Review: White Nights
White Nights by Fyodor Dostoevsky My rating: 4 of 5 stars Aku memandang White Nights bukan sebagai kisah romansa yang gagal, dan juga bukan sebagai puisi panjang tentang kesepian yang indah. Aku melihat novel ini sebagai cerita tentang sebuah kehidupan yang nyaris tidak pernah benar-benar hidup, lalu untuk pertama kalinya disentuh oleh sesuatu yang nyata—meski hanya sebentar. Fokusku disini juga bukan tentang “siapa berakhir dengan siapa” yang biasanya kuperhatikan saat membaca novel romance, tapi pada apa yang terjadi pada manusia ketika ia akhirnya keluar dari kepalanya sendiri dan bertemu dunia nyata, walaupun dunia itu tidak tinggal bersamanya. Sejak awal aku menangkap bahwa tokoh utama hidup dalam kesepian yang stagnan: bukan kesepian yang sementara, tapi kesepian yang sudah menjadi struktur hidup. Monolognya panjang, puitis, berputar-putar, dan melelahkan—dan aku tidak melihat itu sebagai sesuatu yang indah, melainkan tanda bahwa tokoh u...