Review: Butterflies

Butterflies Butterflies by Ale
My rating: 4 of 5 stars

Lembut, manis.

Ini novel yang bakal sangat berkesan apalagi kalau kamu bacanya masih remaja, kayaknya bakal berlipat2 rasa berkesan dan membekasnya dibanding aku.


novel ini bercerita tentang Amara, seorang gadis SMA yang sangat suka membaca buku dan ada satu buku yang sangat dia sukai, sampai-sampai tiap bulan dia selalu kirimin surat ke penuslinya karena dia suka banget sama tokoh fiksi bernama Khai yang dia temukan dalam tulisan Lail (penulisnya). Tapi tanpa dia sadari, penulis favoritnya ini adalah ibu dari sosok laki-laki yang sering ia temui  di kafe.  yang sering ia  datangi, bernama Abel. Dan Khai itu adalah tokoh yang terinspirasi dari anaknya Lail yaitu Abel itu sendiri. Dari sini mulai terasa ada keterhubungan yang tidak disadari, seolah semesta dengan cara uniknya memang berniat untuk mempertemukan Abel dan Amara. 


Narasinya mempresentasikan pengalaman yang lembut, manis kalem, dan sangat rapi. Enak banget diikuti dan enak banget diikutin.


Karakter Amara dan Abel. Interaksi keduanya terasa sangat natural dan terasa sama sekali tidak dipaksakan.

Abel karakter yang kalau ngomong kikuk dan itu lucu sekali. Dia ngomong cuma lancar di kepala, kalau diomongin yang keluar cuma sedikit-sedikit dan nggak rapih. Jadi Amara yang bukan hanya seorang pembaca, tapi penulis yang baik, sering geregetan karena merasa harus merapihkan tata bahasa Abel.


Meski demikian, Amara setiap waktu selalu tertarik lebih jauh kepada karakter Abel yang terasa dingin tapi disisi lain juga sangat hangat dan lembut. Ketertarikan yang ternyata merupakan sinyal bahwa Abel adalah bentuk nyata dari Khai, tokoh fiksi favoritnya.


Perjalanan hubungan mereka menurutku digambarkan dengan sangat indah. Entah karena narasinya yang ditulis dengan indah, atau karena hubungan kedua tokohnya sendiri terasa indah dengan cara yang unik. Aku bisa merasakan ketenangan, kelembutan, tapi juga representasi cinta yang disampaikan dengan cara-cara yang sederhana. Novel ini nggak berlebihan tapi menyisakan kesan yang cukup mendalam.


Aku hanya merasa masih merindukan momen Abel dan Amara setelah menutup novel ini. Novel ini itahu bagaimana caranya mengakhiri cerita dengan cara yang membuatku terasa membutuhkan interaksi keduanya lagi. Hanya 292 halaman saja. Novel ini benar-benar hanya bercerita sesuai porsi, sesuai kebutuhan, dan sangat padat. Apa mungkin itu ya yang bikin novel ini terasa sangat membekas? Aku merasa kurang puas karena masih pingin lagi, huhu. Emang sih gak semua orang suka cerita yang sampai memuaskan, tapi jujur aku butuh untuk cerita ini. Aku pingin lihat Abel jadi cogil buat Amara hehehehe.


Jadi kalau kamu adalah remaja yang mencari nvoel remaja yang relatable, manis, tidak menggurui, dan gak terlalu dewasa tapi memberikan after taste yang berkesan, novel ini sangat kurekomendasikan sih.


View all my reviews

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Magic Of You by Johanna Lindsey (Malory-Anderson Family #4)

Review: Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990

Menyelami Seni dalam Kejiwaan pada buku "Psikologi Seni"