Review: Everything Becomes F: The Perfect Insider

Everything Becomes F: The Perfect Insider Everything Becomes F: The Perfect Insider by Hiroshi Mori
My rating: 5 of 5 stars



Wah, gila sih… ini gila.

Eh, keren sih… ini keren!


Suka banget, aku dibikin bersabar demi sesuatu yang worth the wait menjelang akhir cerita. Ternyata aku bukan cuma cocok baca slow burn untuk genre romansa — jangan-jangan, slow burn buat misteri juga cocok? Xixixi.


Moe? Genius.

Saikawa? Cerdas.

Tapi Magata Shiki?

Another level.


Dan… siapa pembunuhnya?

Another level of genius too.


Kok bisa ya orang sejenius ini?

Itu adalah kesan paling kuat yang aku dapatkan setelah selesai membaca novel ini. Biasanya, kata “jenius” terasa lebih akrab untuk hal-hal yang sifatnya positif—penemuan hebat, teori besar, atau pencapaian luar biasa.


Tapi di novel ini, kita disuguhkan bentuk kejeniusan yang berbeda: kejeniusan dalam menciptakan misteri pembunuhan yang rumit, berlapis-lapis, dan mengguncang pikiran. Dan di balik semua itu, ada penjelasan ilmiah dan hal-hal berbau programming yang cukup dalam, tapi justru jadi seru karena aku berusaha memahaminya sebisa mungkin.


Pantesan temanku menyarankan untuk baca ini tanpa terlalu banyak mikir ke sana kemari. Karena memang ceritanya bikin pusing, muter banget, dan menguras energi berpikir. Aku sendiri jarang baca novel misteri, jadi kali ini aku baca sambil pasrah, tapi tetap mencoba paham.


Temanku juga bilang, “Nggak usah buru-buru ngerti, cukup catat dan ingat detail yang terasa penting.”

Dan ternyata itu benar banget.


Karena saat lapisan demi lapisan misteri mulai terkuak, rasanya kayak:

Plot twist di balik plot twist… bertubi-tubi!

Rrrghhh, SERU BANGET!!


Sebenarnya, pembunuhnya adalah seseorang yang sudah disebut di awal cerita. Tapi seiring waktu, keberadaannya makin kabur—hingga akhirnya terlupakan. Jadi ketika namanya disebut lagi di akhir, BOOM!

Adrenalin langsung naik.

Rasanya puas banget saat akhirnya tahu: “Kenapa dia? Kenapa bisa? Gimana caranya?”


Sumpah, baca ini tuh deg-degan banget. Terutama di bagian ending. Tapi semuanya layak untuk ditunggu.


Awalnya ceritanya terasa lambat banget. Kita disuguhi detail demi detail yang terlihat nggak penting—bahkan sampai ratusan halaman. Tapi aku tetap lanjut, berpegang pada kata-kata teman-teman yang bilang, “Nanti serunya di akhir!”


Dan mereka benar.


Saat masuk ke bagian paling klimaks, ketegangannya nggak berhenti-berhenti.

Setiap halaman terasa seperti ledakan informasi dan emosi.


Ada juga keanehan-keanehan yang mulai muncul menjelang akhir cerita—semua itu bikin aku makin penasaran.


Dan yang bikin tambah keren:

Saikawa benar-benar mencuri perhatian.

Dia cerdas, tenang, dan punya cara berpikir yang tajam dan keren.

Tapi jangan salah, Moe juga nggak kalah keren.

Kayaknya aku paham kenapa dia bisa jatuh cinta sama Saikawa 😄


Semakin aku membaca ke bagian akhir, aku makin…

Speechless.

Kebenaran yang muncul satu per satu bikin aku cuma bisa bilang:

“Ini bagus banget. Gila, keren banget.”


Ekspresi terakhirku saat baca bagian akhir?

Melongo. Terpaku. Diam.


Dan buat aku yang pernah sedikit belajar programming waktu SMA, ada beberapa bagian yang terasa akrab. Itu bikin pengalaman bacaku makin asyik. Kebayang banget sih kalau pembacanya orang yang benar-benar ngerti programming — pasti mereka bisa lebih connect dengan Saikawa dan bahkan mungkin bisa nebak lebih cepat.


Jujur ya, aku sampai pengin misuh (ngumpat) saking kagumnya.

Karena semakin aku paham, semakin aku mikir:

“AH GILA, KEREN BANGET SIH INI!”


Karena ternyata…

Ini semua adalah sebuah pertunjukan!

