Review: Romansa Opium
Romansa Opium by GigreyMy rating: 5 of 5 stars
Jangan tanyakan keadaanku sekarang,
aku baru selesai baca ini dengan bercucuran air mata alias menangis.
Kayaknya setelah aku baca novel ini sampai akhir, yang paling bikin aku kepikiran malah si karakter pendukungnya, yaitu Pieter. Kayak... dia beneran yang bikin aku nangis banyak, mungkin karena karakter dia adalah karakter yang menurutku paling setia sama tokoh utamanya, Johanne. Kalau Jayantaka x Johanne aku emang ship mereka banget. Tapi Pieter? AKU SAYANG BANGET😭🤧
Apalagi dengan fakta yang disebutkan di ending yang menurutku fakta itu sangat menarik untuk diletakkan di akhir cerita. Dampak emosionalnya benar-benar menghantamku. Aku merasa Gigrey menyadari kekuatan dari karakter ini sehinngga ia memberikan gong diakhir dengan cara begitu, Dedikasiku yapping di ending kayaknya pinginnya aku persembahkan untuk Pieter deh. Kemunculannya tuh terkesan sebaga tokoh pendukung saja, tapi dari semua tokoh yang berada disisi Johanne, Pieter adalaah yang paling setia, dan paling berani, dan paling buta karena rela mengikuti perintnah Johanne tanpa bertanya, bener-bener mengikuti secara buta gitu, Makannya aku bilang, meskipun aku suka Jayantaka, sejawk awal cerita, tokoh Pieter sudah mencuri hatiku.Aku bahkan nggak tahu apa yang dia rasakan selama ini selain apa yang dia tampilkan di hadapan Johanne maupun para pembaca cerita ini yang mungkin lebih banyak fokus ke tokoh-tokoh paling pentingnya saja.
Di awal novel ini memang terasa lambat alurnya, menurutku pribadi. Tapi 150 halaman terakhir membayar itu semua. Dalam waktu singkat, aku dibuat kagum oleh keberanian dan kejujuran Johanne, aku dibuat mixed feeling sama perasaan Jayantaka, lalu akau dibikin nangis sama kisah cinta dua manusia ini. Dan menutup buku ini dengan menangisi Pieter. Aku tahu bahwa aku gak bisa berharap banyak dengan kisah-kisah historical lokal, karena memang pada kenyataannya sejarah bangsa ini lebih banyak diisi dengan tragedi. Tokoh Johanne adalah anti hero yang membuatku merasa ingin menaruh loyalitas yang tinggi terhadap karakternya seperti halnya Pietere. Rasanya aku tbegitu erbawa arus dari keberadaannya sebaggai tokoh utama. Aku sebagai pembaca rela mengikuti kemanapun langskah Johanne, karena kemanapun itu, sebetulnya ia selalu sendiri. Dan sama halnya Pieter, aku merasakan keinginan untuk melindungi, menjaga, dan berada disisinya kemanapun ia melangkah. Dan seperti halnya Jayantaka, aku ingin Johanne merasakan kedamaian dan ketenangan sertaa menjadi dirinya senndiri untuk bisa merdeka dalam mencintai dan dicintai. 150halaman terakhir di novel ini adalah best part dari perjalanan membacaku untuk novel ini. Aku banyak menangis, aku banyak menyayangkan tragedi yang terjadi, tapi sekaligus aku bangga dengan keputusan-keputusan nyang masih bisa diambil Johanne di tengah keputusasaan, Dan aku bisa merasakan kesehdihannya yang memndalam atas segala hal yang telah direnggut dari hidupnya, serta perasaan bersalah teramat dalam yang pada akhirnya menghalanginya pada kemungkinan kehidupan yang bahagia. Meski pada akhirnya, tragedi tetaplah tragedi. Tidak ada yang benar-benar bahagia disini.
