reading update DREAMGAZE



reading update 1

hlm 1-100

sejauh ini kalau aku suruh rate, masih di 3/5

ceritanya masih biasa aja sejau ini


Tentang Kiona yang saat ini sudah sukses sebagai seorang penulis novel, dimana novel yang ia tulis adalah bentuk kenangan atas masa SMA-nya yang diisi oleh Abim. Tapi orang tersebut, Abim, hanyalah kenangan belaka baginya, seseorang yang selama 7 tahun terakhir ini mustahil untuk bisa bertemu lagi dengan Kiona. Tapi tiba-tiba, setelah tidak ada kabar selama ini, Kiona menerima paket yang di dalamnya berisi novell dia yang sudah lusuh karena dibaca berkali-kali, sebuah album yang ternyata berisi lagu-lagu yang semua tentang Kiona. Dan surat yang berisi bahwa Abim tidak pernah melupakan Kiona.


Habis itu cerita flashback ke 7 tahun sebelumnya

ketika Kiona dan Abim pertama kenalan. Dimana Kiona adalah anak baru di sekolah Abim. Kedekatan yang dimulai dari klub mading, obrolan tentang kesukaan masing-masing, dan rumah mereka yang berdekatan\, membuat perasaan mereka tumbuh menjadi lebih dekat. Dari sekedar teman, menjadi teman dekat, dan perasaaan cinta itu mulai tumbuh.


Disisi lain, di bagian ini kita juga akan diperlihatkan bagaimana Abim memiliki trauma yang sangat mendalam tentang kehilangan seseorang yang dikasihinya. Kehilangan yangg menghancurkan sebuah persahabatan antara Abim dan Jauzan. Tapi kehadiran Kiona perlahan mulai menjadi sisi terang dari kehidupan Abim yang terasa seperti diteror sama kesalahannya.


cons: 

Menurutku sejauh ini masih biasa aja ya. Aku udah dapat informasi tentang latar belakang Bimo, tentang bagaimana dia dekat sama Kiona. Tapi aku gak yang dibikin baper sih hehe. Gaya tulisannya rapih aja, bagus, cuma untuk aku pribadi gak cukup kuat untuk bikin aku imersif ke ceritanya sejauh ini. Alhasil aku cukup scanning bacanya.


Hlm. 144

Novel ini tuh banyak ada sisipan kata-kata kayak di buku self improvement. Dialog yang disisipi nasihat. Narasi yang disisipi kata mutiara tentang kehidupan (contoh tentang kehilangan). Kalau suka samaa cerita2 yang ada sisipan kata-kata yang bisa dikutip, ini bisa sih.


Secara personal: aku nggak terlalu cocok sama novel yang sisipan kata-kata mutiara atau nasihatnya itu kayak di'suapin'. Aku lebih suka yang grounded/membumi dan organik. Dan sejauh ini, nasihat di novel ini masih terasa di suapi meskipun tetap berhubungan dengan karakternya ya.


reading update 2

s.d halaman 177

Kiona ini karakterisasinya positif banget ya, apa ya... kayak sempurna gitu, dan seperti ibu peri. Cantik, baik, suka menolong, pintar, humble, ramah, mudah disukai, semua orang mau bercerita sama dia. Aneh kalau sampai gak suka sama Kiona.


Hubungan Abim dan Kiona terlihat gak ada masalah. Mulus, bersahabat, Abim ngasih sinyal dia suka sama Kiona. Masalahnya Abim gak pernah ngungkapin perasaaannya sama Kiona.


Ada isu mental health yang diangkat yang berkaitan sama pelecehan perempuan yang menjadi eksternal konflik untuk diatasi tokoh utamanya.


cons: 

aku kurang masuk sama karakter Kiona, mungkin karena penggambarannya terasa lagi-lagi kurang grounded yang untuk aku. Aku suka sih sama karakter2 yang sempurna, tapi aku perlu yang lebih manusiawi. Walaaupun Kiona tidak digambarkan sempurna, buat aku kenanya terlalu 'bagus', seolah-olah dia di cerita ini hanya berperan sebagai 'penyelamat' tokoh lain.  Seolah2 penulis terlalu sayang sama karakter ini sampfai aku tidak melihat tokoh ini ada kekurangan dari karakternya.


Lalu, untuk hubungannya Abim dan Kiona. Aku tahu Abim tuh suka sama Kiona, tapi ketidakjelasan Abim ini juga apa ya., kurang memberikan konflik batin yang immersive untuk aku secara personal ya. Mereka itu deket, tapi ya deket, deket aja. Kedekatan mereka juga casual, kayak deketnya orang-orang gimana aja gitu, gak yang bikin aku salting bacanya. Tapi aku paham bahwa kedekatan mereka membuat Kiona merasa Abim punya perasaan lebih dari teman padanya, hanya saja Abim itu gak ada confess sama sekali. Soalnya pedulinya Abim ke Kiona tuh lebih dari temen.


yang menarik, kedekatan mereeka yang terasa 'biasa' ini, emang beneran dianggap biasa aja sama Abim.


