ARTHEA

Arthea | Dekdi A | Fantasy, Romance | 5/5🌟 (personal rate)


Blurb: cek slide ke-2

Pembelian: link bio no.18


✨✨✨


Waktu aku memulai membaca buku ini, aku agak sanksi kalau buku ini akan membuat aku mampu move on dari novel sebelumnya yang aku baca, yang bener-bener berkesan parah banget buat aku hehe. Tapi emang, proses moveon bacaan itu perlu kesabaran dan adaptasi karena kalau sudah berhasil melewati bagian tersebut, jadi mudah sekali untuk kembali terhanyut ke dalam pengalaman membaca di buku  yang baru.


Dan itu terjadi padaku saat membaca novel Arthea ini.


Ketika aku berkenalan pada karakter Arthea, aku langsung begitu saja tertarik dengan karakternya. Arthea adalah seorang dewi yang memiliki kecantikan luar biasa, layaknya dewi-dewi yang dikenal oleh manusia. Pada dasarnya wajar kalau secara fisik Arthea tidak akan memiliki kekurangan. Tapi kecantikan tersebut memang tidak mampu menutupi karakter bebas dalam dirinya. Seorang dewi yang tidak peduli aturan, bertingkah seenaknya, selalu berulah, sampai dititik ia membuat dosa besar yang membawanya dihukum di bumi oleh sang pencipta. Menjadi monster laut selama 1000 tahun. Kesempurnaannya begitu saja berganti dengan sosok mengerikan penghuni laut. Bahkan saat ia selesai dengan hukumannya, Arthea tidak bisa begitu saja kembali menjadi dewi, karena napas dewi (semacam jiwa dewi yang membuat dia diakui sebagai dewi) hilang! Dan demi mendapatkan kembali napas dewinya, Arthea terpaksa memasuki tubuh seoranng gadis yang memiliki penampilan di bawah kecantikan rata-rata bangsawan. Tentu saja, sebagai seorang yang selalu dipuja atas kecantikannya, penampilan baru Arthea sangat menyenggol egonya. Tapi karena berfikir hal ini akan berakhir setelah ia menemukan napas dewinya, Arthea menerima tubuh apapun yang mampu menerima jiwanya yang tidak memiliki "napas dewi". Sayangnya, Arthea justru mendapati bahwa napas dewinya tidak bisa diambil saat berhasil ditemukan dan hidupnya bergantung pada Jenov, seorang Duke yang memiliki napas dewi Arthea!


Seperti biasa, dibandingkan cerita, tokoh, dan sebagainya, aku bisa mempercayakan pada  penulis bahwa aku akan menyukai novel ini. 2 novel yang aku baca dari penulis ini membuatku jatuh cinta, dan entah kenapa aku tahu di novel ini pun aku akan jatuh cinta lagi dengan tulisan Dekdi A. So, tanpa mencoba menebak terlalu banyak tentang novel ini, aku mengikuti begitu saja kemana cerita ini mengalir.


*Karakter*

Tentu saja Arthea adalah yang pertama paling kusukai. Bersama pelayannya, Apelho, Arthea berhasil bersabar menerima hukumannya selama 1000 tahun, itu saja membuatku kagum dengan sosok ini. Yah, meskipun hukuman tersebut Arthea dapatkan karena ulahnya sendiri yang pernah mengacaukan alam hanya karena cinta. Tapi itu saja bisa menunjukkan seberapa tangguh, kuat, dan berani wanita ini. Bahkan dalam balutan sosok manusia yang sebelumnya digambarkan lemah dan mudah dimanfaatkan, Arthea tidak bisa menyembunyikan karakternya yang sangat dominan tersebut, yang sangat bertentangan dengan gambaran wanita anggun di tahun dimana ia tinggal yang sangat patriarki sekali. Apalagi saat Arthea ngamuk, beuh, dibabat abis sama Thea sekalipun ia dalam tubuh manusia.


Kemudian ada Apelho dimana ia adalah karakter pendukung yang paling aku sukai selama membaca cerita ini. Loyalitasnya dia sebagai pelayan dewi barbar sangat patut diacungi jempol. Meskipun ia harus melayani dewanya dengan penuh omelan, tapi rasa sayang dari Apelho tidak perlu dipertanyakan lagi.


Sedangkan Jenov, adalah ML yang juga akhirnya berhasil merebut hatiku setelah  menunjukkan sisi-sisi yang membuatku memhami setiap tindak tanduknya. Tapi Jenov di ending? Saat plot twist? Itu adalah bagian terfavoritku tentang karakter sesungguhnya Jenov. Sejujurnya aku penasaran dengan Jenov versi satunya hehe. Karena di novel ini hanya diperlihatkan Arthea versi dewi barbar dan manusia barbar (dan seru banget liat Arthea ngamuk wkwkk), sedangkan Jenov memang ditunjukkan sepanjang cerita sebagai seorang Duke yang menderita sepanjang hidupnya.


Secara karakter, Dekdi A mampu menggambarkan Arthea dan Jenov dengan sangat matang. Setiap karakter, kenapa tokoh ini berbuat A, bersikap B, dsb benar-benar memiliki sebab akibat sehingga tokohnya terasa sangat bulat sekali. Sempurna dan tidak sempurna adalah tipe karakter favoritku, dan  ini ada di pemeran utama cerita ini.


*Alur dan Cerita*

Alur di novel ini sih, terfavorit banget! Peletakan plot twist di akhir cerita, sempat membuatku terhenti dan mencerna secara perlahan, karena aku suka banget sama plot twistnya! Seru banget untuk ukuran aku. Meskipun banyak yang bilang kalau bagian akhir terasa terlalu cepata dan terburu-buru, tapi untuk aku pribadi justru novel ini diakhiri dengan sangat berkesan.


Abis baca jadi kangen lagi, karena penasaran apakah Arthea akan berhasil menjalankan misinya yang ia sebuthkan di akhir cerita? Dan tentu saja aku pingin lihat Jenov versi itu kayaknya bakal seru banget gak sihhh (yang udah baca pasti tahu maksudku).


Apalagi ternyata di akhir aku menyadari bahwa selama membaca novel ini aku ternyata membaca menggunakan POV 'seseorang' (dan kesadaran ini membuat aku sangat senang karena seru banget!) 


Secara alur cerita dan overall cerita iatu sendiri, dalam 300 halaman Dekdi A mampu menunjukkan keunggulan cerita ini, mulai dari karakter hingga alur ceritanya. Bagiku, novel ini memiliki porsi yang pas. Tidak perlu bertele-tele, tapi sebab akibat yang dibutuhkan dalam cerita juga tersampaikan. Sehingga di akhir cerita aku merasa puas dan senang sekali.


Ini adalah Novel Dekdi A ketiga yang aku baca, dan tiga-tiganya ini aku rate 5/5 hahaha bayangkan betapa aku sudah bucin dengan tulisan romantasy penulis ini!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Magic Of You by Johanna Lindsey (Malory-Anderson Family #4)

Review: Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990

Menyelami Seni dalam Kejiwaan pada buku "Psikologi Seni"