Bahu Anak Pertama
Aku terharu banget waktu baca novel ini. Bahas anak pertama.
Ini adalah kisah keluarga yang ringan, tapi menurutku cukup realistis. Novel ini memperlihatkan bagaimana strugglenya anak pertama setelah lulus kuliah, dan bagaimana sebuah keluarga bisa menjadi hancur berantakan karena masalah yang sebenarnya mainstream: finansial.
Dibandingkan sama orang lain itu rasanya tidak enak banget, apalagi kalau yang melakukannya adalah orang tua kita sendiri.
Kalau ngomongin hubungan keluarga, aku tuh paling gampang nangis justru kalau diperlihatkan bagaimana saudara itu saling menyayangi dan melindungi. Rasanya makin mereka terlihat saling sayang, makin nyesek juga ke hati.
Dan itu yang aku dapatkan di novel ini. Hubungan antara Danan, Iyan, dan Uan, serta dinamika persaudaraan mereka, sering kali membuatku ikut terhanyut dan terharu.
Aku tuh paling tidak bisa baca cerita tentang brotherhood. Banyak bagian di novel ini yang sedikit-sedikit bikin aku nyesek dan ingin nangis, karena aku bisa melihat kasih sayang yang terpancar dari persaudaraan antara Danan, Iyan, dan Uan.
Aku bahkan baca momen kakak beradik saling minta maaf saja rasanya sudah ingin nangis.
Kadang batas antara mendukung dan menghakimi itu bisa terasa sangat tipis. Maksudnya ingin memberi dukungan dan motivasi dengan kata-kata yang “menampar”, tapi malah jadi bumerang yang bikin seseorang makin rendah diri dan merasa tidak bernilai.
Itulah yang dialami oleh Danan dalam novel ini.
Bukan cuma dia sering dibandingkan dengan anak-anak lain karena tidak kunjung mendapatkan pekerjaan, Danan juga adalah anak pertama. Dia harus jadi contoh yang baik untuk adik-adiknya, tapi sekaligus menanggung beban ekspektasi dari kedua orang tuanya.
Dan tahu apa yang tidak kalah bikin novel ini lebih sedih dan nyesek?
Masalah finansial.
Keluarga seharmonis apa pun, kalau sudah dihadapkan pada masalah finansial, bisa menunjukkan sisi-sisi terburuk sebagai manusia. Dan itu juga yang akan kamu temui di novel ini.
Konflik internalnya terasa sangat relate, terutama untuk anak pertama yang sedang struggle.
Di novel ini kamu akan bertemu dengan:
Orang tua yang menuntut masa depanmu
Sandwich generation
Masalah finansial yang menghancurkan keluarga
Sebenarnya aku tahu kalau keluarga ini saling menyayangi, peduli, dan ingin mengusahakan satu sama lain kalau dilihat dari POV masing-masing. Tapi komunikasinya benar-benar buruk. Setiap yang diomongkan malah jadi bumerang yang membuat hubungan mereka semakin terpisah. Ditambah lagi dengan gengsi masing-masing anggota keluarga, jadi semakin sulit untuk berbicara dengan baik.
Narasi di novel ini ditulis dengan rapi, runtut, dan semuanya terjelaskan dengan baik. Ceritanya tidak lompat-lompat, sebab akibatnya jelas. Terlihat bagaimana keluarga ini awalnya terasa toxic, sampai akhirnya mereka harus belajar dari sebuah kejadian yang hampir menghancurkan segalanya.
Turning point-nya jelas dan menurutku diselesaikan dengan baik sampai ending. Aku bisa merasakan kehangatan yang akhirnya dihadirkan setelah semua konflik yang terjadi.
Komentar
Posting Komentar
Regulation to fill the comment box:
>> Don't use Anynomous
>> Use your google account or just your link/ URL. The main point is, always put your name here :)
>> Cannot receive any spam comment such as comment that it's not relevant with my topic
>> When your comment does not appear, it because I haven't approve that or I haven't read that. So just wait until I read that, please understand :)
Thank you
-------------------------------------||-------------------------------------
Syarat menambahkan komentar:
>> Jangan berkomentar dengan menggunakan Anynomous
>> Gunakan account google kamu atau jika tidak gunakan URL, yang penting ada nama kalian.. :)
>> Tidak menerima komentar berisi spam..
>> Apabila komentar tidak muncul, berarti komentar kalian belum di moderasi. Jadi tolong mengerti ya.. :)
terimakasih