadi hero nya yang ngejar-ngejar.

Hanya saja masalah Anna ini gak terlalu banyak jadi emosinya juga gak klimaks. Yaudah gitu aja. Christabel tipe yang kuat dan aku suka cara dia memperlakukan Anna pada akhirnya, aku suka cara dia mendorong Gavin agak mau jujur tentang perasaannya. Sukaaaa banget. Bahkan aku nangis dua kali.


Cerita masa lalu kedua tokoh kita cukup tragis. Terutama Gavin. Rasanya pingin banget meluk dia. Dan itu kurang!!! Meskipun cukup terenyuh di akhir2 bagaimana cara Christabel memperlakukan Gavin, tapi tetep aja kurang.

Jadi gini lho.
Cerita ke arah petualangan konflik utamanya tu terlalu lambat dan lama. Pas beneran masuk konflik utamanya beserta konflik-konflik pendukung yang cukup kuat diceritakan tapi malah gak dikembangin bener-bener, porsinya dikut bangett. Chemistrynya terbangun tapi nggak dikembangin sampe yang bikin kita jungkir balik. Dan penyelesainnya itu dikit banget porsinya. Kurang deh pokoknya.

Yah whatever is that, buku ini masih enak dibaca karena karakternya disini memesona daaaan.... kisah sedihnya bener-bener berhasil bikin aku nangis. And it is good.



Review: One Dance with a Duke - Romansa Waltz Tengah Malam


One Dance with a Duke - Romansa Waltz Tengah Malam

My rating: 4 of 5 stars



Buku pertama Tessa Dare yang aku baca dan bagus.
Tapi sedih aku masih belum bisa ngasih bintang 5 ke novel yang aku baca belakangan ini.

Disini aku suka gemes sama Amelia yang lamaaa banget sadar kalo Spancer itu lebih penting dari apapun di hidupnya. Aku nggak sebel sama Jack, tapi Amelia yang kadang bikin sebel.

Dilain situasi, Amelia bisa bikin aku suka sama karakternya, tapi di lain situasi aku juga sebel sama Amelia.

Kalo Spancer yang katanya lebih mentingin kuda, aku tetap menganggapnya mempesona. Untuk orang sekaku Spancer bisa jadi begitu romantis di depan Amelia, aku sih bisa ngartiin dia sebenarnya mentingin Amelia daripada apapun, dan lagi-lagi Amelia terlalu lama untuk menyadarinya.

Ada banyak adegan favoritku disini, banyak percakapan lucu.
Tapi banyak juga halaman yang habis untuk adegan-adegan yang pinginnya sih dipake buat mengangkat emosi,



Monday, August 25, 2014

Review: Splendid (Cinta Luar Biasa)


Splendid (Cinta Luar Biasa

My rating: 4 of 5 stars



yang pasti bagus. bersyukur banget bisa nemu buku ini.
review nyusul yaa

edit:

ini buku pertamanya julia quinn ya?
dan bener banget... aku nemuin kata-kata yang nggak dia pake di novel-novel barunya hahaha.

Nah, buat aku nih ya. Untuk ukuran novel pertama sih, ba-gu-ussss.. bagus, beneran. Dan ringan, tapi gak menye-menye. Lagi, serial ini, Blydon Trilogy, adalah serial yang berhasil aku peroleh semua bukunya. Baru ini, dan itu bersyukur banget karena kebetulan rental yang baru aku temuin ini ternyata menyimpan dua sisa buku yang belum aku baca. Sayangnya, waktu aku selesai baca ini, aku pingin baca novel yang Dancing at Night lagi soalnya kan itu buku pertama yang aku baca, jadi muter-muter gitu dah. Rasanya pingin liat emma dan alex yang masih hangat-hangatnya disana. wkwkwk. *duh mah nglantur*

Well, disini nggak ada salah paham. Disini tokoh utamanya punya karakter yang luar biasa jujur. Mereka merasa 'it's the best to say everything you think' dan itu nggak mengurangi keindahan dari cerita ini sendiri.

Teruuus, aku suka awal emma dan alex ketemu. Itu lucu, apalagi trus alex yang penasaran nemuin emma secantik putri di lantai dansa. Aku suka karakter emma yang selalu menimbulkan masalah. Hahaha. Si emma ini, jujur aja, menurutku dia gadis yang sangat berani, dan keberaniannya dan rasa tanggung jawabnya yang besar itu yang bikin alex tergila-gila.