Menegangkan. Serem. Penuh strategi.

Tapi luar biasa seru—dari sudut pandang tertentu.


Dan yang paling lucu…

Aku merasakan keseruannya.


Duo Saikawa dan Moe?

Chemistry mereka tuh… hmm, mantap banget.



Boleh nggak sih nangis karena baca novel thriller?

Aku merasa ingin nangis.

Bukan karena sedih.

Tapi karena ini keren banget WOYYY!


Lambat? Iya.

Tapi…

Worth. The. Wait.


Karena begitu sampai di bagian gong-nya…

DAR DER DOR!!!

Nggak dikasih napas!

Langsung meledak!



Kalau kamu suka misteri, suka mikir, suka plot twist, dan nggak keberatan sabar di awal…

Wajib baca novel ini.





versi 2


Terjadinya Sebuah Kasus Pembunuhan di Ruang Tertutup yang Dirancang dengan Sempurna


Aku baru saja menyelesaikan novel Everything Becomes F, dan please… ini seru banget dan sangat layak untuk kamu baca sampai ending-nya. Cerita novel ini berkisah tentang seorang profesor bernama Magata. Jadi, Profesor Magata ini ditempatkan di sebuah pusat berteknologi tinggi—semacam pusat riset—dan tidak bisa keluar selama 15 tahun. Selama 15 tahun itu, dia tinggal di sana untuk mengerjakan berbagai hal yang berhubungan dengan teknologi. Magata adalah seorang profesor yang sangat jenius.


Singkat cerita, tiba-tiba ruangan yang selama ini tertutup dan tidak pernah dibuka mendadak terbuka dengan sendirinya. Dari sana, muncul sesosok mayat yang sudah termutilasi. Karena Saikawa dan Moe adalah saksi yang menemukan mayat tersebut dan dicurigai adanya pembunuhan, maka seluruh ruangan dikunci dan ditutup.


Jadi, mereka tidak bisa keluar dari ruangan itu. Ditambah lagi, mereka tidak bisa menghubungi polisi karena semua alat komunikasi mati total. Akhirnya, Saikawa dan Moe berusaha dengan kemampuan mereka untuk mencari tahu tentang kematian seseorang yang ditemukan mengenakan gaun pengantin.


Namun ternyata, sebelum kebenarannya terungkap, terjadi lagi beberapa kematian. Setiap kali mereka berusaha mencari tahu siapa pelakunya dan mencoba menemukan celah, hasilnya nihil. Mungkin kamu akan merasa ceritanya lambat, apalagi di pertengahan. Tapi kesabaranmu akan berbuah manis karena ending-nya memuaskan banget.


Aku pribadi saat membaca novel ini benar-benar clueless—nggak tahu siapa pembunuhnya, apa motifnya, dan bagaimana cara pembunuhannya dilakukan. Tapi selama membaca, aku sangat menikmati bagaimana tokoh-tokohnya mengungkap cerita melalui sudut pandang mereka masing-masing. Meskipun awalnya terasa nggak ada kemajuan dalam kasusnya, tenang aja, karena ternyata ada sesuatu yang disembunyikan dari tokoh-tokohnya dan itu akan diungkapkan di bagian pengungkapan kasus.


Pengungkapan kasusnya adalah gong utama yang membuat semua penantian dan tebakan kita terasa pantas dan layak untuk diikuti. Karakter-karakternya pun menarik, terutama dinamika antara Saikawa dan Moe yang menurutku sangat “mood banget” dalam mengusut kasus ini. Dan tentu saja, Magata Shiki—profesor jenius—juga sangat menarik, terutama bagaimana ia mengembangkan sistem di pusat riset tersebut.


Plot twist-nya? Berlapis-lapis. Setiap kali kamu merasa sudah tahu kebenarannya, eh ternyata masih ada twist lagi, dan twist lagi. Itu yang bikin novel ini makin seru. Kalau kamu tertarik, boleh banget langsung cek bukunya!



Pertanyaan Penting dari Cerita Ini:


Apakah seseorang yang dikurung di dalam sebuah ruangan terisolasi di sebuah pulau terpencil selama 15 tahun untuk mengembangkan teknologi akan mengharapkan kebebasan? Atau karena dia terlalu jenius, dia justru bisa menciptakan dunianya sendiri lewat teknologi?


Seseorang yang mengalami ini dalam novel adalah seorang perempuan bernama Profesor Magata. Di pusat teknologi itu, orang-orang jarang berinteraksi dan nyaris tidak pernah keluar. Mereka sudah sangat familiar dengan yang namanya virtual reality.


