To Love Once Again
To Love Once Again | |
Personal Rate: 4,8/5⭐️
(sinopsis cek slide ke-2)
#alzabukripiuw
✨✨✨
Membaca novel ini bagiku sekaligus pengobat rindu pada tulisan unik Leefe.
Dan novel kali ini adalah tentang bagaimana manusia beradaptasi dengan tempat baru saat luka lama masih belum sembuh.
First of all, aku suka banget sih sama Romcom-nya!
Komedinya tuh ngomedi banget wkwk. Sangat seru untuk diikuti dan berhasil bikin aku banyak tertawa. Sangat komikal, tipikal sitcom, dan bikin aku mudah membayangkan situasinya. Betah banget pokoknya ngikutin suara batinnya Fathan yang serba asbun dan celetukannya yang drama.
Dan novel ini sendiri kan memang didominasi suara Fathan menggunakan POV orang ketiga ya, jadi aku sebagai pembaca sangat merasa dibawa untuk masuk ke karakternya, merasakan emosi, trauma, serta ketakutannya. Efek komedinya pun aku rasa memang lebih bersumber dari karakter Fathan sendiri yang memang lucu ditambah situasi yang mendukungnya mengeluarkan sisi tak terduga yang selama ini tertutup gengsi. Tapi menurutku, sosok Fathan yang sebenarnya ini muncul juga karena diseimbangkan dengan apik oleh kehadiran Aicha.
Meskipun Fathan adalah sosok yang terbiasa menertawakan dunia dan kehidupannya, tapi sebenarnya itu adalah cara untuk menutupi kerapuhannya yang bersumber dari trauma terkait Bapaknya. Di sisi lain, aku suka sisi Fathan yang berani menentang ketidakadilan. Dia orang kaya yang tidak dibutakan harta.
Sedangkan tokoh utama wanita dari novel ini yaitu Aicha, adalah tokoh yang awalnya aku gak terlalu berekspektasi gimana-gimana selain menganggapnya tokoh polos karena setting-an desanya. Aku pikir bakal ada kesenjangan antara Aicha yang orang desa dengan Fathan yang orang kota, tapi siapa sangka, karakter Aicha dibangun cukup unik juga. Lumayan di luar ekspektasi dengan sikapnya yang meskipun "dari desa", Aicha ternyata tidak selugu itu. Ia hanya perlu belajar dan Fathan memberikannya fasilitas untuk berkembang menjadi pribadi yang semakin menarik. Ada saja tingkahnya yang bikin jantung Fathan ketar-ketir dan itu sangat menggemaskana wkwk. Untukku sendiri Aicha adalah karakter yang menurutku cerdas, dewasa, dan memiliki prinsip yang sering kali membuat Fathan "ketar-ketir".
Aku suka sih sama perkembangan karakternya Aicha. Ada momen yang bikin aku bangga karena ia bisa membuktikan bahwa meski ia mencintai Fathan, ia lebih mencintai dirinya padahal ia sendiri adalah sosok yang terbiasa untuk berhadapan dengan insecuurity-nya yang sangat beralasan.
Tapi memang aku lumayan banyak memperhatikan karakter-karakterneya ya karena memang aku seseuka itu. Penulis menunjukkannya melalui interaksi dan respon situasi. Termasuk Aicha yang menunjukkan kedewasaan, yang seringkali membuat Fathan lupa akan niatnya menganggap Aicha sebagai "adik" (ya lagian nggak ada yang nyuruh kamu anggap adik juga sih, Fat). Jujur, ada banyak momen dimana aku pingin banget ngeledekin Fathan karena denial-nya nggak ketulungan. Dia bersembunyi di balik kedok bucin Gladys dan menolak move on, padahal hatinya jelas-jelas terbuka pada orang baru.
Selain karakter, ternyata aku juga memiliki kesan khusus sama desa Wanakerti yang bagiku desa ini tuh bukan sekedar latar cerita. Penulis memberikan detail yang cukup mendalam mengenai kritik sosial, birokrasi, dan buruknya fasilitas publik.
Kemudian atmosfer desanya itu bikin aku tanpa sadar memiliki keterikatan emosional yang kuat antara aku sebagai pembaca dengan desanya Awalnya, aku merasa pembahasan mengenai dinamika desa dan infrastrukturnya terasa banyakkk banget. Namun, ternyata hal-hal ini bikin aku merasa seperti ikut beradaptasi di sana. Meskipun dalam cerita tokohnya hanya tinggal beberapa bulan di desa itu, efek immersive tulisannya membuatku merasa sudah menjadi warga Wanakerti.