Alex ini sosok yang nggak mau menikah karena masalalunya. Menurutku sih masalalu alex simple, nggak berat-berat amat. Tapii... ternyata novel ini membaca pikiranku hahaha. Soalnya awalnya aku sempet penasaran kan kalo masa lalunya simple gitu trus kira-kira mau dibawa kemana? Dan jawabannya... hhhh.... aku nangis deh waktu masalalu alex ini berhasil disangkut pautkan sama Emma yang pada saat itu melamar duluan karena 'memang' masalah uang, tetapi pada kenyataannya dia cuma mau cari alasan biar bisa cepet-cepet maksa alex ke pernikahan. Si alex nih, bener-bener-bener-bener-bener. Pokoknya bener-bener sadis banget waktu ngusir emma dari rumahnya. Kayaknya aku aja bisa bayangin ekspresinya dia deh. Jahatnyaaaa.. Aku setuju banget deh si emma akhirnya marah banget sama alex yang nggak mau denger.


Menurutku klimaksnya disitu!
Iya disitu. Soalnya satu. Bagian itu bikin aku nangis. Kedua, antiklimaksnya juga bikin aku nangis. Kata-katanya, penyesalan alex, perlakuan, kekhawatiran alex, pikiran emma yang saat itu marah tetapi hatinya meleleh juga, pokoknya I love them sooo much.

Malah, bagian yang bener-bener klimaks menurutku cuma jadi tambahan konflik aja menuju ending. Yaah. lebih tepatnya, endingnya gitu aja sih. Walaupun aku tetep suka sama konflik di akhir itu, haha, suka banget malah. Tegang, tapi berakhir dengan tetap bahagia, dan berdebar-debar.

Sebenernya aku bingung kenapa aku kasih bintang empat ya.. hmm..

mungkin karena nggak berkelanjutan aja sih tegang-romantis-tegangnya. Di beberapa bagian bisa sediiih banget, dan emang porsinya cukup banyak, tapi ada di beberapa bagian yang mungkin agak klise, misalnya di bagian pesta dansa-pesta dansa yang menurutku sih nggak terlalu istimewa, dan yaah.. walaupun nggak menghentikanku untuk tetap membaca, maybe, that's the reason I give 4 stars actually.


Still, it's really worth to read :D happy reading guys





Wednesday, August 20, 2014

Review: What Happens in London - Yang Terjadi di London


What Happens in London - Yang Terjadi di London

My rating: 3 of 5 stars



Setelah sempat masuk list pending karena nggak bisa ngelanjutin, akhirnya aku nyewa buku ini dan memutuskan untuk menyelesaikannya sampai akhir.

Aku harus balik lagi mengutip kata-kataku yang sering kulontarkan, bahwa seburuk-buruknya cerita yang dibaca, tergantung dengan bagaimana cara cerita tersebut diakhiri. Dan itu benar, karena novel ini membuktikannya. Hahaha

Jujur aja ya, novel ini sampai masuk ke daftar list pending karena aku bacanya lama banget sampai lewat masa tenggang pengembalian. Itu bukan karena aku sibuk kuliah, tapi semata-mata karena aku bosan dan sulit meneruskannya dengan menghabiskan waktu-waktuku. Untuk membaca buku, jujur aku nggak keberatan waktuku tersita, tapi jelas karena buku ini mmebuatku tidak bisa berhenti membaca. Sedangkan ini, aku mudah sekali ingin mengabaikannya.

Hanya saja, karena aku merasa bahwa bukunya Julia Quinn ini wajib gitu ya dilahap sampai habis, jadi aku memutuskan untuk tetap akan dan harus membacanya hingga selesai.


Novel ini dataaaar banget. Aku nggak ngerasain emosi apapun bahkan sampai cerita ini mencapai klimaks. Gitu aja! Aku nggak ngerasain emosi apa-apa, bahkan ketika Olivia menangis? Aku aja nggak ngerti kenapa Olivia menangis yang bahkan gagal membuatku tersentuh sedikitpun. Masa lalu Harry datar, adiknya punya potensi bagus diceritakan, tapi diabaikan. Tidak ada konflik batin yang pekat diantara dua tokoh disini sehingga tidak ada yang terlalu emosi untuk diselesaikan. Dan aku cuma melihat kembaran Olivia sekali! Padahal aku pingin banget lihat dia disini bertengkar sama Olivia. Pokoknya banyak banget yang kurang. Kegiatan di novel ini hanya seputar jendela-pangeran-dan Miss Butter apalah itu. Novel ini ringan banget deh, hampir kayak novel teenlit yang aku baca saking ringannya.