Saikawa, tokoh utama dalam cerita ini, menganggap pekerjaan seperti itu adalah pekerjaan ideal. Ini adalah salah satu hal yang aku tangkap dari novel ini—selain unsur misteri dan pembunuhannya. Novel ini membuat aku ikut berpikir: apakah kehidupan yang kita jalani sekarang ini nyata, atau hanya ilusi?


Apa bedanya hidup di dunia nyata dan di dunia yang dibangun oleh teknologi, di mana sistem saraf kita bisa ditipu seolah-olah ini kenyataan? Apakah kenyataan itu sendiri adalah sebuah ilusi?


Pertanyaan-pertanyaan seperti itu dibahas dalam novel ini, dan menurutku sangat menarik untuk dijadikan bahan perenungan. Salah satu bagian yang aku suka adalah tentang kebebasan.


Apakah Profesor Magata yang dikurung selama 15 tahun menganggap bahwa keluar dari tempat itu adalah bentuk kebebasan? Atau justru dia merasa bahwa kebebasannya ada di dalam dunia teknologinya sendiri?


Yang membuat cerita ini seimbang adalah karakter Nishinosono Moe—gadis yang sangat ekspresif. Meskipun banyak orang mulai percaya bahwa kehidupan dalam teknologi itu ideal dan hebat, ada pertanyaan besar: apakah teknologi akan mampu menggantikan alam semesta yang kita kenal sekarang?


Itu adalah pemikiran yang aku lihat melalui tokoh-tokoh di novel ini, dan menurutku sangat relevan dengan kondisi kita sekarang—di mana banyak dari kita mulai hidup lebih banyak di dalam teknologi.


Apakah teknologi yang sekarang kita agung-agungkan akan mampu menggantikan pengalaman nyata seperti melihat pepohonan, merasakan angin, dan menyentuh alam?


Itulah beberapa hal menarik yang aku dapat dari novel ini. Jadi, kalau kamu ingin mengikuti kasusnya sekaligus merenungkan hal-hal filosofis tentang teknologi dan kehidupan, kamu boleh banget langsung baca novelnya!



Gabungan versi 1 dan 2


Review Novel: “Everything Becomes F” oleh Hiroshi Mori


(Sebuah Misteri dengan Kecerdasan yang Menegangkan)


Setelah menyelesaikan novel Everything Becomes F, saya hanya bisa berkata: ini luar biasa. Cerita ini bukan sekadar kisah misteri biasa, melainkan sebuah eksplorasi atas kejeniusan, teknologi, dan batas-batas antara kenyataan serta ilusi.


Sejak awal, saya dibuat bersabar dengan alur yang terasa lambat dan penuh detail. Namun, justru di situlah kekuatan novel ini: semua informasi yang semula tampak sepele ternyata menyimpan peran penting dalam membangun fondasi misteri yang luar biasa kompleks. Semakin saya membaca, semakin saya menyadari bahwa penantian itu benar-benar sepadan.


Tokoh utama dalam novel ini, Saikawa dan Moe, memiliki dinamika yang menarik. Saikawa tampil sebagai sosok cerdas dan rasional, sementara Moe memberi warna dan sisi emosional yang menyegarkan. Namun, di atas segalanya, yang benar-benar mencuri perhatian adalah sosok Profesor Magata Shiki. Ia digambarkan sebagai seorang jenius—bukan dalam makna yang umum atau positif saja, tetapi dalam kapasitasnya menciptakan misteri dan sistem yang rumit, hampir tidak bisa dipahami oleh logika biasa.


Saya sempat bertanya dalam hati, “Bagaimana bisa ada orang yang sejenius ini?”

Dan pertanyaan itu terus terngiang sepanjang membaca.


Melalui novel ini, kita diajak melihat kejeniusan dari sudut pandang yang lebih gelap. Kita tidak hanya diperlihatkan kemampuan intelektual dalam sains dan teknologi, tapi juga bagaimana kecerdasan bisa menjelma menjadi sesuatu yang membingungkan, bahkan menyeramkan. Penjelasan-penjelasan ilmiah dan teknis yang diselipkan sepanjang cerita, termasuk yang berkaitan dengan dunia pemrograman, menambah kedalaman cerita. Sebagai seseorang yang pernah sedikit belajar programming, saya merasa lebih terhubung dengan isi cerita—dan saya yakin pembaca dengan latar belakang teknologi akan merasa demikian pula.