Gigrey selalu ya, berhasil dengan caranya membuatku merasa seperti ini. Buku ini sudah tamat aku baca, tetapi perasaannnya masih tertinnggal. Ingatan, momen-momennya, kalimat-kalimat di akhir cerita, masih tercetak jelas diingatan. Bahkan setiap kali aku buka bukunya lagi, kembali ke halaman-halaman yang tadi bikin aku nangis itu, aku bisa langsung nangis lagi. As always seperti yang aku rasakan setelah menmbaca surat untuk jenaka. Perasaan tidak berdaya, dan mengharapkan adanya kesempatan lain. Meskipun begitu, untuk yang ini, cerita sudah selesai. Sudah. Tamat. Dan aku harus menyembuhkan diriku sendiri untuk bisa move on.
FUNFACT aku nangisin mJohanne di novel ini di halaman 349
Johanne yang kukenal selama membaca novel ini adalah seorang yang siap menanggung dosa demi me ambisinya. Tapi waktu aku baca novel ini, semakin ke belakang, semakin mengenal Johanne aku menyadari bahwa wanita ini menjadi dingin dan kejam hanya karena itu satu-satunya cara untuk bertahan hidup. Jadi ketika ia berdiri tegak dan meunjukkan keberaniannya untuk menunjukkan jati dirinya, aku nggak nyangka aku akan terbawa seemosional itu di titik ini. Aku merasa jadi Pieter yang seolah sedang melihat tuannya sedang berhadapan dengan kehancurannya sendiri. Mungkin aku menangis karena bangga, melihat Johanne alkhrinya menemukan keinginannya.
kali ini, selain genrenya fokus di historical
karakter utama wanitanya juga mengambil pendekatan yang berbeda
sosok Johanne digambarkan sebagai wanita yang berwibawa, berkharisma, ambisius, dan tegas. Karakter yang dingin dan memiliki dendam dalam dirinya.
Aku langsung sadar gaya tulisan gigrey di novel ini terasa fresh walaupun pendekatan latarnya masih mengambil tahun-tahun Hindia Belanda.
Sedangkan Jayantaka, MMC di novel ini, adalah karakter yang juga terasa berbeda di awal kemunculannya dibandingkan MMC2 biasanya gigrey. Jayantaka digambarkan sebagai karakter yang manis, lugu, charming, tapi juga agak canggung. Tapi dia juga ramah, rendah hati, dan positif.
Kali ini tokoh utamanya adalah anti hero. Aku dibawa untuk percaya bahwa takdirnya bukanlah untuk menjadi orang baik di mata dunia melainkan untuk dirinya.
Disini karakter Johanna dan Jayantaka terasa berkebalikan. Seolah Johanna di sisi gelap dan Jayantaka di sisi terangnya.
Aku merasakan dilema moral mengikuti karakter Johanne apalagi momen2 ketika ia berhadapan dengan Paman Gus dan obrolan filsafat yang tertuang dalam percakapan mereka. Tema yang diangkat novel ini: kekuasaan tapi juga sempat ada bumbu keTuhanan
banyak obrolan-obrolan yang menyinggung filsafat dan itu menarik sih untuk diselipkan dalam novel ini. Ada juga reminder2 kecil di novel ini.
Kesan historikalnya disini sangat kuat dan cukup dominan tapi aku tetap menikmatinya karena pembawaan Johanne sendiri membuatku tertarik mengikuti dilema moralnya. Johanne percaya bahwa dirinya adalah pendosa, tapi aku justru merasa ia hanya sibuk membohongi dirinya sendiri, karena merasa sebaliknya akan menghilangkan jati dirinya. Tapi itu membuatku meliht kehidupannya menjadi penuh ironi. Karena ia hanya menyiksa dirinya sendiri karena berusaha menjadi sesuatu hanya untuk pembuktian dan bukan untuk dirinya sendiri.
Oleh karenanya, aku sangat suka momen2 dimana Johanne menemukan kedamaian saat berada di lingkungan sekeliling Jayantaka. Saat ia tidak sadar bahwa disitulah tempat yang ia inginkan hatinya berlabuh.
