Friday, August 14, 2015

Review: Archangel's Blade

|
Archangel's Blade

My rating: 5 of 5 stars

Sebenernya pingin baca seri guild hunter ini dari awal, dari nomor 1, tp apa daya di rental adanya nomor 4 dan aku udh penasaran jadi baca ajalah.

Errrr ini novel yang amat-sangat memilukan demi apaaaaa. Aku nggak bisa berhenti dibuat nangis sama masa lalunya Dmitri yang parah itu huhu. Ini aja aku nulis reviewnya kayak mau nangis lagi, sumpah sedih banget. Rasanya kayak baca novel sad ending.

Yap. Ini novel jenis sad-happy ending karena kita akan disuguhkan oleh dua buah cerita, dimana yang satu berakhir tragis, dan yang kedua berakhir happy ending. Dan yang tragis itu bikin mrinding waktu bacanya. Dmitri yang seorang vampir sudah hidup 1000 tahun tanpa pernah sekalipun melupakan keluarga kecil yang ia bentuk meskipun sekarang ia sudah menjadi makhluk berdarah dingin dan tidak punya hati. Masa lalu yang kejam yang melibatkan keluarganya ini membuatnya menyimpan luka itu dan membuatnya memiliki hati yang tidak bisa ditembus oleh siapapun, hingga Honor muncul dengan mata hijaunya. Dengan kelembutan yang membuat ingatan masa lalunya kembali menghantunya, kenangan2 indahnya dengan istri dan anak2nya, begitu pula kenangan paling kejam dalam hidupnya.


Pokoknya ini novel sedih banget deh, sadis abis. Untung yaa untuuuung aja novel ini punya dua poin menarik yang bikin aku nggak jemu atau kesal sama novel ini. Pertama, kehadiran masa lalu Dmitri dimunculkan sedikit-sedikit, tidak dijadikan cerita yang diletakkan di awal. Sehingga kitalah yang akan memasang puzzle puzzle masa lalu. Dan masa lalu itu juga dihadirkan dengan cara yang menarik sehingga kita menjadikannya sebagai satu cerita utuh yang takbisa dipisahkan. Bahkan masa lalu itu menghadirkan emosi2 yang bikin kita suka sama ingrede, sampe bingung kita mau milih Ingrede dan Honor.

Yang kedua, kejutan bahwa ternyata Honor adalah.... Well, kejutan mengenai siapa honor membuat masa lalu itu bukan sebagai sebuah pengganggu. Sejujurnya ya, ada beberapa cerita yang nggak sesuai ekspektasi, yang bikin aku berharap lebih dari novel. Endingnya yang dibuat sebagai twist dan emosi terlalu sedikit menurutku, padahal sebenarnya bisa dibikin lebih menggebu gebu lagi. Dmitri juga terlalu cepat menerima Honor di akhirnya, dan Honor juga terlalu cepat menerima dirinya sendiri. Walaupun puzzlenya udah diceritakan sejak awal sih, tapi puzzle itu sayangnya nggak dieksekusi lebih jauh jadinya akhirnya jadi agak cepat.

Anyway, apapun keluhanku, aku tetep nggak bisa nurunin bintang-bintangku dari angka 5, karena toh aku tetep dibuat berderai air mata. Nalini emang bisa aja bikin aku nggak bisa nggak nangis. Cerita-cerita yang dihadirkan olehnya terlalu memilukan dan rasanya sulit kalo ini udah habis gitu aja. Huaaaa rasanya pingin banget baca kisah Honor Dmitri lagi setelah mereka lama berpisah, sungguh, aku kayaknya perlu ditegasin lagi kalo mereka udah kepisah lama.

Oh dan satu lagi. Ada momen yang paliiing aku suka dan paling mengaduk emosi. Yaitu dibagian ketika Dmitri liat ada padang bunga liar di pintu kamar Honor dan marah banget sampe2 bikin Honor kehilangan kendalinya. Saat tahu bahwa Dmitri sadar dia sudah menyakiti Honor dan bagaimana dia minta maaf sama Honor, aaaak sedih sekaligus tersentuh banget sama momen itu. Ngingetin aku sama Fifty Shades of Grey banget. Cuma berharap momen itu ada lagi sih. Kuat banget deh disitu emosinya men. Rasanya aku bakalan baca reread novel ini deh suatu hari nanti, atau beli bukunya cuma biar bikin aku nangis lagi.

Review: Slave to Sensation - Terjerat Hasrat

|
Slave to Sensation - Terjerat Hasrat

My rating: 5 of 5 stars

Mungkin aku nggak akan pernah berhenti berterimakasih sama goodreads yang udah ngenalin aku sama novel-novel luar dan terjemahan yang bagus, karena entah bagaimana setelah selama ini aku akhirnya bener bener mendapat persinggahan untuk melampiaskan hobi hobiku membaca. Dan.... Aku bisa dapet novel bagus yang dulunya aku pikir aku udah kehabisan stok, nyatanya berkat goodreads aku menyadari bahwa kuantitas buku menarik yang bisa dinikmati bisa dibilang nggak akan pernah habis.