Poin puncak novel ini benar-benar mengesankan. Saat misteri akhirnya mulai terbuka, satu demi satu lapisan cerita terkuak, membawa kita pada rangkaian plot twist yang tidak hanya mengejutkan, tapi juga sangat memuaskan. Identitas sang pelaku, yang sempat muncul di awal namun kemudian menghilang dari radar pembaca, diungkap dengan cara yang begitu elegan dan mengejutkan. Momen itu adalah klimaks yang membuat semua proses membaca terasa layak untuk dilalui.


Yang menarik, novel ini juga menyentuh hal-hal filosofis tentang kebebasan, realitas, dan eksistensi. Apakah seseorang yang dikurung selama 15 tahun dan hidup dalam dunia teknologi merasa lebih bebas daripada saat ia hidup di dunia nyata? Apakah realitas itu benar-benar nyata, atau hanya sebuah persepsi yang bisa dikendalikan oleh sistem buatan?


Pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul tanpa mengganggu inti cerita misterinya, dan justru memperkaya pengalaman membaca. Bagi saya, Everything Becomes F bukan hanya novel misteri—ia adalah refleksi tentang kehidupan, teknologi, dan batas antara logika dan emosi.


Secara keseluruhan, ini adalah novel yang menuntut kesabaran, namun memberikan imbal balik yang sangat sepadan. Alurnya yang perlahan namun penuh lapisan, karakter-karakter yang kuat, dan misteri yang dikemas dengan sangat cerdas menjadikannya salah satu bacaan paling berkesan yang pernah saya nikmati.


Apabila Anda menyukai misteri yang rumit, cerita dengan nuansa ilmiah dan filosofis, serta plot twist yang mengguncang, maka Everything Becomes F adalah novel yang sangat layak untuk Anda baca.



Versi lengkap

Review Novel “Everything Becomes F” oleh Hiroshi Mori


Sebuah Misteri Tertutup, Sebuah Kejeniusan yang Membingungkan


Ada satu kesan kuat yang terus membekas setelah saya menyelesaikan novel ini:

“Kok bisa, ya, ada orang yang sejenius ini?”


Novel Everything Becomes F bukan sekadar kisah tentang pembunuhan di ruang tertutup. Ia adalah kisah yang jauh lebih dalam—tentang obsesi, kecerdasan ekstrem, manipulasi teknologi, pencarian kebenaran, dan pertanyaan eksistensial yang menggugah. Sejak halaman-halaman awal, pembaca diajak masuk ke dalam dunia yang terisolasi, penuh batas, namun kaya akan tanda-tanda yang belum tentu dapat langsung dimengerti.



Latar Cerita dan Premis


Cerita berpusat pada Profesor Magata Shiki, seorang ilmuwan jenius yang telah menjalani kehidupan terkurung selama lima belas tahun di sebuah pusat riset berteknologi tinggi di pulau terpencil. Ia tidak diizinkan keluar dari ruangan tersebut dan hidup sepenuhnya dalam sistem yang tertutup—baik secara fisik maupun informasi.


Hingga pada suatu hari, ruangan yang selama ini tak pernah terbuka tiba-tiba terbuka. Di dalamnya ditemukan sesosok mayat termutilasi dalam keadaan mengenakan gaun pengantin. Penemuan itu langsung mengguncang para staf dan peneliti di sana—dan menjadi titik mula dari sebuah kasus pembunuhan yang nyaris tak mungkin dijelaskan dengan logika biasa.


Dua tokoh utama, Saikawa (seorang dosen arsitektur sistem) dan Moe (mahasiswa cerdas yang juga sangat ekspresif), menjadi saksi sekaligus bagian dari proses pengungkapan misteri ini. Ketika sistem komunikasi terputus dan semua pintu terkunci, mereka terpaksa menyelidiki kasus ini hanya dengan kemampuan analisis mereka sendiri—tanpa bantuan dunia luar.



Alur Lambat, Tapi Sarat Makna


Jujur, saya sempat merasa frustrasi di awal. Alurnya sangat pelan, bahkan nyaris terasa tidak bergerak. Novel ini dipenuhi dengan percakapan teknis, monolog batin, serta penjabaran detil-detil kecil yang awalnya tampak tidak signifikan.


Namun, justru di situlah kekuatan tersembunyi dari karya ini.


Ketika saya tetap bertahan dan menyerap semua informasi tersebut, perlahan saya menyadari bahwa setiap detil memiliki peran. Tidak ada yang sia-sia. Dan ketika lapisan-lapisan misteri mulai dikupas satu per satu, rasanya seperti menghadapi plot twist di balik plot twist—berulang kali, tanpa jeda.