Aku ingin sekali memberikan novel ini 2 bintang, sungguh. Kalau bukan karena novel ini diakhiri dengan cukup baik yaitu ketika Harry melamar Olivia dengan cara yang unik. Dan yang kedua, aku juga akhirnya memutuskan menaruh 3 bintang karena aku cukup tertarik oleh adegan ketika sebastian berhasil mempersatukan pangeran-edward-harry di ruang duduk olivia. Yah itu aja sih, lainnya gitu-gitu aja. Malah banyak yang aku skip saking pingin cepet selsai.



Saturday, August 16, 2014

Review: Kemilau Cinta - Brighter Than the Sun


Kemilau Cinta - Brighter Than the Sun

My rating: 5 of 5 stars



ada alasan kenapa aku kasih 5 bintang untuk buku ini hahaha
kalo punya opini pribadi kayak gini sih, suka nggak nyangka gitu ya kalo aku bisa kasih 5 bintang untuk ini sedangkan temenku kasih cuma dua-tigaan hahaha.

Satu hal yang aku suka banget sama novel ini adalah,
Julia Quinn menyadari bahwa tema pernikahan yang pura-pura merupakan tema yang sudah sering muncul di novel-novel romance, dan aku suka prinsipnya dia kalo dia nggak setuju ada pernikahan yang didasari selain cinta. Nah, itu tuh yang bikin dia nggak aneh-aneh sama novel ini. Konfliknya nggak yang pake orang ketiga kayak novel-novel pernikahan kontrak pada umumnya. Karena di novel ini juga ceritanya nggak kayak yang dibatesin cuma berapa bulan gitu. Kelihatannya Julia Quinn mencari alasan untuk bisa menjadikan pernikahan pura-pura ini menjadi kisah selamanya tanpa tenggang waktu, yaitu melalui warisannya. Sehingga kedua tokoh berusaha sebisa mungkin untuk membuat pernikahan ini bisa bertahan selamanya tanpa adanya niat pembatalan ceritanya.

Hal itu juga didukung oleh kedua karakter utamanya yang saling klop satu sama lain.
Suka heran juga sih, mana yang lebih cocok. Punya banyak kesamaan, atau nggak punya kesamaan sama sekali.

Nah, disini, tokoh utama kita adalah dua orang yang memiliki kemiripan satu sama lain. Ellie dan Charles memang menikah atas dasar itu awalnya, kemiripan sifat satu sama lain. Nada sinis yang sering mereka lontarkan satu sama lain, kata-kata yang tajam, tapi memiliki sisi lembut.

Yaa sebenarnya karena aku selalu suka sama humornya JQ ya, jadinya aku suka banget sama setiap percakapan yang terjadi di buku ini. Apalagi itu bukan sekedar percakapan tapi perdebatan, dan itu juga yang bikin aku selesai dalam waktu satu hari saja membaca novel ini.

Lagian dulu aku pernah nggak sengaja dapet novel ini tapi kok nggak aku baca gitu ya. Entahlah. Awalnya waktu liat sinopsisnya aku agak pesimis sama ceritanya. Habis kan di sinopsisnya diceritakan kalo setelah menikah ternyata Charles belum siap. Dan aku pikir ceritanya bisa berkembang buruk karena pasti isinya pertengkaran. Eeeeh ternyata, aku nggak tau aja deh sama pola pikirnya JQ yang nggak mungkinlah mereka bertengkar tanpa muncul rasa sayang di antara keduanya. Dan ternyata, aku juga nggak sadar kalo bacaan jenis kayak gini tuh termasuk yang kesukaanku. Apalagi waktu Ellie harus disalahkan atas semua hal yang tidak diperbuatnya, ya ampun, rasanya sedih banget liat dia tinggal di rumah dimana orang-orang memandangnya rendah, termasuk suaminya sendiri. Tapi kejadian yang akhirnya bikin Ellie harus kesakitan itu juga so sweet banget. Akhirnya mereka berdua tahu bahwa mereka saling menyayangi satu sama lain.