Hohoho. Terlalu lama ya intermesonya. Well, dalam halnya aku ketemu sama novel ini, itu kayak takdir aja. Padahal ini saat saat aku lagi sibuk nonton drama dan aku pikir nggak dulu dapet novel bagus, sampai suatu hari aku buka goodreads dan di updetan ada temenku yang baru selesai baca salah satu novel seri ini. Temenku ini sering sama denganku kalo ngasih rating buku dan waktu aku liat reviewnya terhadao buku ini beserta bintang limanya, aku nggak butuh waktu lama buat nyari versi indonesianya dan mengatur jadwal untuk melakukan penyewaan buku ke rental.


Syukurlah novel ini ada dan gak perlu lama2 buat akhirnya aku memutuskan untuk membaca ini. Review2 di goodreads terutama orang orang yang sering punya kesamaan dalam menilai buku bikin aku terprovokasi secepat kilat hhahhahaa

Nah sekarang aku akan bahas tentang novel ini sendiri.

Setelah black brotherhood, ini adalah novel paranormal lain yang aku baca untuk tahun ini. Dan... This is my review:

Yang aku pikirkan sepanjang aku membaca novel ini adalah: ini visualisasinya kayak gimana kalo di filmin? Sumpah bahkan dengan segala kata baru dan logika baru yang nyaris aku nggak ngerti, aku terus terusan nggak dapet visual yang tepat untuk membayangkan adegan adegan dan cara kerja psy disini. Dan aku sama sekali gak bisa bayangin sebesar apa kalo kita masuk ke dalam psynet, dan rasanya kayak apa. Well, itu bagian tersulitnya dari buku ini untuk di cerna, bahkan sampai akhir. Untung aja aku baca terjemahannya, karena sepertinya aku nggak bakalan ngerti kalo aku baca versi inggrisnya.

Tapi tenang aja, bagian bagian lain buku ini sangaaat menarik sampai sampai yang sulit sulit dicerna itu akhirnya nggak jadi masalah. Dan siapa tokoh utama kita disini saudara saudaraaa....

Lucas n Sascha

Huuuffff. Karena latar belakang cerita tentang lingkungan psy yang digambarkan oleh Nalini, aku mendapati bahwa perbedaan yang dimiliki sascha sebagai psy menurutku sangat mempesona. Sascha adalah heroin kuat dan pemberani yang sangat pantas untuk dicintai dan dilindungi. Ketika semua orang sudah pasti menganggap psy adalah orang orang yang nggak jauh beda dari robot dan dihadapkan dengan cinta, sejujurnya aku penasaran bagaimana cerita akan berjalan. Sascha bisa dibilang punya dua kepribadian. Kepribadian dingin bertopeng tanpa belas kasih dan sempurna dan kepribadian lembut dan penuh kasih sayang. Sungguh bagaimana seseorang bisa membuat keduanya berada dalam dirinya dan tetap membentuk karakter ini dengan sempurna?

Tapi Sascha melakukannya. Demi menutupi dirinya yang bisa merasakan emosi, ketakutan membuatnya menutup emosi itu rapat rapat dalam dirinya. Dicerita lain mungkin motif untuk jadi dingin padahal seharusnya ia adalah orang baik biasanya dengan menebarkan masa lalu dan trauma pada tokoh tersebut, sehingga merasakan emosi menjadi pilihan yang memang sengaja ingin dibuang. Tetapi motif untuk tokoh Sascha ini jelas berbeda. Sascha ingin meledakkan emosinya, ingin mendamba, ingin merasa, tetapi ketakutannya akan hukuman apa yang akan ia peroleh ketika ia ketahuan bisa merasa membuatnya membangun perisai sekuat baja yang akan membuat semua orang tetap melihatnya sebagai makhluk dingin yang sempurna.

Nah, menurutku itu jauh lebih sulit, dan memilukan. Dan berat.

Ia mengingkan banyak sekali hal hal yang bisa dijangkau oleh emosinya, karena itu ia meluapkannya diam diam dengan harapan tidak ada seorang pun yang tahu bahwa ia bisa merasa.

Dan aku bisa merasakan kesepian itu ketika dia sendirian dan terpaksa harus berakting atau ia akan mati.

Lucas muncul sebagai penyelamat. Dia bener bener hero deh disini. Awalnya dia pingin memanfaatkan Sascha karena ia melihat semua psy itu sama dingin dan tidak berperasaan. Yah jelas karena itu memang benar. Tapi ketika dia melihat ada hal hal yang berbeda dalam diri Sascha, dia mulai melupakan tujuan awalnya untuk balas dendam.

Kemudian cerita menjadi semakiiin menarik. Ini adalah tarik ulur bagaimana Lucas berusaha menarik keluar Sascha dari cangkang dinginnya, dan bagaimana Sascha berpegangan pada cangkangnya karena ketakutannya yang besar jika emosinya sampai membeludak keluar. Padahal disisi lain ia juga ingin berpegangan pada tangan Lucas. tapi kemudian ia memiliki dilema akan bagaimana nasibnya kalau ia membiarkan perasaan itu muncul.

