REVIEW SILVER LINING

Novel ini mengisahkan tentang Gaby, seorang gadis bisu yang tetap menyimpan harapan bahwa hidupnya bisa berubah menjadi lebih baik, meskipun ia telah melalui banyak hal buruk. Karena hutang balas budi, Gaby tinggal bersama sahabatnya, Samantha. Namun alih-alih mendapatkan perlindungan, ia justru menjadi korban perundungan dari Samantha dan lingkungan sekitarnya.

Kondisi Gaby yang tidak mampu melawan, ditambah situasi ayahnya yang sedang koma, membuatnya berada di titik terendah hingga hampir menyerah pada hidupnya. Di titik inilah Vicky hadir. Sosok yang dikenal sebagai preman sekolah dan ditakuti banyak orang, justru menjadi orang yang menolong Gaby.

Seiring waktu, Gaby mulai melihat sisi lain dari Vicky. Sosok yang di mata orang lain terlihat menyeramkan, ternyata memiliki sisi yang hangat, lembut, dan tanpa sadar sangat tulus dalam memperlakukan Gaby. Dari interaksi sederhana yang terus berulang, Gaby perlahan mulai menaruh hati. Sementara itu, Vicky yang awalnya hanya merasa kasihan dan menjaga jarak, tanpa sadar mulai merasa nyaman dengan kehadiran Gaby dalam dunianya.

Konflik emosional mulai terasa ketika perasaan Gaby berkembang lebih jauh, sementara Vicky tampak memiliki batasan tersendiri dalam menjalin hubungan dengan perempuan.


Karakter

Karakter Vicky dibangun dengan kontras yang menarik. Di luar, ia dikenal sebagai sosok yang nakal dan menakutkan. Namun ketika lebih dekat, justru terlihat sisi polos dan menggemaskan yang membuatnya sulit untuk tidak disukai.

Sementara itu, Gaby adalah karakter yang jauh lebih kuat dari yang terlihat. Dengan kondisi hidup yang sangat tidak mudah, ia tetap memilih untuk bertahan dan bahkan membawa energi positif dalam kesehariannya. Awalnya aku mengira akan merasa kasihan sepanjang cerita, tetapi ternyata yang terasa justru kekaguman terhadap daya juangnya.

Hubungan antara Gaby dan Vicky terasa hangat dan berkembang secara natural, membuat pembaca bisa ikut merasakan perubahan emosi yang terjadi di antara mereka.


Gaya Penulisan dan Format

Novel ini merupakan adaptasi dari webtoon, dan hal tersebut sangat terasa dalam penyajiannya. Masih banyak panel webtoon yang disisipkan, sehingga pengalaman membacanya terasa seperti perpaduan antara novel dan komik.

Secara pribadi, aku lebih merasa seperti membaca komik dibandingkan novel murni. Narasinya masih mengikuti gaya visual, dan artstyle dari versi webtoon sangat membantu dalam membangun emosi serta karakterisasi. Bahkan ketika membaca bagian narasi, aku tetap membayangkan panel-panelnya di kepala.

Font yang cukup besar juga membuat pengalaman membaca terasa ringan dan cepat. Alurnya mengalir dengan sangat baik, sehingga mudah sekali untuk terus lanjut membaca. Ini benar-benar tipe bacaan yang bisa langsung habis ratusan halaman dalam sekali duduk.


Pengalaman Membaca

Sejak awal hingga sekitar 200 halaman pertama, ceritanya sudah terasa sangat seru dan engaging. Perkembangan hubungan antar karakter, terutama interaksi kecil antara Gaby dan Vicky, menjadi daya tarik utama.

Vicky adalah tipe karakter yang mudah membuat pembaca gemas, sementara Gaby membawa kekuatan emosi yang membuat cerita ini terasa hidup. Aku juga bisa memahami sepenuhnya kenapa Gaby tidak merasa takut pada Vicky.

Menariknya, meskipun cerita ini tidak membuatku menangis, perasaan yang muncul tetap terasa penuh dan utuh. Ada kepuasan emosional yang sulit dijelaskan, tapi sangat terasa setelah selesai membaca.


Kesimpulan

Untukku, rating 5/5 adalah ketika tidak ada keraguan sama sekali terhadap pengalaman membaca, dan novel ini berhasil memberikan itu. Meskipun tidak memicu tangisan, emosi yang disampaikan tetap sampai dengan sangat kuat.

Perlu dicatat bahwa pengalaman membaca ini sangat dipengaruhi oleh elemen visual dari webtoon. Jika hanya berupa novel tanpa panel, kemungkinan penilaiannya bisa berbeda. Namun justru perpaduan inilah yang membuat cerita terasa lebih hidup dan mudah dinikmati.

Sayangnya, cerita ini masih berlanjut, jadi belum bisa menilai keseluruhan kisahnya. Tapi untuk volume pertama, ini adalah pengalaman membaca yang sangat memuaskan dan berkesan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Magic Of You by Johanna Lindsey (Malory-Anderson Family #4)

Review: Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990

Menyelami Seni dalam Kejiwaan pada buku "Psikologi Seni"