Meskipun di beberapa bagian emang siiih, agak mudah di tebak, tapi overall, lagian karena aku bisa selesai dalam satu hari, jadi aku anggap impas. I love it.



Wednesday, July 9, 2014

Review: The Bridgertons: Happily Ever After


The Bridgertons: Happily Ever After

My rating: 5 of 5 stars



Total 5 bintang.
Novel ini bener-bener novel Roman. Dan lengkap. Sempurna.
Di setiap buku diceritakan tentang bagaimana setiap karakter menemukan kebahagiaan sejatinya.
Kemudian bagaimana mereka ketika memiliki anak.
Kemudian bagaimana mereka mulai menua dan tetap bahagia.
Sampai detik ini semua bukunya aku baca yang terjemahan bahasa Indonesia ya, dan jujur aja aku cukup bersyukur karena selalu mendapatkannya. Hehehe. Kurang dua buku sih. Yang kisahnya Gregory sama Daphne belum dapet nih. Aaaah pingin baca. Tapi males baca yang terjemahan -___-
Yah. Pokoknya. Pokoknya. Keluarga ini nggak bisa disangkal. Unik luar biasa. Bahkan setelah setiap anggotanya memiliki anak, anak-anak mereka bikin tambah rame banget keluarga ini. Rasanya pasti sangat menyenangkan memiliki saudara 30an lebih, dan mereka semua dekat. Atau kalaupun nggak dekat, ada dari mereka yang sangat dekat karena orang tuanya sering mengajak mereka bertemu. Karena orang tuanya saling mencintai.

Dan novel ini diakhiri dengan sangat-sangat indah. Biasanya kita cuma lihat Violet sebagai pendukung disetiap novel yang selalu bergantian menjadikan karakter pendukung menjadi tokoh utama di buku setelahnya. Tapi kemudian, disinilah Violet menjalani perannya sebagai tokoh utama. Dan Julia Quinn membuatnya terasa begitu sempurna.


Diceritakan bagaimana pertama kali Violet bertemu dengan Edmund, ayah kedelapan anak ini. Kemudian bagaimana Edmund meninggal dan meninggalkan sakit yang luar biasa dalam untuk Violet. Lalu Violet yang melahirkan anak terakhirnya dan menyadari bahwa anak terkahir yang lahir tanpa tahu siapa ayahnya merupakan titik baginya untuk memulai lagi hidup yang baru dan bahagia.
Aku selama ini baca novel seri ini agak gak terlalu pedulu bagaimana ayah dari keluarga ini meninggal. Karena untukku juga tidak terlalu meninggalkan kesan yang dalam. Karena yaah, aku mengikuti karakter ini sama rasanya seperti karakter utama yang kubaca. Makannya waktu baca bukunya Anthony dan betapa sosok ayahnya itu menjadi trauma baginya, aku juga merasakan bagaimana sedihnya ia kehilangan satu-satunya panutan hidupnya. Lalu ketika Edmund muncul di akhir buku ini sebagai tokoh utama bersama Violet, dan meskipun aku tahu bahwa Edmund pasti meninggal, tapi karena dibawakan dari sisi Violet, aku ngerasain sedih luar biasa dan tak terbayangkan. Karena kan disitu aku juga memposisikan diri sebagai Violet dan kesedihannya yang luar biasa dalam terhadap suami.
Tapi sesuai judulnya, berjalan ke akhir, ketika anak-anak perempuannya datang menengok adik kecil mereka dan saling bercanda, dan ketika akhirnya senyum Violet kembali dengan celotehan-celotehan anak-anaknya. Dan mengingat bagaimana anak-anak Violet sangat mencintai mamanya, kemudian Violet ikut menangis... oh, harus kuakui di titik itu aku juga ikut merasakan air mataku turun.Aku merasakan ada bagian dari diri Violet yang berubah. Yaitu kebahagiaan barunya bersama anak-anaknya. Aaaaaaaah. aku suka banget kata-kata Violet di akhir buku. Dia bilang "Bentuk kebahagiaan itu tidak bisa diukur, tetapi kebahagiaan selalu berbeda". Dan itu bikin aku percaya bahwa memang, kebahagiaan itu memiliki perbedaan, tapi untuk satu ini, kebahagiaan memang tidak pernah kurang dari yang sebelumnya. Bukan berarti lebih bahagia, tetapi hanya berbeda. Sungguh. This book is really such a lovely story. And I love how Julia Quinn could bring this such of story. Love it. Sooo much.