Menariknya, unsur romance-nya dibuat berdampingan dengan konflik desa itu, jadi rasanya lebih ke perkembangan yang tenang dan mengalir. Karena fokus terbagi, ritme bacanya mungkin terasa sedikit lebih lambat, tapi tetap seru diikuti karena bumbu komedinya sukses bikin suasananya selalu terasa hidup.
Memasuki paruh akhir, aku merasa diajak melakukan manuver yang cukup ekstrem. Aku seolah ditarik paksa dari kenyamanan rom-com menuju sebuah drama yang menyayat hati. Aku merasa dipaksa melihat bahwa di balik setiap tawa, ada trauma yang sangat dalam dan "bom waktu" yang siap meledak kapan saja. Konflik di akhir ini rasanya dar der dor sekali. Ada rasa gemas dan sesak melihat bagaimana sebuah komunikasi bisa menjadi tidak berguna dan sulit ketika ego dan luka masa lalu mengambil alih. Namun, di balik rasa lelah itu, ada pesan yang aku tangkap bahwa untuk sampai pada pemahaman yang sejati, kita memang harus bersabar dan bertahan melewati rasa sakit. Dan aku diajak untuk ikut merasakan beratnya perjuangan para tokoh disini yang berusaha untuk saling mengerti.
Aku sempat mewek sih di bagian klimaks ke ending hehehe. Ada bagian dimana aku memahami ooh jika tidak dihancurkan sedalam itu, mungkin kita tidak akan pernah memahami betapa berharganya proses pengampunan dan penerimaan yang ingin disampaikan oleh cerita ini.
Secara keseluruhan, ini novel yang ngajak aku banget untuk masuk ke dalam ceritanya. Novel ini memberikan banyak pelajaran tentang penerimaan diri, melepaskan dendam, dan pentingnya mendengarkan. Karakter Fathan konsisten meskipun dia sempet bikin aku agak geram karena kesabarannya setipis tisu dan mudah menyimpulkan, tapi aku juga paham bahwa lukanya begitu besar sehingga dia sulit melihat kebenaran. Di novel ini aku merasa diajak tertawa, merasa menjadi warga desa yang penuh dinamika, dan tapi juga diajak mewek. Sebuah cerita yang membuktikan bahwa pemulihan tidak pernah instan, dan "jalan" menuju masa depan seringkali harus dibangun di atas puing-puing masa lalu.
Yang paling bikin aku ingat waktu habis baca novel ini adalah novel ini udah bikin aku banyak ketawanya, bener-bener healing banget! Kayaknya tuh bener-bener jadi penghilang penat banget deh, vibes-nya dapet banget.
Aku seneng banget sih bisa baca novel ini, karena selain bikin ketawa, momen-momen 'baper'-nya itu juga dapet. Gaya tulisan Leefe, seperti biasa, masih jadi favoritku. Tapi apa ya... di akhir cerita aku justru mengharapkan lebih banyak momen konflik antara Fathan dan Aicha, karena momen mereka berkonflik tuh aku hitung-hitung sebenarnya enggak sebanyak itu kalau dibandingkan dengan konflik sosialnya.
Selain itu, novel ini juga ngasih banyak pembelajaran tentang adaptasi, penerimaan diri, dan tentang bagaimana kita menghadapi orang lain tanpa merendahkan diri sendiri. Yang pasti, aku sangat menikmati novel ini; bener-bener pengobat rindu untuk tulisan Leefe. Mungkin nanti aku bakal kembali ke sini lagi kalau kangen sama komedi-komedinya.

Komentar
Posting Komentar
Regulation to fill the comment box:
>> Don't use Anynomous
>> Use your google account or just your link/ URL. The main point is, always put your name here :)
>> Cannot receive any spam comment such as comment that it's not relevant with my topic
>> When your comment does not appear, it because I haven't approve that or I haven't read that. So just wait until I read that, please understand :)
Thank you
-------------------------------------||-------------------------------------
Syarat menambahkan komentar:
>> Jangan berkomentar dengan menggunakan Anynomous
>> Gunakan account google kamu atau jika tidak gunakan URL, yang penting ada nama kalian.. :)
>> Tidak menerima komentar berisi spam..
>> Apabila komentar tidak muncul, berarti komentar kalian belum di moderasi. Jadi tolong mengerti ya.. :)
terimakasih