Seharusnya Kau Biarkan Aku Mati



3/5

novel ini membawa premis yang cukup menarik, awalnya

mengulang waktu, sebuah kesempatan hidup yang baru.


Tokoh utama di novel ini mengakhiri hidupnya, karena dirasa segala yangg telah dia perjuangkan selama ini sia-sia. Tapi semesta memberikannya satu kesempatan untuk hidup. Dan ia mengulang hidupnya sudah dalam kondisi dipenuhi dengan berbagai macam penyesalan.


Dan dengan kembalinya ia di masa lalu, ia pun mulai memutuskan untuk membayar rasa sesalnya dengana melakukan 'hal yang benar' agar tidak ternjadi penyesalan lagi.


Tapi, aku ngerasa ini lebih kepada tutorial berekedok novel.


Aku memahaami bahwa novel ini ingin memberikan value ilmu melalui ceritanya, tapi dibandingkan terasa sebagai sebuah cerita. Sebagian beesar novel ini terasa terlalu dragging membahas bagaimana membentuk bisnis yang sukses, yang mana tidak semua orang akan tertarik untuk mengetahuinya. Aku memhaami bahwa cerita yang bisa amembuat kita beelajar itu bagus, tapi entah kenapa akau tidak mendapatkan keinginan belajar itu ketika membaca anovelnya. Rasanya sepertii dipaksa 'memakan' ilmu-ilmunya. Kayak ditumpahin gitu aja adengan kedok dialog dan narasi yangg bagus sehingga rasanya seperti sebuah cerita, padahal menurutku eksekusi yang lebih tepat seharusnya akn membuatnya terasa lebih 'bercerita'; dibanding terasa seperti tutorial dalam kemasan novel.


Nilai pluusnya, untuk yang memang into bisnis dan tidak terlalu terganggu bagaimana keterhubungan antara judul-premis-sinopsis dan fokus cerita itu krusial (yang mana untukku pribadi sangat penting), mungkin bisa menikmatinya dan fokus untuk 'belaljar' saat membaca novel ini.


Meskipun begitu, ada kok faktor-faktor lain yang tetap ditunjukkan dalam cerita ini, seperti halnya bagaimana hubungannya dengan partner bisnisnya, dgn kehampaan yang ia rasakan dalam dirinya, dan saat ia berteemu dengan istrrinya di masa lalu. Dia melakukan banyak hal demi meminimalisir kesalahan nfatal di masa depan yaang membuat hidupnya terasa hancur. Jadi ya fokus ceritanya terasa seperti step by step mengurangi penyesalan.


Untukku pribadi esensi kembali ke masa lalu hanya sekedar untuk 'memperbaiki' terasa kurang deep. Fantasinya magical realsimnya kurang diolah, seehingga terasa datar saja untukku ya. Mungkin kalau pembacanya bukan yang tipikal suka banget sama fantasi kayak aku nggak akan terlalu memusingkannya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Magic Of You by Johanna Lindsey (Malory-Anderson Family #4)

Review: Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990

Menyelami Seni dalam Kejiwaan pada buku "Psikologi Seni"