Maksudku, lu sedeket itu sama Kiona serius gak ada perasaan lebih selain temen?


Kasian gak sih si Kiona jadi deket atau terlalu deket sama crushnya, bisa dibilang cuma dia yang deket sama Abim, tapi dia cuma suka sepihak gini. 


hlm. 276

setelah aku ngerasa b aja selama perjalanan berbab bab, klimaksnya baru deh aku ngerasa emosional. 

Ada perasaan kayak "hahh? kok gitu sih? sakit banget, Abim" dan yup, emang penyebab sakit hati Kiona itu Abim.

Semua sinyal yang Abim kasi itu bikin Kiona berharap dia jadi orang paling spesialnya Abim. Tapi entah, aku marah banget sama Abim waktu tahu kalau pernyataan di akhir hubungan mereka seperti itu.


Tapi menarik sih, karena perasaan yang aku b aja dari awal cerita, jadi ada 'kekecewaan' dan bikin kesempurnaan karakter Kiona retak karena Kiona jadi dihancurkan sama ekspektasinya sendiri dan Abim PHP banget busetlah. Aku tahu pasti ada alasan kenapa Abim tiba-tiba bersikap sangat mengecewakan, tapi aku juga suka bagaimana penulis membuat itu sebagai sumber sakit hatinya Kiona untuk 7 tahun ke depannya. Dimana Kiona yang selama ini merasa ia dianggap spesial sama Abim, ternyata cuma dianggap sebatas teman aja. Dan Kiona harus menanggung rasa sakit hatinya bertahun2. Atas kata-kata cinta yang pada akhirnya tidak pernah ia uangkapkan kepada Abim. Atas cinta pertamanya yang ternyata menjadi luka untuknya juga.


cons:

tapi tetap saja, aku kurang merasa immersive di bab2 sebelumnya sangat berpengaruh untuk penilaianku terhadap cerita ini. Walaupun pada akahirnya itu berhasil memupuk rasa kecewa yang kurasakan di halaman klimaksnya. Mungkin ceritanya memang sengaja dibuat bertahap gini? gak tau deh.



Ending cerita: 5/5 sih. Bagus banget. Aku suka banget sama endingnya. Akhirnya aku sampai di titik "nah bikin perasaanku gini nih yang aku tunggu dari bab 1", sayang banget karena aku nggak ngerasain seemosional ini dari bab 1. Bahkan saking sukanya sama ending aku tuh hampir menetes-neteskan air mata lho.


Overall novel ini bercerita tentang pertemanan Kiona dan Abim yang sama-sama terjebak di friendzone. Hubungan mereka terasa sangat dekat, sangat spesial, tapi ternyata mereka 'cuma temen'. 


Di sisi lain, kita akan melihat bagaimana Kiona berusaha untuk menjadi orang yang bisa diandalkan untuk perempuan-perempuan yang punya masaslah mental issue karena pelecehan. 


Sedangkan Abim berjuang untuk lepas dari traumanya yang kehilangan orang tersayangnya karena bundir dan dihantui rasa bersalah selama bertahun-tahun. 


Tapi Abim dan Kiona bersama-sama melewati setiap tantangan di masa sekolah mereka bersama-sama, dengan kebiasaan, keseharian, yang semakin membuat mereka terbiasa dan menjadi sandaran bagi satu sama lain. 


cons:

kayaknya yang bikin aku sering kurang immersive ke ceritanya bisa jadi karena aku merasa ada bagian-bagian yang terasa patah gitu. Kayaak misalnya kehadiran beberapa tokoh yang dalam cerita mau dibuat 'penting' tapi eksekusinya kurang mulus. Jadi di aku jatuh nya biasa aja.


rekomendasi

Novel Dreamgaze ini akan terasa cocok untuk pembaca yang menikmati romance dengan alur yang pelan dan cenderung tenang, yang tidak terlalu bergantung pada konflik besar di awal, tetapi lebih pada kedekatan yang tumbuh secara natural dari keseharian. 


Cerita ini juga akan lebih kena untuk kamu yang suka menemukan banyak kutipan reflektif di dalam novel, terutama jika kamu menikmati narasi yang menyelipkan makna tentang kehidupan, kehilangan, dan perasaan. 


Selain itu, pembaca yang menyukai karakter dengan kepribadian hangat, suportif, dan cenderung menjadi “penyelamat” bagi orang lain kemungkinan akan merasa dekat dengan sosok Kiona.


 Novel ini juga cocok untuk kamu yang tidak masalah menjalani bagian awal cerita yang terasa biasa saja, selama di akhir kamu mendapatkan payoff emosional yang kuat, karena kekuatan utamanya memang terasa di klimaks dan penutup yang mampu membangkitkan emosi secara signifikan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Magic Of You by Johanna Lindsey (Malory-Anderson Family #4)

Review: Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990

Menyelami Seni dalam Kejiwaan pada buku "Psikologi Seni"