Review: Langit Mengambil
Langit Mengambil by Ika NatassaMy rating: 4 of 5 stars
Angst, Romance, Criminal
Baca ini kayak jalan sambil nginjak duri. Setiap langkah yang diambil. Sakit.
yang bikin aku nangis baca novel ini, bukan karena tragedinya
tapi karena Tara dan Raka sama-sama yak tahu cara untuk menghadapi tragedi yang menimpa keduanya ketika di satu sisi mereka masih saling mencintai.
Spoiler
pasangan suami istri, tara dan raka
sama2 menunggu kehadiran seorang anak
tapi tara sbg jurnalis kena musibah. Dia dianiaya, diperkosa dengan sadisnya, perutnya robek, dan naasnya, rahimnya harus diangkat.
Mimpi mereka utk punya anak dan menjadi orang tua, kandas.
reading update 1
ini kalau gak berat itu bukan romancenya kak Ika Natassa
47 halaman untuk aku paham seberat apa cerita ini.
Setragedi dan sesedih apa hidup Tara si tokoh utama.
Sedih, aku sebel, gak kuat lihat tokoh2nya.
Topik yang dianngkat di novel ini ya, kalau boleh jujur adalah topik yang sanagat aku hindarkan. Trauma Tara itu yang bikin aku sedih banget bacanya bukan cuma dari sudut pandang Tara, tapi juga dari POV suaminya yang melihat orang yang dicintainya berubah menjadi sosok yang lain sedangkan dia tidak bisa berbuat apa-apa, hopeless, tapi selama masaih diusahakan dia melakukannya.
reading update 2
novel ini menggambarkan bagaimana kedua tokoh yang saling mencintai, berusaha untuk memendam luka dan tidak berani jujur sama sekalali. Rasanya seperti sedang menunggu bom yang meledak dari keduanya.
Spoiler:
Raka sangat mencintai Tara. Tapi karena mencintai Tara, dia ingin memberi sebanyak-banyaknya waktu untuk Tara menenangkan diri. Tapi Tara menjadi terlalu berbeda. Ia menjadi sangat 'normal' dan 'cerita' yang itu justru menunjukkan bahwa dia tidak normal. Trauma yang dia hadapi terlalu gelap untuk bisa seemudah itu dihadapi. Dan Tara memang hanya menggunakan topengnya, bahkan di hadapan suaminya. Raka ingiin Tara menangis, Raka ingin ia memnjadi sandaran. Bagaimanapun, Raka sangat mencintai Tara dan itu membuatnya hanya menginginkan Tara jujur di hadapaannya. Raka tidak mempedulikan yang lainnya. Sayangnya Tara, dia sudah mengangggap terlalu tidak pantas untuk Raka.
reading update 3
Jadi Tara beratttt banget, sakit, traumatic
Tapi as Raka sebagai suaminya, aku lihat perspektif dia juga gak kalah sedih. Jadi diia juga gak kalah sakit. Dia udah siap untuk menanggung rasa sakit Tara bersamanya, tapi Tara bahkan tidak bersedia untuk berbagi apapun.
reading update 4
novel ini rasanya memberi gambaran secara frontal dan tajam mengenai bagaimana cinta yang begitu besar tidak cukup untuk menyembuhkan luka ketika salah satu di antara pasanngan tersebut tidak bersedia untuk disembuhkan. Bagaimana dua orang yang saling mencintai bisa menjadi asing karena salah satunya tidak memberikan ruang untuk berbagi luka dengan pasangannya.
Ketika pasangan tidak bisa saling menyembuhkan, maka cinta itu sendiri tidak cukup. Seseorang bisa saja mencari cara penyembuhan yang lain.
Ketika seseorang tidak mampu untuk memberikan dana menerima cinta, maka pasangan menjadi tidak avalaible satu sama lain.
Secara pribadi, aku menyayangkan kurangnya kejujuran atas perasaan serta komunikasi di antara Raka dan Tara. Tapi disisi lain, aku memahami seberapa besar luka dan trauma yang harus dihadapi Tara. Aku tidak bisa menjudgenya agar bisa terbuka ketika luka yang ia hadapi sebesar itu. Aku tidak beraada di posisinya, dan setiap orang memiliki coping mechanismnya sendiri2. Dan meskipun sebagai pembaca aku merasa kesal dengan sikap mereka berdua pada akhirnya (yaitu Tara dan Raka), tapi teori memang tidak berguna ketika seseorang sedang menghadapi luka dan trauma sebesar itu. Mau kita suruh mereka ABCD juga kalau mereka sedang tidak emotional avalaible untuk menerima cara orang lain dan memang tidak mau disembuhkan, maka orang lain juga tidak bisa melakukan apapun untuk membantunya.
Jujur novel ini adalah jenis novel yang gak bisa ditelan mentah-mentah. Saat seseorang memutuskan sesuatu, melakukan pelarian dengan cara mereka masing-masing, semua harus dilihat dari gambaran besar tenatng apa motivasi yang menyertai apa yang mereka lakukan itu. Karena kalau kita asal telan, makaa kita hanya bisa menjelek2an tokoh2nya tanpa memmahami apa yang sebenarnya sedang terjadi pada mereka. Dan sayangnya, kenyataan yang serin terjadi, memang seperti itu. Cinta bisa hilang. Dua orang yang awalnya saling icnta bisa menejadi asing.