Monday, May 26, 2014

Review: To Pleasure a Prince


To Pleasure a Prince

My rating: 4 of 5 stars



Bagus, bagus, bagusssss
Meskipun nggak sehoki waktu nggak sengaja dapet bukunya Julia Quinn yang ternyata ratingnya cukup bagus, aku harus mengakui sabrina jeffries juga tidak kalah baiknya dalam mengolah alur seperti penulis historical lain favoritku. Dan sejujurnya, aku nggak kecewa. Aku dapet kok hampir semua aspek favoritku sama seperti waktu aku baca novelnya julia quinn. Aku suka, suka, sukaaaa banget sama karakter heroinennya si Regina ini. Itu cewek bener-bener ya. Aku bisa bayangin sepopuler dan secantik apa wanita tersebut dan sekuat, emm.. sekeras kepala apa dia (tapi dalam artian baik ya), setangguh apa dia dalam menghadapi karakter Draker yang emang minta ampun parahnya. Selama baca novel ini, aku nggak pernah sekalipun nyalahin regina. Aku pikir aku bakalan nggak simpatik sama tokoh ini, nyatanya aku malah simpatik sama tokoh Regina yang ternyata memiliki sebuah rahasia kelam. Secantik apapun dia, aku ngerasain rasanya dihina di depan publik oleh orang semacam Draker, dan wanita ini masih sanggup berdiri.

Belum lagi seberapa tidak percayanya Draker meskipun Regina bisa dipastikan sangat tulus terhadap Draker bahkan dilihat dari luar sekalipun.Emm.. intinya, aku dapet semua emosi yang aku butuhkan dalam semua novel. Termasuk klimaksnya yang paling aku tunggu-tunggu, lagi-lagi berbeda dari novel lain yang pernah kubaca tapi tetap menghibur dan baru.
Aaah rasanya mungkin aku akan meminjam novelnya Sabrina Jeffries lagii.



Friday, May 16, 2014

Review: Sempurna


Sempurna

My rating: 3 of 5 stars



Aku mau jujur aja deh. Novel ini beneran mulai bagus dari pertengahan ke belakang.
Well, bukannya yang depan-depan itu nggak bagus. Bagus. Karena aku sendiri juga tahu itu masih pengembangan karakter si Awang dan Kejora dan perasaan mereka, trauma masing-masing.
Tapi tetep ajaaaa... bagiku perkenalannya masih terkesan lambat. Aku menanti-nanti bagian dimana kira-kira aku terbawa emosi untuk terus dan terus melanjutkan. Yaah,,, untung aja karena aku ada janji sama temenku buat nyelesein novel ini akhirnya aku berhasil melanjutkannya dengan sabar dan syukurlah pertengahan dah masuk konflik pentingnya.


Aku sukaaaa pertentangan batin antara Awang dan Kejora. Nggak ada jaim-jaiman disini. Bahkan Kejora juga nggak munafik kalo tuh cewek jatuh cinta sama Awang dan berusaha setia. Si Awang ini juga.., yah lumayan bikin ketagihan juga lihat perilakunya. Lha wong dia kan awalnya dinginnya nggak banget ya. Dia tuh cueknya ampun ampun deh sampe nuruin Kejora di pinggir jalan dan cewek itu kesasar. Lucu lucu miris gimana gitu dan suka banget waktu dia akhirnya jemput si kejora akhirnya. Yang kusuka lainnya adalah perubahan karakternya yang awalnya menganggap Kejora sebagai pengganggu makannya dia trus sikapnya jahat banget gitu, eh waktu dia sadar dia suka sama Kejora, Awang jadi gantian yang gangguin. Ih lucu banget deh. Aku emang dari dulu suka sama pergantian karakter si heroin dan heronya. Awalnya ceweknya yang hiperaktif trus pas dia udah mundur dia ganti dikejar-kejar. AKu suka suka suka banget bagian itu. Endingnya... yah walaupun gantung tapi menurutku itu dah lumayanlah. Malahan aku berharap ada buku keduanya gitu tapi yang di dalamnya gambarin mereka lagi tahap pacaran atau nikah sekalian kek. Penasaran aku sama sifat mereka berdua kalo udah jadi satu gitu. MAsih suka marahan atau enggak ahhahahahah