Identitas pelaku sebenarnya bukanlah sesuatu yang “muncul tiba-tiba”. Ia justru telah hadir sejak awal cerita, namun disamarkan dengan sangat cermat. Keberadaannya makin kabur seiring jalannya cerita, hingga akhirnya terlupakan. Dan ketika namanya muncul lagi di akhir, saya mengalami semacam “kejutan diam”: bukan karena tak percaya, tapi karena saya merasa tertipu dengan cara yang begitu elegan.



Karakter-Karakter yang Tak Terlupakan


Magata Shiki adalah jantung dari cerita ini. Ia adalah potret jenius yang ekstrem—seseorang yang logikanya begitu tajam hingga terkadang menyingkirkan nilai-nilai kemanusiaan. Keputusannya, caranya berpikir, dan cara ia menciptakan dunia kecilnya sendiri di dalam ruang isolasi selama 15 tahun… sungguh mencengangkan. Ia mengaburkan batas antara kebebasan dan kurungan, antara realita dan simulasi.


Saikawa adalah tokoh yang memukau dengan ketenangan dan kejernihan pikirannya. Ia tidak banyak bicara, tapi selalu memiliki sudut pandang tajam dalam memahami peristiwa.

Sementara Moe, walaupun awalnya tampak seperti gadis muda biasa yang polos dan antusias, ternyata memiliki kemampuan analisis dan daya ingat yang sangat mengesankan. Interaksi keduanya menyajikan keseimbangan antara logika dan empati, antara hitung-hitungan sistem dan perasaan manusia.


Keduanya sebagai “duo detektif” non-formal memiliki dinamika yang unik dan menyenangkan untuk diikuti. Saya bahkan merasa chemistry mereka adalah salah satu kekuatan tersendiri dari novel ini.



Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pertanyaan Filosofis


Salah satu aspek yang membuat novel ini berbeda adalah betapa seriusnya ia membawa pembaca ke ranah ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya dalam dunia pemrograman, sistem, dan realitas virtual. Beberapa penjelasan teknis mungkin akan terasa rumit jika pembaca tidak terbiasa dengan terminologi tersebut, tapi menurut saya itu justru menambah daya tarik tersendiri.


Sebagai seseorang yang pernah sedikit belajar pemrograman saat SMA, saya merasa beberapa bagian menjadi lebih “klik”. Ada rasa kepuasan tersendiri ketika bisa memahami walau hanya sebagian kecil dari kerumitan sistem yang digambarkan Saikawa dan Shiki.


Tapi bukan hanya teknologi yang dibahas. Novel ini juga membawa kita pada pertanyaan-pertanyaan eksistensial:

Apakah realitas adalah hal yang pasti?

Apakah kebebasan itu benar-benar ada, atau sekadar ilusi dalam sistem yang kita ciptakan sendiri?

Dan lebih jauh lagi, apakah kejeniusan tanpa batas akan selalu membawa kebaikan?



Kesimpulan: Sebuah Bacaan yang Menuntut, Tapi Sangat Memuaskan


Everything Becomes F bukan novel untuk pembaca yang mencari ketegangan cepat atau misteri ringan. Ia menuntut kesabaran, perhatian, dan keterbukaan berpikir. Tapi sebagai imbalannya, novel ini memberikan pengalaman membaca yang sangat memuaskan—baik dari sisi naratif, psikologis, maupun intelektual.


Ketika semua rahasia akhirnya terungkap, saya hanya bisa diam… dan melongo. Rasanya seperti baru selesai menyaksikan sebuah pertunjukan yang brilian—menegangkan, mencekam, sekaligus menakjubkan.


Jika Anda menyukai misteri dengan alur lambat namun penuh lapisan, tertarik pada tema teknologi, kecerdasan ekstrem, dan pertanyaan tentang makna hidup, maka novel ini sangat saya rekomendasikan. Ini bukan hanya cerita tentang siapa yang membunuh siapa. Ini adalah refleksi tentang bagaimana kita memahami dunia—dan sejauh mana kecerdasan manusia bisa menciptakan sekaligus menghancurkan.


Sebuah novel yang membekas. Sebuah pengalaman membaca yang tak terlupakan.







View all my reviews

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Magic Of You by Johanna Lindsey (Malory-Anderson Family #4)

Review: Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990

Menyelami Seni dalam Kejiwaan pada buku "Psikologi Seni"