(spoiler: meskipun raka tahu tara sedang dalam kondisi emotional unstable dan trauma, tapi Raka adalah pasnagannya. Ketika dia tidak diberi ruang untuk bisa menerima luka yang Tarar tanggung, dia akan ikut terluka. Dia tidak bisa memberi cinta, t idak bisa menerima cinta, maka Raka bisa jadi mencari pelarian ke orang lain. Dan itu terjadi ketika Raka mulai menghubungi wanita lain, yaitu Luna.)
Baca ini udah gak kehitung berapa kali aku menghela nafasa. Kayak, hati tuh nyeseke banget tapi gak dikasih ruang untuk bernafas. Setiap halaman bukannya ada harapan, malah terasa harapan-harapan itu semakin menghilang.
Tara dan Raka semakin asing. Tara dan Raka semakin lelah. Tara dan Raka semakin menyerah dengan hubungan mereka. Mereka tidak lagi jatuh cinta sama lain. Langkah mereka semakin berlawanan.
Tipikal novel yang di awal di kasih manis-manis dulu, tapi disiksa sampe ending wkwkwk. Romance yang isinya penderitaan ndan sad story. Tokohnya berjuang untuk melangkah, tapi setiap langkah terasa sakit dan rasanya ingin menyerah.
Novel ini bukan sekedar tentang kepercayaan, bukan sekedar tentang penghianatan. Tapi iini tentang bagaimana memperhatahankan hubungan pernikahan memang sesulit itu. Sesulit bahwa perasaan mencintai itu saja trnyata kadang kala tidak cukup ketika hati terasa lelah dan jiwa terasa letih untuk satu sama lain.
Pasangan yang saling mencintai tapi mereka menjalani kehidupannya dengan sandiwara hanya karena tidak ingin menjadi salin gjujur atas luka yang masing-masing ditanggung.
ending
aku udah selesai baca. dan aku sedih ini.
overall novel ini tidak menawarkan penyelesaian terhadap duka, terehadap trauma. Novel ini menawarkan nsebuah proses. Proses yang tidak pernah mudah, proses yang menyakitkan, proses yang berantakan. Bahkan untuk sampai ke titik siap saja butuh satu novel ini. Dan proses menyakitkan ini tidak bisa ditampung oleh satu buku. Menurutku Ika Natassa menunjukkan itu melalui tulisannya. Sebuah kenyataan pahit bahwa luka dan duka membutuhkan proses yang tidak akan pernah instan.
aku rasa ini bukan tipe buku yang sekarang ini menjadi pilihan yang aku baca
terlalu sedih, sakit, dan menyesakkan. Terlalu nyata. Jika aku mencari sebuah hiburan, maupun pelarian, buku ini mungkin bukan yang akan aku pilih. Karena buku ini adalah sebuah tamparan akan tragedi. Tapi kalau kamu mencari buku yang di dalamnya terkandung banyak sekali pelajaran hidup yang bisa dipetik dari hadirnya sebuah tragedi, yang tidak meringankan prosesnya, yang grounded, terasa nyata. Maka kamu bisa baca novel ini.
What if
Aku rasa aku meang kurang cocok yang alur majunya tapi ceritanya kayak gini.
Somehow aku lebih suka yang kayak gini dikemas dalam alur maju mundur atau alur flashback. Misalkan novel ini bercerita tentang 5 tahun setelah tragedi ini terjadi dan ternyata keduanya masih belum ada closure. Aku tidak perlu ada di posisi present moment berhadapan dengan saat tragedi itu terjadi atau bagaimana mereka terus berusaha memperbaiki hubungan tapi gagall karena tidak ada kejujuran,. Dan mmungkin saja pernikahan mereka jadi hancur berantakan, berpisah. Tapi aku tidaka perlu tersiksa membaca proses yang seperti itu. Andaikan cerita ini diceritaka dalam kondisi dari 5 tahun setelah itu dan fokus pada mengembalikan hubungan mereka. Aku rasa, pengemasan dan eksekusi seperti itu akan lebih bisa aku terima. Secara subjektif sih dan ini cucma masalah selera. Dan lebih kepada, kalau aku bisa memilih.Atau, ini kan ceritanya Tara dan Raka tuh karena tragedi mereka jadi sering pura2 jadi pasangan suami istri yang harmonis dan mesra ya, tapi padahal aslinya hubungan mereka hancur berantakan. Maybe aku akan lebih cocok kalau penceritaannya tuh semacam dari 3 tahun berikutnya, dimanan mereka masih melakukan hal tersebut, tapi sebagai pembaca tentang tragedi apa yang sebenarnya terjadi itu dibuata misteri. Kayaknya aku bakal lebih puas dan suka sih. KLarena apa ya, kalau alur maju gini nih karyaknya buat aku jadi tetrasa terlalu nyata dan present moment. AKu bener-bener bacanya gak dapet keserruan, cuma nysek dan ikut sakit aja.
View all my reviews
Komentar
Posting Komentar
Regulation to fill the comment box:
>> Don't use Anynomous
>> Use your google account or just your link/ URL. The main point is, always put your name here :)
>> Cannot receive any spam comment such as comment that it's not relevant with my topic
>> When your comment does not appear, it because I haven't approve that or I haven't read that. So just wait until I read that, please understand :)
Thank you
-------------------------------------||-------------------------------------
Syarat menambahkan komentar:
>> Jangan berkomentar dengan menggunakan Anynomous
>> Gunakan account google kamu atau jika tidak gunakan URL, yang penting ada nama kalian.. :)
>> Tidak menerima komentar berisi spam..
>> Apabila komentar tidak muncul, berarti komentar kalian belum di moderasi. Jadi tolong mengerti ya.. :)
terimakasih