Dan aku ternyata sangat menyukai bagian romance di novel ini. Walaupun romancenya terasa seperti bumbu saja ya, tapi setiap kemunculannya selalu bermakna dan kedua tokohnya memiliki chemistry yang membuatku sangt menginginkan mereka menjadi pasangan. Bersama Jayantaka, Johanne yang keras bisa meluruhkan dinding2nya dan menjadi wanita yang diijinkan rapuh dan bergantung. Dan meskipun Jayantaka sekilas terlihat tidak memiliki ambisi sebesar Johanne untuk berkuasa, tapi ia ternyata sangat tulus, dan lembut. Greenflag banget! Aku sempat skeptis karena Johanne selalu terlihat lebih dominan dan maskulin dibandingkan Jayantaka, tapi semakin belakang aku bisa merasakan keberanian Jayantaka yang membuatku menghrapkannya jadi sosok yang akan menarik Johanne dari dunia gelapnya.
Jayantaka itu tipikal yang so sweet banget. Hatinya lebih kuat daripada yang aku ekspektasikan. Lebih maskulin dari yang aku bayangkan. Dia bisa menopang dan bisa menjadi sandaran. Dan akhirnya aku akhirnaya memahami kenapa dari interaksi2 kecil Jaka dan Johanne, Johanne jatuh cinta pada pria ini. Jaka diam2 mengetahui Johanne terluka dan ia cukup bisa kupercaya untuk bisa melindungi Johanne.
Disisi lain, aku sukaa sekali dengan pengalawal pribadinya Johanne, yaitu Pieter. Pengawal yang bahkan rela untuk ikut ke neraka bersama Johanne. Yang loyalitasnya benar-benar tidak dipertanyakan. Aku hanya berharap anak ini tetap hidup sampai akhir cerita.
Overall, aku suka gaya bercerita dan tulisan Gigrey disini. Walaupun tema yang diangkat membuatku cukup takut karena ini full mengambil latar historical, tapi ternyata aku masih bisa menikmatinya dan terjerat secara emosional ke dalam ceritanya. Gigrey menulis dengan sangat baik dan mengalir sekali. Meskipun alurnya terasa lambat, tapi itu memberi ruang bagi masing-masing tokohnya untuk menunjukkan peran mereka dalam cerita ini. Dan semakin ke belakang, novel ini semakin membuatku emosional dengan latar belakang Johanne, dengan perasaan Jayantaka, dengan masa depan mereka, dan tentang bagaimana cerita ini akan berakhir.
Aku suka banget sama eksekusi endingnya. Sama eksekusi tragedi di part romansanya. It's heartbreaking 😭💔. Aku ngerasa dibikin patah hati berkali2. Tapi aku puas banget, kayak. Well, memang begini lebih baik.
Aku tadinya mau kasih 4/5 karena ada bagian yang meskipun wajar, tapi terakhir soal Jayantaka itu membuatku sangat sedih dan kecewa dengan keputusannya. Tapi waktu aku tahu apa yang ia sembunyikan dari Johanne, aku langsung nangis😭. Oh ternyata sebenernya gitu😭🤧🤧😭. Aku jadi paham.
Sedangkan bagian Pieter. Kenapa ternyata dugaanku benar tentang dia? KAN AKU GA TEGA😭🤧 Meskipun begitu, aku memahami kenapa dia selalu mengikuti buta perintah-perintah Johanne. Dia lucu, menggemaskan, kayak seorang adik, TAPI DISITULAH YANG PALING BIKIN AKU SEDIH HUHU AH SEDIH BGT AH😭😭😭.
View all my reviews
Komentar
Posting Komentar
Regulation to fill the comment box:
>> Don't use Anynomous
>> Use your google account or just your link/ URL. The main point is, always put your name here :)
>> Cannot receive any spam comment such as comment that it's not relevant with my topic
>> When your comment does not appear, it because I haven't approve that or I haven't read that. So just wait until I read that, please understand :)
Thank you
-------------------------------------||-------------------------------------
Syarat menambahkan komentar:
>> Jangan berkomentar dengan menggunakan Anynomous
>> Gunakan account google kamu atau jika tidak gunakan URL, yang penting ada nama kalian.. :)
>> Tidak menerima komentar berisi spam..
>> Apabila komentar tidak muncul, berarti komentar kalian belum di moderasi. Jadi tolong mengerti ya.. :)
terimakasih