Aku capek banget baca ini. Capek karena nggak tega sama Sascha. Pingin Sascha selamat dengan menyembunyikan emosinya, tapi juga pingin ada seseorang yang menolongnya. Dan sejujurnya aku terus dibuat penasaran bagaimana cerita akan berkembang dengan premis tersebut. Aku pemasaran dengan bagaimana cara Nalini mencapai tingkat pemahaman dan mencari jalan keluar untuk keduanya. Daaan... Aku puas dengan hasilnya.

Akhirnya Sascha mencapai puncaknya dan emosinya seperti sebuah bom. Disaat ia menyerah itulah dan meakipun takut siapa yang akan ada disisinya, ternyata Lucas sudah siap melindunginya, bahkan disaat Sascha tidak sadar bahwa Lucas pelan pelan berada dibelakang dan merangkulnya agar bisa berdiri mengadapi apa yang mungkin akan terjadi padanya. Dan ketika ia menyerah itulah, ia mendapatkan pegangan baru.

Chemistry antara Sascha dan Lucas sangat kuat bahkan disaat Sascha masih memakai topengnya. Tetapi pikiran kedua tokoh ini terus terusan menbuatku jatuh cinta.

Yah, begitulah dan cerita masih terus berlanjut dengan tetap memilukan tapi tidak berhasil membuatku ingin berhenti. Setiap halaman membuatku merasa ketagihan.

Yang aku pusing dari buku ini paling ya itu doang sih, kisah dan cerita tentang psy itu sampai sekarang masih sulit dicerna. Meskipun begitu, dengan pemahaman seadaanya aku tetap dibikin terus merasa tegang ketika cerita mulai mencapai klimaks. Duh sascha sascha, dia emang bener bener pemberani. Saking pingin mati terhormat dengan membantu ras lain, dia bahkan merelakan dirinya sendiri untuk mati. Sayang banget deh sama heroin satu ini, bersyukur dia dipasangin sama karakter lucas.

Review: Caressed By Ice - Godaan Changeling Serigala

|
Caressed By Ice - Godaan Changeling Serigala

My rating: 5 of 5 stars

Baca novel seri Psy Changgeling ini bener bener nggak butuh waktu banyak buat menyelesaikannya. Karena rasanya aku belum juga bosen sama kisahnya.

Nalini mengambil karakter yang berbeda di novel ketiga, dan bisa jadi itu agar kita tidak bosan dengan jenis karakter yang sama. Dan aku sungguh, cukup suka dengan karakter disini, Judd dan Brenna.

Baca novel ini jadi keinget sama Seduce me In Sunricenya Lisa Kleypas, sama sama bercerita bagaimana si heroin berusaha untuk mencairkan es sosok heronya, dan bagaimana si hero ini meskipun dingin tapi tidak pernah bisa melepaskan heroinnya.


Disini juga sama, Brenna nggak pernah berhenti buat menaklukkan Judd, dan dengan penolakan Judd yang sadis dan dingin laki laki ini juga nggak bisa jauh jauh dari Brenna. Karena Judd ini memang pembawaannya dingin tapi rasanya aku mengerti bahwa dia sama sekali bukan orang jahat. Dia psy secara keseluruhan, tapi dia bukan orang jahat. Dia punya empsi yang kuat dan mematikan sehingga Keheningan adalah satu satunya jalan.

Entah berapa kali aku tersentuh dengan interaksi antara Brenna dan Judd yang sama sama ingin melindungi, ingin mengikat satu sama lain, tapi tidak kunjung berhasil. Apalagi si Judd ini kan dingin dan tenang banget ya, diem banget lagi, tapi kalo di depan Brenna ada ada ajaaa dari sikap dinginnya yang bikin lutut lemas. Dan aku suka banget sama karakter Judd, menurutku dia konsisten dengan karakter Psynya. Walaupun diakhir ia agak melembut, itu semata mata karena itu adalah pilihannya untuk menghadapi proses.

Terutama bagian ketika Judd masuk ke benaknya dan berusaha melepaskan pengendalian2nya yang mematikan, kemudian pingsan selama 3 jam yang bikin Brenna takut setengah mati, tapi tiba2 ngobrol sama Brenna lewat telepati dan dengan kata2 yang sangat lembut.

Kayaknya bisa bayangin deh gimana orang orang luar selain Brenna akan terus melihat Judd sebagai sosok yang dingin dan sulit di dekati sampai2 nggak yakin ada cara buat melelehkan dinding esnya. Dan ketika berada bersama Brenna, akhirnya kita tahu metode apa yang bisa melelehkan dinding es itu dan hanya Brenna yang punya. Sehingga, kedua karakter ini buat aku berhasil memunculkan chemistry yang begitu kuat. Meskipun yaah, konfliknya nggak sesadis seduce me in sunrice, tapi tetep saja sangat menarik, karena aku udah duluan jatuh cinta sama tokoh2nya. Dan Judd, seriously he make me dying :* sukaaa banget