Selepas Hujan Kemarin

Novel ini bercerita tentang Launa yang ditemukan hamil dalam kondisi koma. Hal tersebut membuat Karang, sang suami, sangat shock dan kaget. Siapa yang berani melakukan hal sebejat itu pada seseorang yang sedang tidak sadarkan diri?


Aku nggak tahu buku sebelumnya, karena aku baca langsung ke buku ketiga. Tapi itu pun dari awal sudah terasa sakitnya. Kayak setiap halaman seperti bilah pisau yang mengiris-iris hati. 


Karang yang seorang dokter dan sibuk, mengabdikan dirinya untuk merawat sang Istri tanpa bantuan siapapun. Di sisi lain, ia harus berhadapan dengan kondisinya sendiri yang jauh dari kata normal, dan ia masih harus menghadapi kenyataan bahwa dalam tubuh istrinya yang sedang sekarat itu tumbuh janin bayi.


Aku rasa, dari apa yang aku baca disini sampai 140 halaman saja, sudah bisa dan cukup menunjukkan betapa kehidupan Karang dan Launa selalu dijauhkan dari kata bahagia. Entah apa yang menimpa keduanya di buku-buku sebelumnya. Mereka bisa sampai titik menikah, tapi harus dihadapkan pada kondisi sang istri yang kemudian sekarat itu juga bukan merupakan hal mudah.


Sebagai bukan pecinta angst, dikasih buku ini langsung meluluh lantahkan pertahananku. Penulisnya sangat piawai dalam bercerita, narasinya sangat mudah dan nyaman diikuti, sehingga mau ditahan seperti apapun, rasanya sulit untuk tidak menangis menghadapi konflik menyakitkan yang terjadi di buku ini.


Sebagai pembaca, bolehkah aku mengharapkan akhir yang bahagia dalam cerita ini?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Magic Of You by Johanna Lindsey (Malory-Anderson Family #4)

Review: Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990

Menyelami Seni dalam Kejiwaan pada buku "Psikologi Seni"