My Reading Diary: Novel Seporsi Mie Ayam Sebelu Mati (Brian Khrisna)

18/208

Berapa banyak orang yang memikirkan hidupnya dengan cara yang sama atau mirip seperti Ale?

Menyelami pikiran seorang Ale membuatku memikirkan hal ini. Berapa banyak yang seperti dia? Apakah mereka yang seringkali tidak sengaja kutengok di jalan sedang menyendiri? Apakah seseorang yang sedang merokok bersama handphonenya? Apakah seorang pekerja yang selalu tampak kesepian? Apakah temanku yang merasa tidak pernah memiliki cukup alasan untuk punya tujuan hidup selain bertahan?

Ada banyak hal yang terbayang olehku ketika membaca bagaimana Ale membayangkan dirinya sendiri. Paling sering yang terbayang adalah artikel-artikel yang aku baca, tentang orang-orang yang meninggalkan berhalaman-halaman surat sebelum ia mengakhiri dirinya. 

Aku baru membaca 18 halaman, dan yang aku pikirkan adalah: apakah penulisnya sendiri harus menghadapi kesakitan ini untuk menuliskan apa yang Ale rasakan?

Karena bagiku pribadi, seharusnya kehidupan menawarkan harapan yang bisa termanifestasi. Tapi Ale kanseumur hidupnya selalu berharap? Dan apakah dia bisa melihat bagaimana harapannya akan terwujud? Ketika “kapan” selalu menjadi pertanyaan yang tidak terjawab.

20/208

Ah, disini penulis menunjukkan bagaimana harapan mulai terwujud disaat kita melepaskan keterikatan terhadap dunia.

Sekilas ini terlihat seperti persiapan tokoh untuk bundir, disaat aku melihatnya justru seperti seorang seharusnya hidup: hidup seolah ini adalah hari terakhir kamu hidup. 

Dan penantiannya bertemu Tuhan justru terlihat seperti: dia tahu jiwanya masih akan kekal dan hidup untuk waktu yang lama.

Ini adalah suatu transformasi yang diniatkan, dan aku rasa aku mulai bisa melihat bagaimana satu pemikiran dari tokoh menarik lebih banyak “keberuntungan” dalam hidupnya.

Tapi disini aku kembali bertanya-tanya: bagaimana realitanya? apakah manusia-manusia lain mendapatkan turning point yang sama, atau mereka tetap dibiarkan untuk “berakhir sendiri” ketika mereka merubah perspektif mereka ke arah ini?

Karena ketika Ale merasa dirinya akan mati, justru dititik itulah ia banyak memberi cinta kepada dirinya sendiri dan dari sanalah alam ikut merespon apa yang dia lakukan dengan cara yang sama.

29/208

Ketika kamu mempersiapkan hidup seolah hari ini adalah hari terakhir kamu hidup, tapi kamu menyadari bahwa hidupmu lebih panjang dari apa yang kamu pikirkan. Seperti inikah rasanya?

Penulis membuatku mampu memahami maksud dari kalimat yang sering diserukan tersebut.

Membuatku berfikir: sudahkah aku hidup seolah hari ini adalah hari terakhirku?

Karena saat aku tidur nanti, aku mungkin bahkan tidak tahu akan terbangun lagi atau tidak.

Dimana penulis mendapatkan perspektif ini?

Ambisi untuk hal-hal sederhana sekalipun, karena kadang kita kewalahan ketika mengejar sesuatu yang tidak terasa nyata.

Aku berharap orang-orang yang memikirkan bunuh diri memiliki kesempatan untuk mendapat pencerahan seperti Ale.

Pencerahan yang perlahan tetapi lembut. Menunjukkan bahwa Tuhan memberi kita pelajaran dengan cara-cara ajaib.

78/208

Apa yang terjadi pada Ale, dan pertemuannya dengan Murad memberikan kita perspektif baru tentang Keberanian. Diluar cerita ini mengandung hal0hal yang sifatnya tidak manusiawi dan kriminal, bagian yang aku baca ini menunjukkanbagaimana keberanian itu terbentuk, bisa dibentuk, dan bisa dipaksa kalau terpaksa.

Dan kalau kita mau, kita juga bisa membangkitkan keberanian itu dalam diri kita dengan cara memaksakan diri.

208/208 Finish!



Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Magic Of You by Johanna Lindsey (Malory-Anderson Family #4)

Review: Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990

Love Only Once by Johanna Lindsey (Mallory-Anderson #1)